Dendam Si Kembar

Dendam Si Kembar
Sekolah Baru


__ADS_3

Paginya Nadira sudah memakai seragam sekolah Juanda, ia turun dari mobil sport berwarna putih miliknya, setelah itu ia berjalan memasuki sekolah untuk pergi ke ruang guru.


Selama perjalanannya ke ruang guru, semua murid yang melihat kedatangan Nadira sangat di kejutkan karena kemiripannya dengan Nada. Sekolah ini benar-benar tidak merasa bersalah sedikitpun akan kepergian Nada, para murid juga seakan-akan melupakannya.


Di tempat lain Celine terlihat berlari memasuki kelas, "Gays ada orang yang mirip banget sama Nada," ucapnya dengan wajah yang kaget.


Kristin menatap Celine lalu tertawa, "Ngomong apa sih? Emangnya semirip apa sampai buat lu kaget kek gitu," Kristin merasa Celine hanya mengada-ngada.


"Pokoknya kalian nanti harus liat cewek itu," timpa Celine yang duduk di kursinya.


"Gak papah lah, bagus kalau ada yang mirip ada mainan lagi, kelakuan sama sikapnya pasti mirip juga," timpa Matt yang sedang asik memainkan ponsel dengan kedua kaki ia angkat ke atas meja.


Bel pertanda masuk kelas berbunyi tidak lama setelah itu guru masuk ke kelas membawa seorang murid yang tak lain adalah Nadira.


"Baik anak-anak kita kedatangan tamu, dia adalah kembaran Nada, silahkan perkenalkan dirimu," ujar sang guru.


Semua murid terperanjat kaget, wajah keduanya juga sangat mirip. Hanya saja yang kali ini lebih terlihat terawat dan cara berpakaiannya sangat berbeda dengan Nada.


"Halo perkenalkan nama saya Nadira," Nadira memperkenalkan dirinya.


Matt tersenyum miring menatap ke arah Nadira, gadis itu membalas tatapan Andri.


"Baik kamu boleh duduk di kursi yang kosong," guru itu menunjuk kursi kosong di samping Cici tempat bekas Nada.


Nadira berjalan dan duduk di sana, Nadira menatap Cici yang sedang menatapnya juga, "Ada apa? Ada yang salah yah?" tanyanya.


Cici bergegas menggelengkan kepala, "Kamu mirip banget sama Nada, aku sedih kalau inget dia."


Nadira tersenyum, "Makasih yah udah jadi temen Nada selama ini."


___________


Istirahat pun tiba, Cici dan Nadira mulai dekat. Mereka kali ini bahkan akan ke kantin bareng, tiba-tiba saat bangun dari duduknya Kristin dan kedua sobatnya datang ke hadapan mereka sambil mendorong Nadira hingga membuat Nadira duduk lagi di kursinya.


"Halo murid baru," Kristin melambaikan tangannya ke arah Nadira.


Justin dan Ardi masuk ke kelas itu untuk melihat Nadira, mereka mendengar berita bahwa ada orang yang mirip dengan Nada jadi mereka ingin melihatnya. Nadira yang di kerumuni mereka hanya terdiam sambil memasang wajah datarnya.


"Wajah tanpa dosa mereka benar-benar membuatku jijik ingin sekali ku gantung kepala mereka di depan gerbang sekolah," Gumam Nadira dalam hatinya.


"Jir ternyata emang semirip itu," Ujar Andri yang malah senang, harusnya dia malu.


"Kalian gak ada niatan minta maaf gitu?" tanya Nadira tersenyum sambil mengerutkan keningnya.


"Minta maaf? Ngapain minta maaf," ledek Celine tertawa.

__ADS_1


"Ya udah," Nadira kembali berdiri dan menarik Cici dari sana ia sudah lapar ingin makan sekarang.


Cici sedari tadi hanya diam saja karena takut, saat hendak melangkah lebih jauh Nadira di tarik oleh Kristin.


"Bisa lepasin gak?" tanya Nadira berbalik lagi ke arah Kristin.


Mereka sudah di ambang pintu.


"Siapa lu nyuruh gue?" tanya Kristin dengan wajah angkuhnya.


Kristin menarik Nadira kembali masuk ke kelas sementara Nadira mendorong Cici keluar kelas, Celine menutup pintu kelas untuk menahan Nadira agar tidak kabur.


