Dendam Si Kembar

Dendam Si Kembar
Hari yang indah bukan?


__ADS_3

Hari dimana ada kompetisi antar kelas pun telah di mulai, kini para siswa tengah berkumpul di aula untuk mendengarkan pengumuman tentang pemenang kompetisi antar kelas tersebut.


Nadira melipat kedua tangannya di dada sambil mendengarkan sambutan kepala sekolah, di depan panggung terdapat sebuah layar yang sedang menanyakan murid-murid yang ikut perlombaan.


Tiba-tiba layarnya menampilkan sebuah vidio dimana anak-anak yang menang dalam kompetisi ini mendapatkan lembar jawaban dari guru sebelum acaranya di mulai.


Guru beserta kepala sekolah panik dan langsung berniat mematikan laptopnya, sayangnya laptop itu eror dan tetap menampilkan hal itu. Murid yang ada di vidio itu kalang kabut karena merasa malu, sementara murid lain yang bekerja keras sendiri merasa sangat di kecewakan dengan apa yang telah di lakukan pihak sekolah.


Bahkan ada yang membeberkan vidio tersebut ke sosial media, membuat nama sekolah Juanda memburuk. Nadira tersenyum miring merasa rencananya berjalan dengan lancar berkat bantuan Haruto, Nadira menarik Cici agar pergi dari Aula yang mulai bising.


Ken menatap Nadira dari kejauhan, ia merasa bahwa semua ini adalah perbuatan Nadira. Namun Ken masih kurang bukti untuk menuduhnya, ia tau Nadira tidak mungkin melakukannya sendirian.


"Gue pergi dulu," Ken pergi dari teman-temannya.


Ken menarik Nadira dan membawanya ke tempat sepi, Nadira melambaikan tangan pada Cici, "Ke kantin duluan nanti aku susul."


"Iya."


Ken membawa Nadira ke taman belakang sekolah, di sana tidak ada orang sama sekali, Ken melepaskan tangan Nadira setelah berada di sana.


"Kerjaan lu?" tanya Ken.


Nadira tertawa, "Kerjaan apa?"


"Lu yang barusan buat keributan."


"Ngapain gue lakuin itu? Gak ada untungnya buat gue. Tapi gue mau sungkem sih sama orang yang barusan lakuin itu, sekolah ini emang layak dapetin itu semua, biar orang lain tau seburuk apa sekolah ini sebenarnya."


Ken terdiam, sebenarnya ia setuju dengan apa yang di ucapkan Nadira. Sesekali Ken memang muak dengan aturan tak tertulis di sekolah ini dimana hanya orang yang punya uang yang dapat berkuasa dalam segala hal.


"Udah mau nanya itu doang?" tanya Nadira memiringkan kepalanya.


"Sana pergi!"


"Dih ngusir, ya udah sampai jumpa," Nadira pergi dari sana.

__ADS_1


Nadira kembali ke Cici yang ada di kantin, "Udah pesen makanannya?"


"Belum nungguin kamu."


"Ya udah kita pesan yuk."


"Biar aku aja, kamu mau apa?"


"Yang biasa aja."


"Oke."


Beberapa saat kemudian seluruh murid di liburkan, para guru hendak mencari tahu siapa pelaku penyebar vidio tadi. Mereka mengadakan rapat mendadak, Nadira tidak takut dengan hal itu karena bukan ia yang melakukannya melainkan Haruto.


Sepulang sekolah Nadira pergi ke makam Nada, ia membeli bunga untuk Nada, "Semoga kamu tenang yah di sana, maafkan aku karena telat menyelamatkanmu. Semua balas dendam kita sudah mulai berjalan dengan lancar, aku akan membuat pria sialan itu merasakan sakit yang jauh lebih menderita darimu."


Tiba-tiba Angel dan Gilang datang juga ke sana, mereka langsung merangkul Nadira lalu mengelus pundak Nadira, "Mereka harus mendapatkan hukuman yang berat," ucap Angel.


