Dendam Si Kembar

Dendam Si Kembar
Pekerjaan Andri


__ADS_3

Setelah menunggu cukup lama Justin di nyatakan meninggal karena kekurangan banyak darah juga benturan keras di kepalanya, Ken dan Matt benar-benar tidak menyangka dengan nasib Justin.


Andri juga datang menyusul ke rumah sakit bersama keluarga dari Justin, mereka sangat sedih dan terpukul akan hal ini.


"Jangan bilang orang ini adalah orang yang sama dengan kasus Andri," Ken semakin di buat kesal dan penasaran.


"Siapa sih dia punya masalah apa dia sama kita," Matt duduk di kursi tunggu.


"Gue sebenarnya curiga sama satu orang sih, tapi kayaknya gue harus cari tau lagi lebih dalamnya."


"Siapa yang lu curigai?"


"Adalah, nanti gue kasih tau kalau udah ada bukti yang menyudutkan dia."


__________


Hari berikutnya Andri memutuskan untuk berhenti sekolah karena ia harus cari kerja untuk mencukupi perekonomiannya, di tambah kini ia sudah tidak akan bisa bayar uang semesternya lagi. Andri sudah pergi ke beberapa kantor namun sayangnya ia sering sekali di tolak, Andri istirahat di bawah pohon buah, ia merasa sangat kelelahan saat ini.


"Ternyata cari kerja sesusah ini yah," Andri mengibas-ngibas map lamarannya karena kegerahan.


"Haus lagi," Andri meraba sakunya dan hanya mempunyai uang 100 ribu lagi, Andri pergi ke Alfamart untuk beli minum kini hidupnya benar-benar sedang berada di bawah.


Keluar dari alfamart ia segera mencari kerja ke tempat lain hingga akhirnya ia di terima di sebuah restoran, ia di pekerjakan sebagai tukang cuci piring walaupun ia terpaksa melakukan pekerjaan ini.


Hari ini dirinya langsung bekerja di sana, tanpa ada yang mengetahui ternyata Nadira adalah orang yang meminta pemilik restoran ini menerima Andri untuk bekerja di sana sebagai tukang cuci piring.


Sementara itu di sekolah Matt dan Nadira semakin dekat, mereka bahkan makan di kantin bertiga di barengi Cici. Ken di meja lain merasa kesal dengan apa yang di lakukan Matt sampai pria itu bahkan melupakannya, padahal dirinya di sekolah hanya tinggal punya Matt.


"Sialan," oceh Ken yang menegak minumannya hingga habis.


"Ken sini deh, sendirian aja lu," Panggil Matt menatap Ken.


Ken hanya menatap dingin pada Matt tanpa menjawabnya.

__ADS_1


"Dih ngambek tuh anak, eh di sana yuk. Kasian temen gue sendirian," Matt mengajak Nadira dan Cici pindah ke meja Ken.


"Yuk."


Mereka pun pindah ke sana, "Ngapain lu pada ke sini?" tanya Ken dengan wajah kesalnya.


"Udah jangan marah-marah terus," ledek Matt.


____________


Sepulang sekolah Nadira menyempatkan diri untuk ke makam Nada, di sana ia sedikit syok melihat Ken ternyata ada di sana sambil membawa buket bunga mawar putih.


Ken yang melihat Nadira datang hendak pergi. Namun keburu di tahan oleh Nadira, "Gak usah pergi kali," ujar Nadira yang berdiri di sebelah Ken.


Ken terdiam.


"Kenapa ada di sini? Nyesel udah bikin dia kayak gini?" tanya Nadira tersenyum tipis.


"Penyesalan lu sekarang gak akan ngerubah apapun."


Ken menatap Nadira dengan tatapan tajam, "Lu yang lakuin semua ini kan? Lu yang ada di balik semua masalah yang terjadi akhir-akhir ini?" tegas Ken.


Nadira mengerutkan keningnya, "Lu punya bukti apa gue yang lakuin semua ini?"


"Gue bakalan cari tahu, tapi kalau itu emang lu. Gue minta lu berhenti, Nada gak akan suka dengan apa yang lu lakuin sekarang, dengan lu balas dendam itu ngebuat lu sama aja kayak mereka."


Nadira tertawa sambil bertepuk tangan, "Lu gak usah sok nasehatin gue, cari aja buktinya."


"Gue bakal cari."


"Gue tunggu."


"Lo pikir gue orang bodoh apa? Dari mulai kebakarannya rumah Kristin lalu sampai kematiannya Justin kemarin itu terjadi setelah kedatangan lu, dan mereka yang mengalami musibah tuh berhubungan dengan alasan mengapa Nada bunuh diri."

__ADS_1


"Udah jangan banyak bicara, lu cari aja bukti yang menyudutkan gue di semua masalah itu. Karena polisi gak bakalan percaya kalau cuman denger ocehan lu barusan, di tambah polisi juga bisa di bayar kan? Sama seperti Matt bayar polisi untuk menutup kasus bunuh diri Nada."


Ken akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana, ia takut kepancing emosi oleh Nadira. Nadira hanya menatap kepergian Ken dengan di barengi senyuman tipisnya, "Sayangnya lu bodoh, cuman karena temen lu yang brengsek lu juga malah ikutan brengsek."


Sementara itu Andri sedang sibuk mencuci piring, "Aduh cepetan dong cuci piringnya, masa dari tadi belum selesai juga," bentak rekan kerjanya.


"Iya ini saya juga lagi berusaha buat cepet," Andri sedari tadi di bentak terus tapi ia tetap menjalankan pekerjaannya karena ia memang membutuhkan uangnya.


___________


Malamnya Andri pulang ke rumah Matt dengan keadaan yang sudah tidak karuan.


"Dapet kerjaannya?" tanya Matt.


Andri menidurkan tubuhnya di sofa, ia rasa seluruh tubuhnya pegal-pegal, "Dapet."


"Makan dulu yuk, makanannya udah mateng di meja makan."


"Iya duluan nanti gue nyusul."


"Gue mah udah makan tinggal lu."


"Oke."


Sementara itu Nadira pulang dulu ke rumahnya karena ibu dan ayahnya datang untuk menjenguknya, "Ma aku kangen," Nadira terus memeluk ibunya karena kangen.


"Anak Mama udah gede ternyata," Primily mengelus rambut Nadira ia juga mencium kening anaknya.


"Makin gede makin manja aja kamu," ujar El ayahnya Nadira.


"Biarin, jangan Papa mulu yang manja sama Mama, sekarang giliran aku."


"Yeh nih anak."

__ADS_1


__ADS_2