Dendam Si Kembar

Dendam Si Kembar
Aku akan membalasnya


__ADS_3

Bukannya meminta untuk turun semua murid malah berseru meminta Nada untuk segera lompat, Nada menatap ke arah langit.


"Tuhan aku sudah mampu menahan semuanya, aku akui aku kalah. Aku kalah dengan semua yang ada di dunia ini, aku memilih untuk pulang saja," Nada melompat dari jembatan itu yang membuat semua orang terkaget.


"Sialan dia beneran lompat," Kristin langsung menatap ke arah bawah jembatan yang terdapat sungai yang deras.


Dari kejauhan Nadira, Ken, Angel dan Gilang menyaksikan hal tersebut, tidak ada yang kaget saat melihat itu, Nadira dapat melihat wajah Nada yang ia yakini kalau dia adalah kembarannya. Wajahnya begitu mirip dengannya, mereka hanya telat beberapa detik saja.


Andai Mereka tidak telat mungkin Nada tidak akan lompat, tubuh Nadira lemah.


"Cepat panggil ambulan dan tim SAR," ujar Nadira yang langsung di laksanakan oleh Gilang.


Ken tidak percaya dengan apa yang barusan ia liat, Tiba-tiba Matt, Justin dan Andri juga datang ke sana untuk melihat apa yang tengah terjadi. Mereka tidak percaya saat Nada berani lompat, namun anehnya Matt dan yang lainnya tidak merasa bersalah sedikit pun.


Angel membawa Nadira ke tempat duduk, Nadira menangis ia tidak percaya kalau ia malah harus melihat kembarannya mati di depan matanya sendiri. Nadira dapat melihat begitu banyak penderitaan dari wajah Nada.


"Sejahat apa dunia padanya sampai dia malah melakukan hal itu," ucapnya sambil menangis.


Ini adalah kali pertama-nya Angel melihat sisi lain dari Nadira, Angel memeluk Nadira dengan erat. Melihat Nadira sedih membuatnya ikut menangis dan merasakan apa yang Nadira rasakan.


"Kita urus semuanya sampai tuntas."


"Aku akan membunuh mereka yang telah melakukan ini padanya."


"Tenang dulu."


Gilang yang melihat itu ikutan sedih, ia membayangkan apa yang Nadira rasakan. Selama ini Nadira dengan semangat ingin mencari kembarannya, tapi kini ia harus melihat kembarannya mati bunuh diri karena kekejaman orang-orang.


"Orang-orang sialan kenapa mereka malah menantangnya lompat daripada menolongnya," Nadira sempat ingin marah pada semua orang.


Angel menarik tangan Nadira, "Jangan sekarang gue mohon jangan sekarang, tenang dulu yah."


Nadira menuruti permintaan Angel, ia kembali duduk di kursi sambil menangis. Beberapa saat kemudian tim SAR dan polisi sudah menemukan tubuh Nada, tubuh wanita itu di bawa ke rumah sakit untuk di otopsi.


____________


Beberapa minggu setelah kejadian tersebut. Semua orang seakan tidak peduli dan tidak merasa bersalah atas kepergian Nada, mereka yang terlibat menganggap semua kejadian itu hanya angin lalu.


Uang yang berbicara, polisi menutup kejadian ini tanpa kelanjutan apapun karena mereka tampaknya di bayar oleh sebagian orang yang telah melakukan perundungan pada Nada.


Nadira berdiri di atas makan Nada bersama Angel dan Gilang, setiap pulang sekolah Nadira selalu menyempatkan berkunjung ke sana.

__ADS_1


"Besok adalah hari pertama gue pindah," ujar Nadira.


"Lu yakin gak mau kita ikutan pindah ke sekolah itu?" tanya Gilang.


"Gue bisa selesaikan semuanya sendiri, nanti kalau gue butuh apa-apa pasti gue ngomong sama kalian," jelas Nadira.


"Oke kalau itu mau lu."


"Mereka harus mendapatkan balasan yang setimpal," ujar Nadira dengan sungguh-sungguh.


