
Selesai makan Matt menarik Nadira ke tenga-tengah taburan bunga berbentuk love, Matt berlutut di hadapan Nadira sembari memegang sebuah buket bunga yang indah di tangannya.
"Nadira gue suka sama lu, mau kan jadi pacar gue?" ujar Matt dengan percaya diri.
Nadira tersenyum seakan memberi harapan pada Matt, namun semuanya berubah saat guratan bibir Nadira tidak menunjukkan senyuman bahagia, "Jadi lu pikir gue selama ini suka sama lu?" tanya Nadira dengan tatapan tajamnya.
Matt terdiam dirinya bingung dengan apa yang di maksud Nadira sekarang, "Maksudnya?"
Nadira menjauh dari Matt, "Gue gak mau jadi pacar lu, lebih tepatnya gak sudi. Gue gak bakalan mau pacaran sama orang yang udah bunuh adek gue sendiri."
"Gue gak bunuh Nada."
"What? Asal lu tau, dengan lu bikin taruhan sama temen-temen bodoh lu itu lu pikir lu gak bikin Nada sakit hati sampai akhirnya bunuh diri?"
Matt menghampiri Nadira, ia sudah terlanjur mencintai Nadira sekarang, "Gue harus apa biar lu maafin gue dan mau nerima gue."
Nadira tertawa meledek, "Lu pikir apa yang harus lu ganti dengan nyawa?"
"Gue bakal lakuin apapun asal lu mau maafin gue, lu mau uang berapapun bakal gue kasih buat lu."
"Uang? Uang sebanyak apa yang bisa gantiin nyawa orang? Gak semua hal tentang uang yah."
"Udah ah males, gue mau pulang," Nadira meraih tasnya lalu berjalan pergi dari sana.
Matt benar-benar merasa di campakkan dan tidak di pedulikan sekarang, ia hanya bisa menatap kepergian Nadira dari tempat ini. Nadira tiba-tiba balik lagi ke Matt, ia mengeluarkan setumpuk uang dari tasnya, "Ini buat malam ini dan bayar semuanya," setelah itu Nadira kembali pergi.
_____________
Besoknya di sekolah ramai membicarakan Matt yang di tolak oleh Nadira semalam, jadi tadi malam ada orang yang menyebarkan vidio saat Matt di tolak begitu saja oleh Nadira.
Bahkan beberapa foto saat Matt memohon terpanggang di mading, Matt yang melihat itu langsung mencari Nadira. Ia menemukan Nadira di kantin, Matt menarik tangan Nadira.
"Lu yang nyebarin vidio itu?" tanya Matt dengan kesal, di belakang Matt ada Ken yang ikut menatap Nadira.
Nadira tertawa kecil dengan wajah meledeknya, "Kasih tau sama gue untungnya apa kalau gue sebar vidio itu? Lagian semalam gue sama lu kan? Gimana caranya gue vidioin nya."
"Jangan banyak alasan, pasti ada orang lain yang lu suruh buat vidioin nya."
"Gak ada kerjaan banget gue harus mengabadikan momen itu, itu bukan momen indah buat gue yang harus banget gue abadikan."
__ADS_1
"Udah, gak ada abisnya nanti bicara sama dia," Ken mencoba menarik tangan Matt agar pergi dari sana.
"Diem gue belum selesai," balas Matt.
"Kenapa lu malu di tolak cewek? Santai aja kali cuman di tolak aja kan?" Nadira mengerutkan keningnya.
"Sialan," Karena sudah terlalu banyak orang di sana akhirnya Matt pergi di ikuti oleh Ken.
"Tenang aja kali cuman di tolak satu orang aja," teriak Nadira sambil tertawa meledek.
Matt pergi ke atap, di sana ia melempar tasnya ke kursi karena kesal ia kesal Nadira barusan telah mempermalukan dirinya begitu saja di hadapan orang-orang.
