
Nadira mengajak mereka ke kamar Digo, ia membuka pintu kamar Digo lalu masuklah mereka ke sana, keduanya langsung kaget setelah melihat kondisi Digo yang sudah lemah. Darah masih berceceran di sana, "Apa yang kau lakukan pada anakku?" tanya Andin menghampiri Nadira.
Kedua tangannya di ikat jadi Andin tidak bisa melakukan apapun pada Nadira.
Nadira duduk di sofa lalu menumpang kan kakinya, "Kenapa? Marah?" tanya Nadira.
"Siapa yang tidak marah kalau anaknya di perlakukan seperti ini?" tanya Andin sudah mulai menangis tidak tega melihat Digo yang sudah lemah.
"Lalu aku harus diam saja sekarang setelah apa yang kalian lakukan juga pada kembaranku? Kalian tau perasaan inilah yang kurasakan saat aku melihat Nada bunuh diri di depan mataku."
"Kami tidak membunuhnya, lalu mengapa kau malah melakukan ini pada kami?" tanya Andin lagi.
Kristin sudah nangis kejer karena takut dan kasihan pada Digo.
"Tapi perlakuan kalian selama ini padanya membuat dia ingin bunuh diri, kalian tau perbuatan kalian bahkan jauh lebih menyakitkan daripada apa yang akan ku lakukan pada kalian sekarang."
"Kau akan masuk penjara kalau kau bunuh kami."
Nadira tertawa sembari bertepuk tangan, "Aku akan membayar polisi untuk menutup kasus ini sama seperti yang kalian lakukan pada kasus bunuh diri Nada, para orang-orang kaya sialan itu malah membayarnya."
Nadira bangkit dari duduknya, "Baiklah kita mulai saja permainannya, terlalu buang-buang tenaga kalau aku bicara terus," Nadira menghampiri Digo ia membuka selotip di mulut Digo.
Digo masih sadarkan diri namun tubuhnya sudah sulit di gerakan, ia belum makan dari kemarin di tambah Digo sudah kehilangan banyak darah.
"Digo ku sayang, siapa di antara mereka yang harus aku bunuh?" tanya Nadira sambil mengelus rambut Digo.
Bibir Digo gemetar, ia bahkan sudah tidak dapat bicara, "Apa?" Nadira mendekatkan telinganya pada mulut Digo.
"Adikmu? Kau ingin adikmu mati duluan? Oke baiklah sesuai permintaan," sebelum mulai beraksi Nadira memakai sarung tangan terlebih dahulu.
Nadira lalu menarik Kristin ke hadapan Digo, Nadira menyimpan pisau di leher Kristin.
"Maafkan aku Nadira, aku mengaku aku salah," Kristin benar-benar ketakutan ia juga menangis.
__ADS_1
"Apa permintaan maafmu akan membuat Nada hidup lagi? Kalau bisa aku akan memaafkan mu, tapi tampaknya tidak bisa jadi aku akan membunuhmu saja agar nanti di akhirat kau sayap bertemu dengannya dan minta maaflah secara langsung," Nadira tersenyum.
"Nadira apa kau sudah gila?" teriak Andin, ia kebingungan bagaimana cara menghentikan Nadira.
"Aku memang gila? Kau baru menyadarinya? Harusnya kau menyadari itu sebelum kau menyewa preman itu untuk membunuhku. Jika tidak terjadi hal seperti tadi mungkin aku akan membiarkan kalian hidup," ujar Nadira dengan tegas.
Pisau di leher Kristin mulai melukai leher itu, "Nadira sakit," Kristin meringis kesakitan.
"Aku sudah bilang ini tidak seberapa dengan sakit yang di rasakan Nada, jadi nikmatilah."
Nadira mengorok leher Kristin di hadapan Digo dan Andin, Andin yang melihat itu tidak bisa berkata-kata bagaimana bisa seorang wanita berani melakukan hal ini, Kristin yang sudah tidak bernafas langsung di jatuhkan ke tubuh Digo.
Digo menangis melihat hal tersebut, "Ah karena kalian malah inisiatif sendiri aku terpaksa meminta bantuan dia," Nadira menelpon Haruto untuk segera datang ke rumahnya.
