
Nadira telah sampai di kelasnya, Kristin dan seisi kelas merasa aneh mengapa Nadira malah biasa saja dan tidak langsung di keluarkan dari sekolah setelah perbuatannya.
Andri masuk ke kelas itu, Matt dan Ken yang melihat Andri sedikit bingung mengapa dia malah menghampiri Nadira. Andri menarik tangan Nadira sampai wanita itu berdiri, Nadira menatap Andri, "Ada apa lagi?" tanyanya.
"Jangan macam-macam sama keluarga gue, sampai lu berbuat macam-macam sama mereka gue gak akan segan-segan bunuh lu. Jangan sok jagoan deh lu cuman wanita biasa yang sok jagoan."
Nadira tertawa, "Lalu setelah semua yang lu lakuin sama Nada gue harus diem aja? Cuman keluarga lu gitu yang gak boleh di apa-apain?" tanya Nadira menaikkan satu alisnya.
"Jangan macam-macam."
Nadira mengelus lengan Andri sambil tersenyum, "Tenang aja, gue kan cuman wanita yang sok jagoan kata lu. Jadi ngapain mesti takut dan matah-marah, emangnya gue ngapain? Gue gak ngapa-ngapain juga."
"Lu kan yang ngirim bunga ke rumah gue?"
"Ngapain gak ada kerjaan banget ngirim bunga ke rumah lu, emangnya lu siapa harus gue kirim bunga? Aktor terkenal?"
"Sialan," Andri hendak menampar Nadira namun Ken datang dan menarik Andri untuk pergi dari sana, Matt ikut pergi dengan mereka.
Ketiganya pergi ke atap sekolah untuk sekedar menenangkan diri, "Kenapa sih? Emangnya ada apa sampai lu marah sama Nadira?" tanya Matt.
Andri langsung menceritakan semua yang tadi ia lakukan pada mereka berdua, "Udahlah palingan juga itu ancaman bocah kalau pun emang si Nadira yang ngirim," Matt menganggap itu hanya ancaman saja.
"Iya juga sih? Mana mungkin cewek lemah kayak gitu bisa ngelakuin itu," Andri akhirnya dapat berpikir jernih.
"Tapi menurut gue itu bukan hal yang gak mungkin sih kalau tuh anak orangnya," timpa Ken yang membuat keduanya kembali bingung.
"Maksudnya?" tanya Matt.
"Gue ngerasa dia mampu deh ngelakuin itu," ujar Ken lagi.
"Iya kenapa dia bisa ngelakuin itu? Palingan juga dia cuman sok jagoan aja. Di hajar juga babak belur palingan," Matt malah menganggap Nadira remeh.
"Oke kita liat aja nanti," ujar Ken.
Kembali ke kelas karena masalah tadi jam pertama kosong, Kristin tampak diam saja ia senang karena nanti pulang sekolah ia akan dapat menyingkirkan Nadira, "Pokoknya lu bakalan mati nanti, siapa suruh sok jagoan," gumam Kristin dalam hatinya.
Nadira masih di mejanya, "Kamu beneran gak di keluarin dari sekolah?" tanya Cici.
"Enggak, buktinya masih di sini."
"Iya sih."
__ADS_1
"Ke kantin yuk lapar," ajak Nadira, mereka berdua pun pergi ke kantin.
"Eh lu ngapain senyum-senyum sendiri?" tanya Celine sambil menyenggol lengan Kristin.
"Pokoknya hari ini gue bahagia sekali," Kristin tersenyum lagi.
"Nanti lama-lama senyum sendiri mulu gila lu," timpa Ayu.
"Enggak lah."
_____________
Sepulang sekolah Kristin kembali satu mobil dengan Nadira, di perjalan tiba-tiba mobilnya mogok.
"Lah kok berhenti sih?" tanya Nadira menatap Kristin yang sedang menyetir mobil.
"Kayaknya mogok deh, cek dulu coba," ujar Kristin turun dari mobil.
