DEVAN

DEVAN
kabar duka


__ADS_3

Devan terkejut melihat kedatangan navisa, Nafisa datang ke rumah sakit sendirian, Dia terpaksa meninggalkan Nara di rumah bersama baby sitternya


" Abang kenapa ngomong kayak gitu" ucap Navisa saat sudah berada di samping Rafiq,


rafiq pun tak kalah terkejutnya melihat kedatangan Navisa


" Abang udah nggak kuat na, kepala abang rasanya sakit banget," ucap Rafiq


" Abang kenapa tega ngomong kayak gitu sama Navisa, Kalau Abang pergi Navisa sama Nara sama siapa bang, Siapa yang bakal ngelindungin kita" ucap Nafisa sambil menangis


" Stefan udah janji sama Abang Kalau Abang pergi dia bakal jagain kamu dan bakal bahagiain kamu" ucap Rafiq


" Tapi aku maunya kamu yang lindungin kita bang bukan orang lain" ucap Nafisa


" janji anak kamu nggak bakal jauh-jauh dari Devan, kalian berdua sayangi neraka seperti Abang menyayangi dia, Abang titip marah sama kalian berdua" ucap Rafiq


Nafisa dan Devan tidak menjawab pertanyaan Rafiq, mereka berdua sama-sama bingung mau menjawab apa karena mereka berdua juga belum siap kehilangan Rafiq


" Dev bantuin gue syahadat" ucap Rofiq terbata-bata


karena tidak tega melihat sang teman menahan rasa sakit Devan pun menuruti permintaan rafiq

__ADS_1


""Aysh-hadu An-la ilaha illalah, Wa-Ayshadu Anna Muhammada Rasulullah."


saat Rafiq selesai mengucapkan dua kalimat syahadat tiba-tiba monitor detak jantung Rafiq pun menjadi lurus, dan Nafisa menangis sejadi-jadinya, Devan yang tidak tega melihat Nafisah nangis pun memeluk tubuh Sang wanita


Danau visa yang berada di dalam pelukan Devan pun tidak menolak dia semakin mempererat pelukan mereka, tak selang berapa lama dokter pun datang dan memeriksa keadaan Rafiq


dokter hanya menggelengkan kepala dan Nafisa jatuh pingsan di pelukan Devan, hampir setengah jam akhirnya Nafisa sadar dari pingsannya dia kembali menangis saat mengingat kejadian setengah jam yang lalu


setelah mengurus semua administrasi, Devan kembali menenangkan Nafisa,


pukul 06.30 Saila terbangun dia terkejut karena yang dia peluk bukanlah Devan melainkan Anisa


" Kak bangun Kak" ucap Sheila


" Kak Devan lagi di rumah sakit Dek Kak Rafiq kecelakaan" ucap Anisa sambil menguap


Saila terkejut mendengar kabar dari Anisa, Lalu dia pergi ke kamar mandi, Akan tetapi karena Badannya masih lemas niatnya diurungkan


" Kamu kenapa Dek" tanya Anisa


" badan aku lemes Kak" ucap Sheila

__ADS_1


Emang benar dari suaranya Sheila aja udah ketebak bahwa dia sedang sakit, Anisa pun berniat membantu Sheila, akan tetapi sebelum membantu saya bangun dari tempat tidur dia membuka ponsel dan betapa terkejutnya mendengar kabar dari sang kakak bahwa Rafiq sudah meninggal dunia


Annisa pun langsung menangis membaca kabar tersebut, Sheila yang memang tidak tahu apapun dan tidak tahu mengapa sang Kakak menangis hanya bisa diam


" Kakak kenapa nangis" tanya Sheila bingung


" Kak Rafiq, Kak Rafiq meninggal Dek" ucap Anisa


saya telepon sama terkejutnya mendengar kabar dari sang kakak, lalu mereka berdua keluar dari kamar Sheila dan menuju ke ruang keluarga, ternyata di sana sudah ada Rifki dan Rio


Rifki dan Rio pun Saling pandang mereka tidak tahu mengapa Sheila dan Anisa menangis, dan di mana Devan?


" Kak Rifki dan Kak Rio udah dengar kabar dari Kak Devan belum?" tanya Anisa


" kabar apa nih kakak nggak dapat kabar apapun dari Devan dan sekarang kenapa nangis?" tanya Rio mewakili Rifki


" Kak Rafiq kecelakaan Kak, Kak Devan lagi di rumah sakit sekarang" Anisa sengaja menjeda omongannya


" Terus sekarang gimana keadaan Rafiq Dek" tanya Rio


" saat Kak Devan ke sana sama Kak Nafisa kak Rafiq katanya meninggal Kak, " ucap Anisa

__ADS_1


Rio dan Rifki pun terkejut mendengar kabar dari Anisa


__ADS_2