Dendam Si Kembar

Dendam Si Kembar
Justin


__ADS_3

"Lu gak usah sok sedih deh, gue tau lu bahagiakan gue menderita sekarang?" Ujar Andri menatap Nadira dengan penuh kebencian.


Nadira membalas tatapan Andri dengan tatapan hangat, "Enggak, kenapa gue harus bahagia? Gue ngerti rasanya kehilangan makannya gue ikut sedih sama lu."


"Alah alasan aja lu," Andri memalingkan tatapannya ke arah depan.


"Gue beneran, gak ada yang lebih sakit dari di tinggalin orang yang kita sayang di dunia ini, apalagi untuk selamanya."


Andri tersenyum miris, "Gue gak butuh ocehan lu."


"Sorry kalau gue emang banyak bicara, tapi satu hal yang perlu lu tau kalau gue ikut sedih atas semua yang terjadi pada lu," setelah bicara itu Nadira pergi dari sana dengan senyuman miring nya.


"Matt gue pamit pulang yah," ujar Nadira saat menghampiri Matt.


"Gue anterin, sorry jalannya gak jadi hari."


"Gak papah kok, bisa kan lain kali. Gak papah gue balik ke sekolah naik taksi aja," Nadira harus kembali ke sekolah karena mobil dan tasnya masih di sana.


"Gue anterin," kekeh Matt. "Gue cabut dulu yah, nanti balik lagi," pamit Matt.


"Oke, beli makanan Matt pulangnya," balas Justin.


"Oke."


Di perjalanan Nadira dan Matt tidak banyak bicara mereka terjebak dalam pikirannya masing-masing, sampailah di sekolah Nadira turun dari mobil Matt.


"Makasih yah udah mau nganterin," Nadira melambaikan tangannya pada Matt yang berada dalam mobil.


"Iya, gue langsung cabut yah."


"Oke."

__ADS_1


Nadira masuk ke mobilnya, ia tidak mengambil tasnya di kelas karena gerbang sekolah juga di tutup. Nadira menghubungi kedua temannya untuk datang ke apartemen ada beberapa hal yang ingin ia bicarakan, tidak lama setelah itu Nadira sampai di apartemen kedua temannya juga sudah datang.


Nadira mengambil minuman di kulkas, "Nih, gue gak punya makanan kalau mau makanan pesan aja di GO-FOOD nanti gue bayar," Nadira menyimpan minuman yang ia bawa di meja.


"Gue sih masih kenyang soalnya baru abis dari kafe," balas Gilang.


"Iya gue juga sama," setuju Angel.


"Ini uang buat kalian, makasih udah mau bantuin gue," Nadira menyimpan dua amplop coklat di meja.


"Serius buat kita?" tanya Gilang yang langsung mengambilnya.


"Iya, sebagai tanda terimakasih gue aja. Itu gak sebanding sama apa yang kalian lakuin, gue harap kalian terima uang itu."


"Kalau gue sih terima-terima aja," Angel juga mengambilnya.


Nadira memberikan mereka masing-masing 20 juta.


"Matt, gue bakal bikin dia jatuh cinta sama gue. Karena yang mulai taruhan ini adalah dia, dia juga sering sekali menyombongkan kekayaannya yang tidak seberapa itu," Nadira tersenyum miring, ia sangat membenci Matt ia ingin Matt menderita.


"Lu bakal lakuin apa sama Andri?" tanya Angel.


"Gue gak bakal bunuh dia, dia akan menderita dan menyerah dengan sendirinya."


Sementara itu Matt juga telah kembali ke rumahnya, Andri sedang tiduran di kamar tamu untuk mengistirahatkan pikirannya. Ken dan Justin juga masih berada di rumah Matt mereka sedang menjaga Andri agar tidak melakukan hal buruk pada dirinya sendiri.


"Gimana anak buah bokap lu udah dapat info gak siapa yang telah lakuin ini sama Andri?" tanya Ken penasaran.


"Belum, mereka bodoh dan bahkan dari kemarin mereka gak dapet bukti apapun. Polisi juga sama, mereka belum bisa nemuin orang di vidio tersebut," Matt menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal.


"Sialan sehebat apa sih dia sampai bisa lakuin hal serapi ini?" Ken merasa bahwa orang yang di hadapinya sekarang bukanlah orang biasa.

__ADS_1


"Gue rasa dia gak sendirian deh, soalnya kalau dia lakuin ini sendirian gak mungkin banget," Timpa Justin.


"Eh gue pulang duluan yah, ada urusan mendadak nih," Justin pamit pulang karena ada hal yang harus ia kerjakan.


"Oke, Hati-hati lu di jalan."


Kini di sana tersisa Ken dan Matt, "Lu kalau mau tidur di kamar gue aja," ujar Matt yang melihat Ken sedang tiduran di sofa.


"Enggak, di sini aja."


"Eh gue ke kamar dulu yah mau liat Andri."


Beberapa saat kemudian, Ken dan Matt kaget saat melihat berita di televisi kalau Justin terlibat kecelakaan.


"Itu Justin kan?" Ken terus memantau berita itu.


"Iya, kita ke rumah sakit sekarang, lu coba telpon Justin siapa tau mobilnya lagi di pake orang bukan dia yang kecelakaan."


Ken berusaha menghubungi Justin namun tidak ada jawaban, kecelakaan itu di duga karena rem blong.


"Ah sialan ke rumah sakit aja kita cari dia," Matt langsung hendak pergi ke rumah sakit untuk memastikannya.


___________


Sampainya di rumah sakit ia benar-benar menemukan Justin di ruang UGD, "Padahal tadi mobilnya baik-baik aja kenapa sekarang tiba-tiba rem blong," Ken benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Justin.


"Iya padahal tadi yang bawa mobil dari sekolah kan elu yah. Jangan bilang ada yang sengaja lakuin ini?"


"Apa jangan-jangan ada yang lakuin itu pas di rumah lu tadi."


"Gak mungkin dong kan banyak pengawalnya, pasti ketahuan kalau ada yang lakuin itu."

__ADS_1


"Iya juga sih."


__ADS_2