Andin yang melihat anaknya mati tepat di depan matanya sendiri merasa dirinya sangat hancur, ia benar-benar seperti orang gila sekarang. Andin menangis dan tiduran di lantai seperti anak kecil, ia merasa semuanya adalah mimpi.
Tidak lama kemudian Haruto datang dan beberapa anak buahnya, mereka langsung merekayasa semua kejadian di sini. Digo yang sudah tidak berdaya di lepas rantainya, sementara Andin yang sudah mulai ke ganggu otaknya juga di lepas ikatan di tangannya.
Nadira yang lengannya terbakar langsung keluar rumah dan berakting seakan ia juga adalah korban, Nadira meminta bantuan tetangga untuk memadamkan api dan juga untuk memanggil petugas kebakaran.
Beberapa saat kemudian orang-orang mulai ramai membantu memadamkan api, para pemadam kebakaran juga telah hadir bersama polisi. Nadira di tenangkan oleh beberapa tetangga di sana, Nadira menangis dan berusaha menembus kobaran apa untuk menolong yang lainnya.
"Jangan lakukan itu," salah satu tetangganya langsung menarik Nadira untuk tidak masuk kembali ke rumah itu.
"Benar, lihat kondisimu! Kamu juga perlu di obati sekarang biarkan itu jadi tugas yang lain."
"Tapi mereka masih di dalam, bagaimana kalau terjadi sesuatu pada mereka?"
"Mereka sedang di tolong juga oleh yang lain, kalau kau masuk kau juga akan terbakar lagi."
Di sisi lain Nadira tersenyum karena semuanya berjalan dengan lancar.
Beberapa saat kemudian Nadira kembali pulang ke apartemennya, ia baru saja pulang dari kantor polisi untuk menjelaskan kronologinya. Semua yang di ucapkan Nadira di percaya oleh polisi, setelah di periksa di tempat kejadian juga tidak terdapat hal yang mencurigakan.
__ADS_1
Sementara tubuh ke ketiga orang itu sudah hangus terbakar membuat tim forensik tidak bisa meneliti nya lebih lanjut, ada beberapa bagian yang sudah hangus juga.
Di kamera pengawas jalan juga memperlihatkan kalau ada satu mobil mencurigakan yang ke rumah itu, itu di simpulkan sebagai mobil pencurinya. Padahal itu adalah mobil Haruto yang memang sengaja agar di sangka pencurinya.
"Satu persatu semuanya selesai," Nadira merasa senang.
Tangannya masih sakit, tadi sih sudah di obati menggunakan salep, "Luka ini akan jadi bukti."
Nadira menatap langit-langit apartemennya, ia mengangkat tangannya lalu memandangi jari-jarinya, "Sebentar lagi semuanya akan mendapatkan balasan yang setimpal, mereka harus merasakan akibatnya. Tidak adil kejahatan di balas permintaan maaf.".
Nadira yang kelelahan akhirnya memejamkan matanya, masih banyak hal yang harus ia lakukan nanti.
_________
Paginya Nadira membalut lukanya menggunakan perban, setelah itu ia pergi ke sekolah. Cici khawatir pada Nadira, ia segera menghampiri Nadira saat melihat Nadira, "Kamu gak papah kan?"
"Tangan ku agak kebakar," ucapnya.
"Aku turut berduka cita yah atas kepergian mereka."
Seluruh murid sekolah telah mendengar berita kematian keluarga Kristin, mereka juga percaya kalau itu adalah ulah pencuri. Mana mungkin kan seorang wanita seperti Nadira melakukan hal itu, itu sangat mustahil tampaknya.
Apalagi setelah melihat tangan Nadira yang juga terluka.
Nadira menangis di pelukan Cici, "Padahal aku baru bertemu mereka, aku sedih dan kecewa kenapa aku gak bisa nolong mereka."
Cici memeluk balik tubuh Nadira.
Sementara itu Angel dan Gilang yang mendengar kabar kematian keluarga Kristin langsung mendadak diam.
"Gila Nadira gue keren banget," ujar Angel sorak kegirangan, mereka berdua tau kalau sebenarnya itu ulah Nadira.
"Jangan sampai lolos pokoknya," tambah Gilang.
__ADS_1