
Malam pun tiba, Nadira tampil menggunakan dress berwarna merah pendek, ia akan pergi ke klub bersama Angel dan Gilang.
Ketiganya telah sampai di sebuah klub perkumpulan anak-anak sekolah kaya raya menghabiskan dunia malamnya. Klub ini milik pengusaha kaya raya jadi dia bahkan dapat membayar polisi agar klubnya tidak di gusur.
Nadira menjadi pusat perhatian banyak orang di sana, Matt yang tengah berada di sana terkaget-kaget melihat Nadira yang datang ke tempat tersebut, Matt tersenyum miring sambil berjalan menghampiri Nadira.
"Woy You sexy," ujar Matt sambil menatap mesum pada Nadira.
"You Like me?" Bisik Nadira yang mampu membuat bulu tengkuk nya merinding.
"Ikut gue," Matt menarik Nadira menuju mejanya, ia ingin memperkenalkan Nadira pada teman-teman anak ayahnya.
"Langsung nyangkut yah," Angel menggelengkan kepalanya.
"Emangnya ada yang dapat mengalahkan pesona Nadira, gak ada kali," Gilang terus menatap Nadira dari kejauhan.
"Bisa aja lu, udah ayok kita lakukan tugas kita," Angel mengusap wajah Gilang karena terlalu fokus pada Nadira, setelah itu ia menarik Gilang pergi dari sana karena harus melakukan tugasnya.
Angel datang menggoda seorang pria yang tengah minum sendirian, "Hay, boleh ku temani?" tanya Angel mengelus tangan pria itu dengan lembut.
"Boleh," Pria itu mulai tertarik pada Angel, tidak bisa di pungkiri Angel pun begitu cantik saat ini.
Gilang menjaga Angel dari kejauhan, takutnya Angel kewalahan dengan pria itu. Nadira sedang bersenang-senang dengan Matt, tampaknya Nadira dapat membaur dengan mereka cukup mudah.
"Lu kuat minum juga ternyata," Matt terus menatap Nadira sambil tersenyum.
"Mau adu kuat?"
"Enggak lah, gue gak terlalu kuat kalau minum."
"Lemah," Nadira memukul pelan lengan Matt.
"Eh soal di sekolah sorry yah, gue kira lu orangnya gak seasik ini. Tau gitu gue teminin lu sejak pertama masuk sekolah."
__ADS_1
"Gak papah kok."
Mereka berdua menghabiskan waktu beberapa jam, sampai akhirnya Angel memberi kode bahwa tugasnya telah selesai, setelah melihat ponsel Nadira bangkit dari duduknya, "Sorry yah, gue harus pulang duluan. Nyokap gue minta gue jemput dia," pamit Nadira.
"Bay, sampai jumpa besok di sekolah," Matt melambaikan tangan pada Nadira.
Wanita itu keluar dari klub lalu masuk ke mobilnya, ia beda mobil dengan Angel dan Gilang. Mereka masing-masing membawa satu mobil dan di mobil Gilang terdapat pria tadi yang di goda Angel.
Di jalan mereka bergantian pakaian, dimana Gilang menyamar sebagai pria yang di bawa dari klub tadi. Gilang masuk ke mobil Angel sementara pria tadi di bawa pergi oleh Nadira entah kemana, Gilang dan Angel pergi ke hotel untuk membuat alibi ketika nanti di tanya polisi.
Nadira membawa pria itu ke villa, Villa milik ayahnya yang berada jauh dari perkotaan. Nadira menurunkan pria itu dari mobil di bantu Haruto, Haruto telah menunggunya datang di sana.
Sementara itu Gilang yang menyamar kembali keluar dari hotel, Gilang memakai topeng silikon yang di buat Nadira.
Kembali ke villa, Nadira mengikat pria itu pada kursi tua. Pria ini adalah kakaknya Andri, "Bangun," Nadira menampar pria itu satu kali agar bangun.
