Dendam Si Kembar

Dendam Si Kembar
Uang Tambahan


__ADS_3

Sementara itu Nadira baru selesai latihan bersama Haruto, "Untuk hari ini cukup sampai di sini," ucap Haruto sambil pergi meninggalkan Nadira di ruang latihan bawah tanah.


Nadira melepaskan sarung tangannya lalu mengelap ujung bibirnya yang berdarah akibat pukulan Haruto, "Aku belum selesai."


"Istirahat dulu, nanti kau mati aku tidak ingin ikut mati juga karena di salahkan."


Nadira mengikuti Haruto ke lantai atas untuk minum dan istirahat, seluruh baju Nadira sudah basah karena keringat.


"Sudah banyak peningkatan sekarang, tapi ingat jangan berkelahi hanya untuk hal kecil," Sebelum minum Haruto mengingat Nadira.


Nadira duduk di sebelah kursi Haruto ikut minum juga karena sudah mulai kehausan.


_____________


Paginya Nadira telah berada di sekolah tatapan tajam nya dapat mengintimidasi siapapun yang melihatnya, di sekolahnya sedang ada persiapan untuk pembukaan lomba antar sekolah yang akan di adakan besok.


Angel dan Gilang datang menghampiri Nadira untuk ke kelas, "Jadi gimana besok siap-siap nyari kembaran lu?" tanya Angel tersenyum.


"HM," balas Nadira singkat.


Sampailah mereka di kelas, semua tampak hening saat mereka masuk. Beberapa murid bahkan memilih untuk keluar dari kelas, hari ini kemungkinan tidak akan belajar semuanya akan sibuk menyiapkan acara untuk besok.


Nadira menundukkan kepalanya ke atas meja ia mengantuk dan memilih untuk tidur, "Jangan ganggu gue tidur atau gue bunuh," ancam Nadira yang di anggukkan semua murid.


Angel dan Gilang memilih keluar dari kelas untuk melihat persiapan yang di adakan di lapangan dan di aula, "Sibuk sekali yah hari ini," gumam Gilang sambil merangkul Angel, mereka berdiri di depan kelas sambil menatap ke arah lapangan.


Tiba-tiba ada dua orang pria masuk ke kelas Nadira, kedua orang itu tampak akan bertengkar. Angel dan Gilang yang melihat itu langsung masuk agar meminta mereka keluar, takutnya Nadira kebangun dan mengamuk.


"Jan-" baru saja Gilang akan bicara kedua orang itu malah sudah berantem dan membuat keributan di kelas.


"Sialan," ucap salah satu orang itu sambil melemparkan buku pada yang lainnya.


Mereka adalah Denis dan Azka, yang barusan melemparkan buku adalah Denis. Azka hendak melawan Denis sambil mengangkat kursi hendak ia lemparkan pada Denis, sementara murid lain yang juga ada di sana malah panik karena Nadira mulai bangun.


Gadis itu mengangkat kepalanya lalu menendang semua meja di depannya membuat Denis dan Azka menghentikan keributan mereka, "Gue udah jangan ganggu gue tidur," Nadira menatap tajam kedua orang itu.


Mereka berdua ketakutan, satu sekolah memang sudah mengenal siapa Nadira bahkan tau bagaimana kelakuan Nadira. Namun tadi keduanya tidak sadar memasuki kelas Nadira, mereka juga tidak tau kalau Nadira sedang tidur.

__ADS_1


Nadira mengambil pensil dari saku bajunya lalu menghampiri Denis, Nadira hendak menancapkan pensil itu pada mata Denis hanya tinggal tersisa beberapa senti lagi.


"Kau tau? Aku tidak suka di ganggu saat sedang tidur. Tampaknya harusnya semua orang tau akan itu," ucap Nadira menekankan setiap katanya.


Denis membulatkan matanya dengan sempurna, "Ma-maafkan aku," pria itu gemetar ketakutan.


Nadira kini menatap Azka yang ada di sebelah Denis, "Aku akan benar-benar membunuh kalian jika sampai mengulangnya," setelah bicara Nadira langsung pergi meninggalkan kelas, rasa kantuknya sudah hilang sekarang.


