
Bab 12
Renata mengunjungi rumah mewah nan megah itu. dia sangat takjub dengan kehidupan Elena yang bergelimang harta tapi tidak sombong pada siapapun.
Rena menekan bel rumah itu kemudian muncul seorang wanita memakai hijab. Siapa dia ?
"maaf mbak ,mau cari siapa ya?" tanya mbak itu.
"Aku Renata. teman kuliahnya Elena. aku ingin menjenguknya."
"oh iya mbak, mari silakan masuk. non Elena ada dikamarnya. kebetulan juga ada teman yang lain disana. silakan saja mbak masuk ?"
"oh iya trimakasih mbak ya ?"
Renata lalu masuk ke kamar yang pintunya terbuka itu. Ada seorang laki-laki disana.
"Rena, kamu datang. masuklah ?" Rena langsung masuk dan memeluk Elena, dia menangis sejadi-jadinya menyesal kenapa baru datang.
"Aku memang egois Elen , aku sangat menyesal . aku sungguh tidak tau dengan apa yang menimpamu ?"
"sudahlah Ren. aku sudah jauh lebih baik. oh iya kenalin ini Steven."
mereka berdua berjabat tangan .
setelah ngobrol panjang waktunya Elena minum obat. karena pengaruh obat dia mulai mengantuk.
"Tuan Stev silakan pulang saja. biar aku yang merawat Elena."
"oke baiklah, aku akan kembali ke hotel. " Stev melangkah kan kakinya, tapi kemudian terhenti saat dipintu. "Hmmm aku seperti pernah melihatmu. entah itu dirimu atau bukan. tapi aku seperti melihatmu keluar dari hotel bersama Mikael ?"
Rena mematung mendengar nya.
"ah tidak. itu bukan aku ?"
"oke baiklah ."
Stev pergi . didalam mobil dia hanya bisa menerka-nerka.
"aku tidak mungkin salah lihat. aku jelas-jelas melihat nya keluar dengan Mikail. apa mereka habis bercinta. tapi kenapa Rena yang kena ?"
....
hari ini Elena melakukan cek up. hasilnya sudah sangat baik.
lalu dia menemui dokter psikiaternya.
dia sedang ada pasien.
seorang wanita yang cantik seperti model.
tapi kenapa melihatnya dengan wanita lain aku merasa tidak terima.
aku menunggu Lucas selesai .
__ADS_1
Lucas adalah dokter psikiater pribadiku selama 7 tahun.
Aku sama sekali tidak menemukan ketentraman dalam hidup ku setelah satu per satu anggota keluargaku mati dengan tragis.
Mungkin memang tidak ada hasil.
Tapi dokter Lucas membuatku merasa nyaman.
Setelah wanita itu keluar barulah aku masuk.
"Apa kamu sudah lama menunggu Elena ?" tanya Lucas dengan ramah.
"A tidak dokter ?" entah kenapa rasanya sekarang aku agak canggung dengannya.
"baiklah ayo masuk."
aku memasuki ruang terapi. seperti biasa aku lebih nyaman duduk sembari tiduran.
"apa kamu sudah siap Elena. mungkin sesi kali ini bisa membuat mu lebih nyaman nantinya." ucap dokter Lucas.
"iya aku siap dokter." Dokter Lucas mulai terapinya.
"lihatlah jarum jam ini Elena. fokuslah pada setiap langkah jarumnya?"
Samar-samar suara dokter Lucas semakin menghilang dan mataku terasa semakin berat hingga akhirnya gelap.
Aku membuka mataku. bingung. ada dimana ini ?
Aku berjalan menyusuri hutan ini. "dor.dor."
"aw. " aku terjatuh ke tanah begitupun dia.
aku tidak dapat melihat dengan jelas siapa orang itu, karena dia memakai masker hitam, jaket hitam, hanya matanya yang terlihat. mata itu memandang ku dengan tajam.
Dan aku terpaku dengan sekilas tatto itu, tatto didadanya sekilas itu sama persis dengan seseorang menikamku.
Saat aku hendak mendekatinya " Mamaaaa ? tidaak . maamaa ,jangan tinggalkan kami ?" aku langsung berlari kesumber suara itu.
"Kak Niel ? " aku melihat kak Niel memeluk erat mama.
"Kak Nieel ?!" aku berteriak memanggil nya. aku berlari mendekati kak Niel.
Aku melihat mama disana yang sudah banyak mengeluarkan darah.
Lalu datang Kak Mian .
"Mamaa ? maa ? buka matamu Maaa ? jangan membuat kami takut Maa ?"
aku melihat mama sekilas membuka mata walau samar.
"A aannaku ? " ucap Ibu Monica dengan terbata-bata dan nafas yang agak berat.
"Lli llindungilah adik adik mu, ter utama Elena. Ka lian ha rus me lindunginya. dia me nyim pan ban yak de ri ta. A al lana, di dia ma masih hidup ,agh ?" ucap ibu monica yang ternyata selama ini menyadari tentang mereka.
__ADS_1
"mama tolong jangan banyak bicara ambulan segera datang." ucap Mian dengan berlinang airmata.
"Jja jaga Sena, Sis Ssiska." setelah mengucap itu , mama sudah tidak bergerak lagi.
Aku yang menyaksikan semua ini sungguh tidak sanggup rasanya.
MAMAAAA !
aku terbangun dengan nafas tersengal-sengal dan badan ini terasa sangat lemah tidak berdaya.
"Elena kamu baik-baik saja kan ?" tanya dokter Lucas terlihat khawatir melihat Elena.
"aku , aku ingin pulang dokter."
"baiklah El ? kamu memang harus istirahat. tubuh kamu masih lemah El. apa perlu aku anter kamu pulang ?"
"tidak perlu dokter. aku bersama pak Candra . trimakasih atas waktunya dokter ?"
Elena meninggalkan ruangan itu dengan tubuh yang lemah. pikirannya berkecamuk. tatapan orang itu, sangatlah familiar.
"non ? non baik-baik sajakan. non terlihat pucat."
tanya pak Candra. aku tidak menyadari ketika sudah sampai parkiran.
"iya Pak Candra , aku baik-baik saja. ayo kita pulang. aku ingin istirahat dirumah.
....
dirumah Damian.
"apa kamu yakin Mian dengan data ini." tanya Niel.
"tentu saja. pantas saja kita tidak pernah menemukan anak Prakas. ternyata dia banyak mengganti identitas selama ini." jawab Mian
"Dia terkenal psikopat di Amerika. Dia lolos bisa pergi kemana saja dengan identitasnya yang palsu itu." tambah Mian.
"Kita harus waspada dengan dia, orang-orang terdekat kita bisa menjadi taruhannya." ucap Niel dengan khawatir.
Daniel mengambil berkas itu.
"Dia benar-benar licik seperti ayahnya. Abraham L. Sawyer. Kenapa dia memakai marga keluarga Sawyer. Aku akan mencari tau silsilah keluarga Sawyer. dengan itu kita akan tau siapa dia saat ini ?" ucap Daniel.
"Kemarin aku melihat Sena bersama seseorang. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas." ucap Damian.
"nanti aku akan menannyainya ?"
ditempat lain.
Sena saat ini bersama dengan seorang laki-laki .
"jangan takut padaku Adikku. Ayo ikutlah bersamaku."
Sementara Sena sendiri saat ini merasa ketakutan dengan laki-laki dihadapannya.
__ADS_1
....bersambung