Pria tadi masih pingsan akibat minum alkohol, Nadira mengguyur pria itu agar bangun lebih cepat. Pria itu pun terbangun dengan keadaan masih setengah sadar. Haruto menyuntikkan sesuatu ke tubuh pria itu agar pria tersebut tersadar dengan cepat dari efek alkoholnya.
"Siapa kalian?" tanya pria itu setelah benar-benar tidak terpengaruh Alkohol.
______________
Paginya Seluruh media di hebohkan dengan penemuan mayat di depan rumah Andri, polisi langsung mengevakuasi tempat itu agar mendapatkan sebuah bukti, sayangnya seluruh kamera pengawas di tempat itu hancur. Kemungkinan di tembak atau di lempar batu.
Andri dan keluarganya merasa sangat terpukul akan hal itu, Andri semakin sadar kalau ini bukan lagi teror iseng semata. Ibunya Andri menangis penuh kesedihan dan trauma melihat anaknya sendiri mati di teras rumahnya.
Siangnya beberapa murid dari sekolah Juanda melongok Andri, teman-temannya juga ada di sana. Nadira dan Cici ikut datang walaupun Andri bukan teman kelasnya, saat melihat Nadira. Andri tiba-tiba marah besar karena ia menganggap ini adalah kerjaan Nadira balas dendam.
"Lu elu pasti orang yang udah lakuin ini kan sama keluarga gue, lu harus tanggung jawab," bentak Andri dengan marah sambil mencekik Nadira.
Matt menarik tangan Andri agar melepaskan Nadira, "Gue tau lu lagi sedih dan berduka, tapi lu gak bisa seenaknya nuduh orang kayak gitu," bentak Matt tidak Terima.
Nadira berusaha bernafas lagi setelah tadi hampir mati di cekik Andri.
__ADS_1
"Oh lu belain dia sekarang? Lu temen siapa sih?" tanya Andri marah-marah.
"Semalam Nadira sama gue di klub jadi gak mungkin dia lakuin ini sama lu, lagian lu liat gak tadi polisi ngasih bukti kalau orang yang keluar sama kakak lu itu bukan Nadira."
"Sialan, pokoknya gue bakalan cari siapa yang udah lakuin ini sama gue," Andri pergi dari sana.
Matt segera berbalik untuk memastikan keadaan Nadira, "Gak papah kan?" tanyanya.
"Gak papah, makasih udah bantuin. Tapi gue beneran gak tau apapun soal ini, gue semalam beneran ke bandara kok," Nadira pura-pura menangis.
"Udah, lagian polisi lagi cari tahu siapa dalang nya. Jadi lu tenang aja pasti segera ketangkap orang itu."
Ken dan Justin memandangi keduanya dari jauh, "Kok mereka akrab?" tanya Justin heran.
"Entahlah, gue pusing," Ken memilih untuk tidak peduli.
"Jadi ancaman itu bener?" tanya Justin yang ikut duduk di sebelah Ken.
"Yah seperti yang lu liat aja."
"Jangan bilang nanti nyokap Andri kenapa-napa, kan di fotonya ada nyokapnya juga."
"Gue gak tau pusing mikirin nya," Ken mengurut keningnya sendiri merasa sangat pusing.
Ibunya Andri tiba-tiba drop, penyakit jantungnya kembali kambuh dan ia kehilangan kesadarannya sekarang. Andri di bantu yang lain langsung membawa ibunya ke rumah sakit, siapa yang tidak syok melihat anak mati dengan keadaan yang tidak wajar.
"Si Andri punya musuh siapa sih? Kok bisa-bisanya ada yang sampai berbuat kayak gini sama dia," ujar Matt pada Ken.
"Gue juga gak ngerti," balas Justin ikutan bingung.
"Tapi kasian dia sekarang, pasti lagi drop banget," timpa Ken.
"Yah pastilah, gue bakalan bantuin buat cari tau siapa pelakunya deh. Nanti nyuruh anak buah bokap gue, kadang polisi agak kurang bener kerjanya," timpa Matt.
__ADS_1
"Nah boleh juga tuh."
Di mobil Nadira sedang tersenyum bahagia semuanya berjalan dengan lancar.