Dendam Si Kembar

Dendam Si Kembar
Semakin banyak teror


__ADS_3

Saat jam istirahat Andri dan yang lainnya memutuskan mengobrol di atap sekolah, Andri terlihat tegang dan panik.


"Lu kenapa sih?" tanya Matt yang melihat wajah Andri berbeda hari ini.


"Iya kek banyak pikiran banget kayaknya," tambah Justin ikut merasa Andri aneh.


"Kalian gak takut gitu kalau Nadira ternyata adalah penyebab dibalik kebakaran rumah Kristin?" Tanya Andri menatap keduanya bergantian.


Matt tertawa sambil memukul paha Justin pelan, "Eh bocah ingusan kayak dia mana mungkin bisa lakuin itu, lagian polisi udah bilang kalau kejadian itu adalah pencuri dan si Nadira bebas dari tuduhan," Matt merasa itu tidak mungkin.


"Matt bener sih, mana mungkin Nadira bisa lakuin itu," timpa Justin setuju.


"Tapi semalam gue di kirimin lagi sesuatu sama orang yang mungkin kirim bunga kemarin," Justin mengeluarkan ponselnya untuk memperlihatkan foto pada mereka.


Ken di sana hanya diam sambil ikut mendengarkan pembicaraan mereka.


"Paket apa sih?" tanya Matt mengambil ponsel Andri.


Jadi semalam ada orang yang mengirim paket ke rumah Andri, isi paket itu adalah bangkai kelinci yang masih segar. Itu membuatnya dan seluruh orang rumah takut, tapi Andri menenangkan mereka dan mengatakan mungkin itu adalah paket iseng saja. Padahal sebenarnya ia juga panik dan ketakutan sekarang, ia tidak tau siapa yang melakukan itu padanya.


"Jam berapa paket ini datang?" tanya Justin.


"Barengan dengan kebakaran nya rumah Kristin."


"Jadi gak mungkin Nadira dong yang lakuin ini? Orang dia ada di saat kebakaran itu."


"Tapi bisa nyuruh orang juga kan," timpa Ken dengan santainya.


"Tapi lu percaya gak kalau Nadira bisa lakuin hal segila ini?" Matt menatap Ken yang sedang tiduran.


"Entahlah gue gak tau, tapi kalau dia sendirian sih gak mungkin bisa," balasnya dengan santai.


"Ken lu gak takut apa kalau emang beneran Nadira mau balas dendam sama kita?" tanya Andri kesal karena sikap Ken terlalu santai dari kemarin.


"Emang gue ada salah yah sama Nada? Gue gak ngelakuin apa-apa sama dia."


"Tapi lu tetep aja awalnya setuju kalau taruhan sama Nada, berarti lu juga salah."


"Udah jangan ribut, kita liat aja kalau emang Nadira mau balas dendam, kita lihat sejauh mana dia bisa berjalan," Justin melerai keributan Matt dan Ken.

__ADS_1


Sementara itu Nadira sedang makan di kantin dengan Cici, Cici menyuapi Nadia karena tangannya Nadira masih terasa sakit.


"Kalau boleh tau kamu tinggal sama Kristin?" tanya Cici.


"Iya, baru kemarin sih. Soalnya aku juga pengen deket sama keluarga Nada," balas Nadira.


"Kamu gak di apa-apain mereka kan? Soalnya dulu Nada sering kali di perlakukan tidak adil sama mereka. Nada walaupun tinggal sama orang kaya ia harus tetap cari uang karena Nada gak pernah di kasih uang sama mereka, aku suka sedih kalau denger cerita dia."


Nadira tersenyum lalu mengelus pundak Cici, "Makasih yah."


"Makasih buat apa?"


"Makasih karena kamu mau nemenin Nada dan jadi temannya, maafin Nada juga kalau akhir-akhir kemarin dia ngejauhin kamu demi cowok brengsek itu."


"Kamu tau masalah itu?"


"Yah, makannya aku benci cinta. Cinta bisa membuat siapapun lemah begitupun Nada, jika saja dia tidak terjerat akan cinta itu maka dia tidak akan melakukannya," gumam Nadira yang kesal dengan keputusan Nada mencintai pria sialan.