"Lo harus lakuin apa yang Nada lakuin, kita belum puas sama dia. Eh dia malah milih mati duluan," ujar Kristin yang mencoba menampar Nadira.


Nadira menahan tangan Kristin, ia membalas tamparan Kristin sampai wanita itu terjatuh. Nadira menarik leher Kristin agar kembali bangun lalu ia dorong ke arah tembok, "Gue gak mau di ganggu kalau gue lagi lapar," bentaknya.


Celine dan Ayu berusaha membantu Kristin namun serangannya dapat di hindari oleh Nadira, Nadira menendang mereka tanpa melepaskan cekikannya. Matt, Justin, Ken dan Andri yang ada di sana tidak mau membantu mereka hanya diam dan semakin menginginkan Nadira.


"Le-lepasin," Kristin sudah mulai kesusahan bernafas.


"Ah sial gue lapar banget," Nadira melepaskan tangannya lalu pergi ke luar kelas karena lapar.


Di luar Cici masih menunggunya, "Kamu gak papah?" tanya Cici sangat khawatir.


"Gak papah, yuk pergi," Nadira mengajak Cici pergi, ia tidak ingin Kristin barusan mati begitu saja.


Celine langsung menghampiri Kristin yang tersungkur di lantai dengan lemah, "Lu gak papah kan?"


"Gak papah gimana, gue hampir mati sialan. Gue bakal bikin dia nyesel karena udah lakuin ini sama gue," ucapnya kesal.


Justin menghampiri Kristin, "Kayaknya jangan terlalu main-main deh sama dia, dari tatapannya barusan gue menyadari sesuatu kalau misalkan dia sangat berbeda dengan Nada."


"Gue gak peduli, gue bakal minta orang lain buat balas kelakuan dia," kekeh Kristin penuh kekesalan.


Di kantin Nadira makan dengan lahap, "Enak juga makanan di sini," ujarnya.


"Tadi mereka gak ngapa-ngapain kamu kan?" tanya Cici.


"Tenang aja, lu liat sendirikan gue gak papah. Mereka bukan masalah besar buat gue."


"Tapi, kalau menurut aku lebih baik jangan cari masalah deh. Takutnya mereka ngelakuin sesuatu yang buruk sama kamu."


"Udahlah lupain, kita makan aja sekarang gue lapar banget."


Tanpa ada yang menyadari sedari kejauhan anak buah Haruto mengawasi sekolah ini agar tidak ada sesuatu yang terjadi pada Nadira, jika sampai Nadira kenapa-napa maka mereka akan segera bertindak.

__ADS_1


"Gue ke toilet dulu yah," Nadira pergi berlari ke toilet.


Sesampainya di sana ia langsung menelpon Haruto, "Om boleh minta tolong gak?"


"Katakan saja apa mau mu."


"Tolong selidiki ibunya Kristin, apa hal yang bisa mengancamnya. Nanti aku kirim identitas orangnya."


"Oke aku akan mencari tahunya sekarang."


"Makasih om, nanti kalau udah dapat infonya langsung telpon aku aja atau kirim lewat Email aja."


"Yah."


Nadira kembali ke kantin, di mejanya terdapat Andri yang sedang menggoda Cici. Nadira tersenyum lalu berjalan ke sana, "Bisa minggir?" tanyanya.


"Duduk di sini aja," Andri menunjuk tempat di sampingnya.


Nadira kemudian duduk di sana dan kembali makan.


"Deket sama Nada?" tanyanya tanpa rasa malu.


"Enggak, kita pisah selama ini."


"Pantesan enggak satu sekolah."


"Yah."


"Kenalin nama gue Andri mantan pacarnya Nada."


"Udah kenal."


"Oh bagus kalau udah kenal, kenal dari siapa?"


"Perlu yah gue jelasin kenal lu darimana? Pengen tahu banget?"


"Yah enggak sih."


"Ya udah gue cabut dulu yah," Andri pergi dari saat setelah merasa bahwa Nadira bukan orang yang mudah di dekati.


___________


Kristin dan Digo pulang ke rumah ia kaget saat Nadira sudah duduk di sofa nya dengan Angkuh, ibunya mereka bahkan duduk di lantai seperti sedang memohon pada wanita itu.


"Ada apa ini?" tanya Kristin bingung.

__ADS_1


"Dia wanita yang tadi di sekolah kan? Ngapain dia di sini?" tambah Digo.


__ADS_2