Tiba-tiba ponselnya Matt berbunyi ternyata itu telpon dari ibunya yang mengatakan bahwa ayahnya kecelakaan dan sekarang sedang di bawa ke rumah sakit, "Gue harus pergi sekarang?" Matt pergi buru-buru.
"Mau kemana lu?" tanya Ken.
"Bokap gue kecelakaan, gue harus pergi."
_____________
Malamnya Nadira kembali menemui Andri yang sedang menunggu bus, Nadira tersenyum tipis saat duduk di sebelah Andri. Andri terlihat sangat kelelahan dan kacau sekali malam ini, "Jadi orang miskin susah yah?" ujar Nadira.
"Kalau lu nyamperin cuman mau ngehina dan caci-maki gue mending gak usah, gue udah capek banget seharian ini di caci-maki."
Bus yang di tunggu pun datang, Andri segera baik bus itu meninggalkan Nadira. Nadira masih duduk di sana walaupun tidak ada orang, Nadira menghela nafasnya dengan berat lagi ia menyenderkan tubuhnya ke senderan kursi.
"Puas lu?" Tiba-tiba ada seseorang yang membuatnya kaget.
Nadira terperanjat kaget, Nadira menatap pria di depannya dengan tatapan datar.
"Puas apaan sih?" tanya Nadira dengan menampilkan wajah bingungnya.
"Puas lu udah bikin semua temen-temen gue menderita?" tanya Ken, pria itu duduk di sebelah Nadira.
"Enggak, gue gak lakuin apa-apa kok jadi kenapa gue harus puas."
"Masih mau ngelak, bokapnya Matt kecelakaan dan meninggal itu semua karena lu juga kan."
Nadira tertawa sambil memejamkan matanya, "Gue aja baru tau bokapnya kecelakaan, gimana caranya itu semua gara-gara gue."
__ADS_1
"Alasan. Setelah semuanya lu mau lakuin apa sama gue? Lu mau balas dendam juga kan sama gue."
Nadira tersenyum lalu menghadap ke arah Ken dengan menatap tajam matanya, Ken ikut membalas tatapannya.
"Lu punya salah sama adek gue?"
"Gue salah sama dia karena gue gak bisa jujur sama perasaan gue dulu, gue salah karena terlalu mentingin gengsi gue daripada dirinya."
"Gue gak perlu balas dendam sama lu, gue tau kok penyesalan lu yang lu rasain sekarang gak bakalan hilang sampai kapan pun. Jadi nikmati aja," ujar Nadira.
"Besok gue bakalan pergi dari sini buat selamanya, jadi berbahagialah gak bakalan ada yang gangguin temen-temen lu lagi."
"Jadi bener lu yang lakuin semuanya sama mereka?"
"Kalau emang iya lu mau apa?"
"Sialan, apa yang lu-"
Nadira menutup mulut Ken dengan tangannya, "Gak usah ceramahin gue, gak akan mempan lagian semuanya udah kena batunya juga."
Ken menghempaskan tangan Nadira dari mulutnya.
"Oh iya gue cuman mau ngasih spoiler aja, bokap nya Matt bakalan meninggal terus perusahaannya bakalan bangkrut karena hutang sama bank. Bokap nya Andri juga bakalan meninggal bunuh diri di penjara, indah bukan?"
"Sialan, hentikan semuanya."
"Gak bisa, udah di tulis di suratan takdir."
"Gila yah lu."
"Emang? Baru tau kalau gue gila? Harusnya dari awal lu tau gue gila sih."
Ken menarik baju Nadira, "Cukup, berhenti."
"Gue udah bilang gak bisa, udah di tulis di suratan takdir."
"Lu gak takut sama polisi?"
"Enggak, emang lu punya bukti? Lagian gue tinggal sogok aja polisinya dan pergi dari sini sebagai buronan. Tapi gue rasa pemainan gue cukup rapih sekarang."
__ADS_1
"Sialan."
"Udah nikmatin aja permainan yang gue buat, lu pasti seneng kan. sebenarnya?"