"Tapi ku beritahu sesuatu, cinta tidak pernah salah sebenarnya. Terkadang orangnya saja yang terlalu lemah menghadapi cinta itu."


"Yah kau benar, dan aku sekarang masih terlalu lemah untuk menanggung rasa cinta. Makannya aku lebih sering menghindarinya."


Mereka berdua merasa sangat kehilangan atas kepergian Kristin, Kristin temannya sejak SMP.


"Ngapain aku lakuin itu? Kalian gak bisa liat tanganku aja kebakar," balas Nadira.


"Jangan banyak alasan deh, pasti gara-gara kamu," bentak Celine.


"Terus kalian mau apa? Mau marah? Polisi aja udah bilang kalau itu adalah kasus pencurian."


"Sialan, pokoknya kita bakalan cari tahu kalau itu adalah perbuatan kamu," Celine dan Ayu meninggalkan Nadira.


"Mereka aneh, emangnya harus bakar rumah? Mana bisa juga aku lakuin itu."


"Mereka emang kayak gitu, pasti ngerasa kehilangan banget, tapi mau gimana lagi Kristin udah gak ada sekarang."


"Iya, malang sekali nasibnya," Nadira tersenyum miring.


"Besok aja perlombaan antar kelas mau ikutan?" tanya Cici.

__ADS_1


"Enggak, yang menang pasti orang kayanya aja," balas Nadira.


"Kok kamu tau sih tentang itu juga?"


"Tau lah."


"Tau darimana?"


"Sekolah ini emang gitu kan dari dulu," Nadira juga di beritahu kalau Nada pernah beberapa kali ikut lomba antar kelas ini namun tidak pernah menang, Nada selalu kalau oleh orang yang padahal dirinya tidak pintar-pintar amat.


Nada selalu ikut lomba matematika, tapi tidak pernah menang. Para orang tua murid yang punya uang lebih sering kali menyuap guru agar anak mereka selalu menang, tidak hanya itu mereka juga sering kali dapat lembar jawaban saat sedang ujian sekolah atupun ulangan harian.


"Gak kerasa bentar lagi naik kelas," gumam Cici yang tidak sabar ingin naik kelas.


Nadia tersenyum menatap Cici, "Yah aku juga sudah tidak sabar."


"Tinggal dua bulan lagi, pokoknya kita harus satu kelas lagi yah."


"Oke."


Bel pertanda masuk kelas telah berbunyi, murid mulai masuk ke kelasnya masing-masing. Nadira pamit ke toilet dulu untuk cuci muka, sementara Cici ke kelas duluan. Di toilet Nadira memandangi pantulan dirinya di cermin, "Kayaknya udah beres deh," Nadira mengeluarkan ponselnya, ia menelpon Haruto.


"Om seluruh kamera pengawas di sini udah di retas kan?"


"Sudah, ini saya sedang melihat kamu di toilet. Mengapa di jam segini kau di toilet bukannya harus nya masuk? Barusan kan Bel."


Nadira mencari dimana letak kamera pengawas di toilet itu, setelah menemukannya ia pun tersenyum dan dadah-dadah, "Cuman mau memastikan aja Om, ya udah Nadira ke kelas dulu. Nanti Nadira telpon lagi," Nadira mematikan sambungan telponnya lalu berlari kecil ke kelas.


Di jalan dia bertabrakan dengan Ken, minuman yang Ken pegang tumpah mengenai sepatu Nadira.


"Sialan," kesal Nadira menatap sepatunya yang kotor.


"Makannya kalau jalan tuh yang bener," bentak Matt.


Nadira seketika menatap Matt, "Sorry," ucapnya langsung pergi dari hadapan mereka.


"Sialan cuman gitu doang? Hey-" Ucapan Matt di tahan oleh Ken.


"Udah biarin aja," potong Ken.

__ADS_1


Nadira sampai di kelas, ia duduk di kursinya lalu mengambil tisu dari tasnya karena ia harus membersihkan sepatunya yang kotor terkena jus Mangga milik Ken.


__ADS_2