Kedua pria tadi akhirnya bernafas dengan lega setelah tadi merasa sesak dan ketakutan, Nadira dulu pernah memukul seorang preman sekolah sampai koma. Itulah alasan lain mengapa Nadira di takuti, preman sekolah saja sampai meminta pindah sekolah karena ketakutan apalagi yang lainnya.


"Mau ke mana Nadira?" tanya Angel mengejar Nadira di ikuti oleh Gilang.


____________


Sementara itu di sekolah lain Nada sedang makan berdua dengan Andri di kantin. Tampaknya Nada semakin dekat dengan Andri setelah beberapa hari ini, Cici yang melihat kedekatan Andri dengan Nada sedikit tidak suka.


Karena Nada jadi tidak peduli lagi dengannya, di tempat lain Matt dan Ken juga Justin tengah mengamati pergerakan Andri dan Nada.


"Baru kali ini lu kalah," Matt malah meledek Ken yang kalah taruhan dengan Andri.


"Gue udah bilang gak minat," balas Ken dingin sembari menatap ke arah lain.


"Gue gak minat sama barang murahan, kalian aja tiduri dia gue mah enggak mau," tolak Ken.


"Oke deh."


"Jadi kapan? Gue udah gak sabar, kalau di liat-liat mulus juga kayaknya," tanya Justin.


"Sabar, kita nunggu perintah pemenang ajalah," balas Matt.


Kembali pada Cici, ia di hampiri Kristin, Ayu dan Celine temannya Kristin, "Kasihan banget yah sekarang lu udah gak bisa deket sama sahabat lu lagi? Dia lebih milih pacarnya ternyata," Kristin meledek Cici.


"Gimana sendiri lagi enak?" Ayu ikut mengompori.


"Aku gak papah kok," balas Cici menundukkan kepalanya.


Kristin mengangkat dagu Cici agar menatap ke arahnya, "Kau bilang apa? Gak papah? Tapi dari tadi liatin mereka mulu. Liatin lagi dong sekarang," Kristin mengarahkan kepala Cici ke arah Nada dengan paksa.

__ADS_1


"Lepasin," pinta Cici.


Kristin melepaskan tangannya, "Baiklah, ayo kita pergi," Kristin pergi dari sana.


Ia pergi ke toilet, tanpa di sangka ia bertemu dengan Matt di toilet, "Lagi taruhan yah?" tanya Kristin sambil menyisir rambutnya menatap pantulan dirinya di kaca.


Matt tersenyum kecil sambil mendekati Kristin, "Pintar juga kau."


Kristin tertawa kecil, "Hey aku tidak sebodoh wanita itu, aku bisa melihat nya. Andri tidak pernah mencintai Nada.


" Wanita pintar, ku beri kau sepuluh poin," Matt tersenyum sambil mengangkat tangannya.


"Jadi apa taruhannya? Tidak mungkin hanya mendekatinya saja."


Andri mendekatkan bibirnya pada telinga Kristin, "Andri harus meniduri Nada tanpa di marahi."


Kristin tertawa sambil bertepuk tangan, "Akan ku beri tambahan Hadiah jika kau mau memberikan ku Vidio saat Nada di tiduri Andri."


"Apa yang kau punya?"


Kristin mengeluarkan beberapa tumpukan uang dari tasnya, "Ini kurang?" ia memberikan uang itu pada Matt.


"Cukup, aku akan memberikan apa yang kau pinta," setelah menerima uang itu Matt keluar dari Toilet begitupun dengan Kristin.


Matt menghampiri Matt yang ada di atap sekolah tengah bersantai dengan yang lainnya, Matt meletakkan uang yang ia bawa ke atas meja membuat yang lain menatap ke arah Matt meminta kejelasan.


"Uang ini akan jadi milik Andri jika nanti kau mau membuat Vidio saat kau meniduri Nada, sebagai hadiah tambahan."


"Dari siapa dapat uang sebanyak ini?" Andri kaget.


"Tebak?"


"Gak usah gitu lah, katakan aja siapa?" Andri sangat penasaran.


"Kristin."


"Oke setuju, gue bakal bikin Vidio nanti malam."

__ADS_1


"Jadi mau nanti malam?" kaget Justin.


Kebetulan Ken tidak ada di sana, pria itu sedang latihan basket untuk perlombaan mereka.


__ADS_2