Derita Masa Lalu

Derita Masa Lalu
Derita Masa Lalu


__ADS_3

bab 18


"jadi itu sebabnya kamu mengubah wajah dan identitasmu itu."


"iya Ele, aku terpaksa melakukannya agar Prakas tidak menjadikanku bonekanya lagi. tapi apa sekarang. Aku bahkan tidak sanggup lagi untuk bertemu dengan semua orang atas kejahatan yang aku sendiri tidak mau aku lakukan. Ayah selalu menekanku sedari kecil. menjadikanku sebagai kambing hitam nya. "


Elena seperti memahami penderitaan yang dialami Abra selama ini.


"mari kita hadapi dia bersama-sama Abra. Aku yakin kita bisa menang melawannya." ucap Elena dengan sungguh-sungguh.


"Are you sure ?"


"yes ?"


Abra terpaku dengan mata indah Elena, setiap kali berada dekat dengan Elena jantungnya merasa berdetak dengan kencang seperti sehabis lari maraton.


Abraham reflek mendekati Elena, kedua tangannya memegang pipi Elena, mereka berdua sama-sama beradu pandang.


Abra memajukan bibirnya hendak mencium Elena, tapi.


"maaf Elena, aku sudah terlalu jauh padamu."


Elena seperti mengerti maksud Abraham, Elena lalu melanjutkan kejadian tadi dan mencium bibir Abraham.


Abraham terkejut dengan apa yang Elena lakukan.


ciuman itu semula pelan, lalu berubah menjadi panas, Abra melepas pakaiannya ,lalu mencoba membuka baju Elena.


Tidak sulit melakukannya, karena Elena memakai dress terusan.


Abra membopong tubuh Elena ke kamarnya dan menidurkannya disana.


Abraham menjilati leher Elena "aah " bukan hanya disitu dia menjilati menelusuti bagian itu, bra yang masih menempel menambah hasrat nya semakin menggebu-gebu.


Abra memainkan bagian payudara Elena yang menurutnya ukuran Elena melebihi tangan Abra.


"kamu benar-benar sangat menggoda Elena, aku tidak menyangka ini ternyata besar."


ucap Abraham sambil terengah-engah. lalu Abra mengeluarkan kedua ****** itu, dan menjilati putingnya "aah aahhh"


Abra pun sudah tidak tahan lagi.


dia melepas semua pakaian Elena. saat ini Elena berada dibawahnya dengan keadaan telanjang tanpa busana apapun.


Abra melepas semua yang menempel ditubuhnya.


dengan pelan-pelan membuka kaki jenjang Elena ,Abra mengusap bagian sensitif itu ,lalu memasukan mr.p nya dengan pelan.


"aahh " Elena terus saja mendesah membuat Abra semakin bersemangat.

__ADS_1


Abra terus memaju-mundurkan pen*isnya hingga mentok seperti ada penghalang.


"Elena tidak kah kamu menyesal jika aku melakukannya." tanya Abrahan.


"tidak Abraham, aku mencintaimu."


Abra lalu melanjutkannya dan "aagghhk " Elena teriak menahan sakit saat Abraham berhasil masuk menembus pintu itu.


mereka sama-sama menikmati keintiman mereka. dan meneruskan aktifitas mereka hingga pagi .


.....


pukul 13.00 mereka masih tertidur.mereka sangat lelah dengan aktifitas semalam.


Elena membuka mata terlebih dahulu dan langsung mandi. semula dia terkejut dengan darah itu, tapi saat ingat hal semalam membuatnya tersenyum sendiri.


"melamun hmm?"


"Abraham kau mengagetkanku. "


Abra ikut masuk kedalam kamar mandi dan menggoda Elena , dan yaah tau sendirilah setelah itu , lakuin lagi deh hihihi.


....


diresto.


"aku tidak mau berlebihan , aku maunya sederhana saja." jawab Rena.


"kita nikahnya massal saja gimana." tanya. Mikail.


"maksudnya?"


"Arsyta dan Nick. lalu Stev dan Laila."


"kamu gila ya ?" ucap Renata dengan tertawa.