Jadi selama beberapa hari kemarin Nadira mencari tahu bagaimana kehidupan Nada dulu saat sekolah dan apa alasan Nada melakukan hal ini, Nadira mendapatkan informasi dari beberapa murid yang sekolah yang sama dengan Nada.


Namun yang mencari tahunya adalah Gilang dan Angel, ia hanya menerima infomasi saja. Mereka pergi dari pemakaman umum untuk mempersiapkan semuanya, "Karena sekolahnya jauh, gue bakalan tinggal di apartemen deket sekolahnya," ujar Nadira di mobil.


"Nyokap bokap lu gimana? Mereka setuju?" tanya Angel.


"Mereka setuju-setuju aja."


Sampailah mereka di rumah Nadira, mereka segera masuk ke kamar Nadira, "Jadi ini rekaman Nada yang tidur sama pacar nya itu?" tanya Angel.


"Yah," balas Nadira yang sedang membereskan baju ke dalam koper di bantu oleh Gilang.


"Gila gue pen banget potong alat kelaminnya terus gue gantung di monas," Angel terlihat begitu kesal.


"Gue percaya sama lu, tapi kalau lagi senang-senang jangan lupa ajak gue juga," timpa Gilang.


Nadira menepuk pundak Gilang, "Tenang aja, nanti akan ada permainan yang indah untuk kalian."


Pintu kamar Nadira di ketuk, "Masuk gak di kunci kok," teriak Nadira.


Haruto masuk ke kamar itu, "Kamu yakin mau lakuin semuanya sendiri aja?"


"Aku yakin, akan jadi permainan yang indah kayaknya," balas Nadira tanpa keraguan.


"Tapi jika nanti kau butuh bantuan jangan segan-segan untuk menghubungiku, akan ku lakukan apapun untukmu."


Nadira menghampiri Haruto, "Tenang, aku sudah bukan gadis kecil lagi. Aku tau apa yang sedang ingin aku lakukan."


"Ini untukmu," Haruto memberikan sebuah koper kecil pada Nadira, Nadira mengambil koper itu sambil tersenyum.


"Aku akan menyimpannya dengan baik."

__ADS_1


"Ini kunci apartemen, tinggal di sana agar kau masih dalam pengawasan ku."


"Baik akan ku lakukan," Nadira juga mengambil kunci Apartemen itu.


"Ya sudah saya pergi dulu," Haruto pergi dari sana sambil kembali menutup pintu kamar itu.


"Ah...... Gantengnya," Angel terpesona dengan ketampanan Haruto.


"Ganteng sih, cuman gak mau nikah," Nadira duduk di kasur menyimpan koper di lantai.


"Sayang banget, padahal kalau punya anak pasti ganteng atau cantik. Sama gue aja mau gak dia," canda Angel tertawa.


"Masa sama om-om?" tanya Gilang.


"Gak papah kalau om-om nya ganteng mah," timpa Angel berbinar-binar membayangkan Haruto.


"Jangan gatel," Ujar Gilang sambil mengusap wajah Nadira.


"Yeh biarin, gue mah gatel nya sama orang keren."


"Eh itu apa?" Gilang menunjuk koper yang tadi di berikan Haruto pada Nadira.


"Adalah sesuatu," balas Nadira.


"Barang rahasia, lu gak usah mau tau," Angel memukul Gilang.


"Makan yuk lapar," Nadira mengajak mereka makan siang.


"Kebetulan banget gue juga lapar," Gilang bersemangat.


"Giliran makan aja lu seneng," timpa Angel.


"Lu juga seneng kan?" tanya Gilang menatap Angel.


"Iya sih."


Mereka langsung pergi ke ruang makan, di meja makan sudah tersedia banyak makanan yang telah siap di santap, "Emang gak pernah salah kalau numpang makan di sini," ujar Gilang kegirangan.


"Selamat makan," timpa Angel.


Ketiganya mulai makan bersama, selesai makan Nadira langsung memasukkan semua barangnya ke mobil untuk pindahan, barang-barang Nadira di masukkan ke mobil Gilang karena mobil yang akan Nadira bawa mobil sport jadi tidak cukup.

__ADS_1


Mereka langsung menuju apartemen Nadira hari ini mereka juga harus beres-beres di sana.


__ADS_2