Jalan itu lumayan sepi tidak banyak yang lewat ke jalan ini, Nadira ikut turun dari mobil. Saat hendak menghampiri Kristin tiba-tiba ada seorang pria yang menendang Nadira sampai wanita itu terjatuh ke tanah, Kristin yang melihat itu malah tersenyum karena ini adalah rencanannya.
Andin keluar dari mobilnya untuk ikut menyaksikan kematian Nadira, Nadira yang terjatuh di kerumuni 5 preman yang bertubuh besar. Nadira tersenyum sinis dan kembali berdiri, saat Nadira hendak menyerang mereka tiba-tiba Haruto datang menghampiri mereka.
"Kalian ini mati atau turuti permintaan ku?" tanya Haruto dengan tegas.
Nadira menatap Haruto dengan kesal, "Om kenapa muncul sih? Aku bisa bunuh mereka semua sendirian."
"Jika sampai kamu terluka maka nyawa saya yang akan melayang, jadi untuk itu saya harus melakukan ini," balas Haruto.
Kristin dan Andin malah keheranan, "Hey serang mereka! Kalian udah saya bayar," bentak Andin.
Salah satu preman mengeluarkan uang dari sakunya, "Kami kembalikan," lalu ia lempar ke arah Andin.
"Tidak bisa begitu, kalian harus-"
"Kami masih ingin hidup."
"Tapi-"
Andin dan Kristin hendak kabur, mereka segera masuk ke mobil yang di bawa Andin. Haruto dengan cepat menembak ban mobil nya agar mobil tersebut tidak jalan, "Sekarang tugas mu," ujar Haruto menatap Nadira.
"Ah baiklah."
__ADS_1
"Bawa mereka masuk ke mobil itu," Nadira meminta preman tadi membantunya menarik paksa Andin dan Kristin agar mau masuk ke mobil yang tadi ia pakai.
Mobil tadi juga sebenarnya tidak mati, Kristin pura-pura saja agar Nadira mau keluar.
"Om semua kemera pengawas yang ada di jalan ini tolong di sadap yah."
"Baik."
"Kalau begitu aku pergi dulu, ada mainan yang harus ku mainkan. Nanti malam bisa bantu aku? Kalau bisa datang ke rumah ini jangan lupa bawa yang lainnya juga."
"Oke."
Nadira pergi menaiki mobil tersebut, sementara kelima preman itu di tembak bius oleh Haruto saat mereka hendak pergi. Haruto tidak mau jika ada yang bocor, untuk itu ia harus meleyapkan mereka semua agar tidak ada yang tau tentang hal ini. Haruto menelpon anak buahnya yang lain untuk membawa kelima preman itu, sedangkan di dalam mobil Andin dan Kristin berontak ingin keluar.
"Lepasin!" teriak Andin berusaha melepas ikatan tangannya.
"Kalian saya kasih kebebasan malah tidak tau diri. Saya tidak pernah main-main dengan ancaman saya, saya juga dapat melakukan apapun yang saya inginkan," balas Nadira.
"Terkecuali lepas dari pandangan Om Haruto," tambahnya dalam hati.
"Mau apa kau pada kita?" tanya Kristin.
"Aku ingin melakukan apa yang kalian ingin lakukan juga padaku, biar adil."
"Sialan, lepasin," bentak Kristin.
Beberapa saat kemudian sampailah mereka di rumah, Nadira menarik keduanya masuk ke rumah. Setelah di dalam rumah Nadira mendorong mereka ke lantai, Nadira kemudian duduk di sofa kelelahan.
"Ah sialan kalian membuatku lelah sekali hari ini," Nadira menidurkan tubuhnya di sofa.
"Awas kau, kak Digo pasti akan membunuhmu saat melihat kita di perlakukan seperti ini," ancam Kristin.
Nadira tersenyum kecil, "Apa kalian tidak merasa ada yang aneh pada Digo?"
"Ma, mama liat kak Digo gak?" Kristin harap-harap cemas.
"Enggak, emangnya di sekolah gak ada?"
"Enggak Ma, aku gak liat kakak di sekolah. Dari semalam aku belum liat dia lagi."
"Kalian mau liat dia?" tanya Nadira memotong pembicaraan mereka berdua.
__ADS_1