Nadira tersenyum saat melihat Angel dan Gilang ada di sebelahnya, mereka adalah teman terbaik yang ia miliki sejak dulu.


"Makan yuk, udah lama kita gak jalan bareng," ajak Angel.


"Yuk gue juga lapar," setuju Nadira.


Ketiganya segera mencari tempat makan terdekat, mereka ingin melepas rindu setelah beberapa hari tidak bertemu. Beberapa saat kemudian makanan mereka telah datang di meja, "Nanti malam ikut gue ke klub yuk," ajak Nadira.


"Boleh, udah lama juga kita gak ke sana," setuju Gilang.


"Tapi gue bukan mau main di sana, ada hal yang harus gue lakuin nanti malam."


"Siap, kita mah ngikut aja apapun yang mau lu lakuin," ujar Angel dengan semangat.


"Oke, nanti gue jelasin apa yang harus kalian lakuin. Sekarang mah makan aja dulu, ntar pulangnya ke apartemen gue."


"Siap bos," balas keduanya berbarengan.

__ADS_1


Di tempat lain Andri lagi-lagi dapat kiriman anak kucing yang sudah mati dengan seluruh organ dalamnya keluar, di dalamnya terdapat sebuah foto kakaknya dan juga ibunya yang di beri tanda silang.


Di belakang foto itu juga terdapat tulisan, "Mereka akan menerima semua karma mu juga."


Andri melempar kotak itu ke luar rumahnya, ia segera menelpon teman-temannya untuk membicarakan hal ini. Ia ingin mencari siapa yang melakukan ini padanya, sebelum pergi ia meminta ibunya untuk diam di rumah dan jangan buka pintu ketika ada orang yang datang selain dirinya.


Setelah itu ia pergi ke markas, beberapa saat kemudian sampailah dia di markasnya di sama baru ada Ken yang tengah tiduran menutup wajahnya dengan buku, "Bangun," Andri menepuk kaki Ken, Ken bangun dan terduduk.


Andri duduk di sebelah Ken, "Ada apa lagi sih?" tanya Ken.


Tiba-tiba Matt dan Justin datang bersamaan, mereka langsung duduk di kursi juga.


"Iya ada apaan sih? Gue baru bangun langsung otw ke sini akibat lu bilang gawat," tanya Matt sembari menguap.


Andri langsung memperlihatkan foto kotak tadi beserta tulisannya, "Gue mau cari orang ini, gimana kalau apa yang ia tulis di sini emang bener."


"Ternyata masih tentang teror itu, kan kita udah bilang palingan itu cuman iseng aja," Matt masih tidak percaya dengan ancaman seperti itu.


"Apaan sih lu Matt, ya apa salahnya kalau kita cari," Andri malah merasa kalau ini benar-benar ancaman yang tidak main-main.


"Gak guna tau gak buang-buang waktu aja, nanti juga palingan cuman tetangga lu yang iseng," kekeh Matt.


Andri bangkit dari duduknya lalu menarik kerah baju Matt, "Lu gak bakalan ngerasain apa yang gue rasain karena lu gak ada di posisi gue, gue harap lu juga ngalamin hal ini dan lu bakalan tau sepanik apa lu nanti," tegas Andri.


"Udah jangan malah pada berantem, kita cari aja buat jaga-jaga," ujar Justin melerai keributan mereka berdua.


"Gue setuju sih sama Justin, kita harus cari tahu," timpa Ken yang sedari tadi terlihat santai.


Andri melepas tarikan baju Matt, "Gue sumpahin lu ngalamin nya juga."


"Sumpahin aja, gue gak bakalan takut juga kok. Pengawal di rumah gue banyak, orang yang berani macam-macam sama gue bakalan mati duluan di bunuh mereka," balas Matt dengan bangganya.


Keluarga Matt memang cukup kaya raya dan di rumahnya banyak pengawal untuk menjaga rumah dan keluarganya.


"Sialan," umpat Andri kesal dengan kesombongan Matt.

__ADS_1


__ADS_2