"aku serius. akupun heran ,kalian hamilnya bareng-bareng ,kita bikinnya gak janjian ma mereka kan ?"


"ih !" jawab Rena dengan menepuk punggung Mikail.


"hmmm tapi kayaknya seru juga ya hihihi. oke aku setuju. Aku akan menelphone Elena untuk memberitahunya ide gila mu itu." ucap rena dengan tertawa. dia berusaha menelphone Elena tapi tidak disangka, Elena dan Abraham masih mesra dikasurnya sekarang.


"Elena kemana sih dari tadi siang gak ada kabar."


"lagi sibuk kali ,besok aja deh."


....


Elena sudah rapi dengan pakaiannya. begitupun Abraham.

__ADS_1


"Elena, jangan memanggilku dengan Abraham atau kau akan melihatku mati didepan matamu."


Elena tertawa mendengar nada kesal Abraham.


"yaudah ayo. aku sudah sangat lapar dokter Lucas Fernando?"


mereka keluar dari apartemen Lucas dengan mesra.


mereka sampai diresto Rena sekitar jam 8 malam.


Renata yang melihatnya langsung menghampirinya dengan antusias.


"Elena kamu kemana saja seharian ini. aku menelphonemu berkali-kali tapi tidak kamu jawab." tanya Renata dengan kesal.


"iya maaf Rena ? aku banyak kerjaan hari ini . aku sangat lapar oke, aku mau makan dulu."


"ya ya oke."


Semua mata tertuju pada lelaki tampan yang bersama dengan Elena.


"oh iya kenalin, ini dokter Lucas , dia adalah kekasihku." semua orang tentu saja terkejut mendengarnya. tidak ada angin tidak ada hujan dia datang mengenalkan kekasihnya.


"benarkah ,sejak kapan El ?" tanya Mikail.


"sejak semalam, kami baru saja jadian ?" jawab Elena dengan senyum merekah.


sekarang Mikail mengerti arti dari raut ceria wajah Elena ,lelaki inilah penyebabnya.


"selamat ya El , aku senang akhirnya kamu mendapatkan cintamu." ucap Mikail. Renata yang mendengar Mikail mengucapkan itu agak sensi dia memilih pergi ke dapur, Mikail yang melihatnya menyusulnya.


"Rena?" panggil Mikail.


"Aku tau kamu menyukai Elena ? tapi kenapa kamu besikeras menikahiku,jika karena masalah anak alasannya aku tidak apa-apa Kael merawatnya sendirian." ucap Rena dengan menangis. dia merasa sangat terluka melihat kael yang masih terlihat mencintainya.


"aku minta maaf sudah menyakiti perasaanmu Rena. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku tulus ikut senang melihat Elena seceria itu. Terlebih lagi dia sudah menemukan kebahagiaannya sekarang. apakah kamu tidak senang melihatnya." ucap Kael.


"apa yang dikatakan Mikael benar Rena?"


ucap Stev yang tiba-tiba datang.


"Kami berdua bersaudara kakak adik mencintai wanita yang sama awalnya. Elena.


Tapi kami memilih mundur dengan alasan yang sama. Dia bukan wanita yang bisa kami miliki. Dia membuat kami sadar akan kata menyerah mundur. kami memilih mencari kebahagiaan kami dengan mencintai yang lain. Kael menemukanmu. Aku menemukan Laila. secara tidak langsung memang ini campur tangan Elena. Elena lah mempertemukan jodoh kita masing-masing. dan begitupun Arsyta , Elena telah mencarikan masa depan untuk teman-temannya.Dia ingin kami menjadi pelindung ,bahkan teman sehidup semati sahabat-sahabatnya." jawab Steven.


Renata yang mengetahui hal ini pun tidak bisa berkata apa-apa. lagi-lagi Elena telah memikirkan masa depannya.


Renata berlari menuju Elena, yang saat ini sedang makan malam bersama dengan Lucas. dia tidak jadi mendekat. dia mengamati setiap detail yang Elena lakukan. dia memang banyak tertawa, banyak bicara, seperti tidak ada beban.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2