
benar benar di luar dugaan, Rio tidak menyangka bahwa devan akan se nekat itu.
"oh ya dev, kita kapan uji coba di negara orang" tanya Rio
"jangan serakah, pada koruptor di negri, ini masih banyak, lagian kita juga tidak terlalu kekurangan duit, dan juga keamanan di luar lumayan ketat" ucap devan
"hmm baiklah, bagaimana kalau kita klub "ucap Rio
"haa kawan kita masih pada kerja lo malah mau senang senang, kalo mau senang senang tunggu mereka berdua balik, kita ini sahabat susah senang bareng"ucap Devan
"lo mah Dev slalu begitu, sekali kali kita jalan berdua lah" ucap Rio
"idih, kek orang pacaran aja jalan berdua, gue masih normal, udah sana kumpulin lagi data data para koruptor, dari pada ngelantur kagak jelas, "ucap Devan
"iya iya"ucap Rio
Rio pun meninggalkan Devan di ruang pribadi nya, di saat sedang fokus merentas, tiba tiba ponsel nya berdering
"assalamu'alaikum van"ucap Alena
"waalaikumsalam, kenapa al" ucap Devan to the poin
"van ada yang mau aku obrolin sama kamu, bisa? "tanya Alena
__ADS_1
"iya mau ngomong apa, sayang hmm? jawab Devan
" Aku udah di Cafe tempat kamu kerja" ucap Alena tanpa menjawab pertanyaan Devan
" Oke sebentar lagi aku ke sana Sayang" ucap Devan
Tak lama kemudian panggilan pun terputus, ya Devan memang tidak bicara secara jujur kepada Alena tentang Siapa dirinya dan pekerjaan yang sesungguhnya,
15 menit berlalu akhirnya Devan keluar dari ruangannya, dia sengaja keluar lebih lama agar Alena tidak curiga, bahwa itu adalah makanya dirinya sendiri
" Sayang Maaf sudah bikin kamu lama nunggu" ucap Devan lalu duduk di seberang Alena
" Iya tidak apa-apa ada yang mau aku omongin sama kamu" ucap Alena to the point
" Iya makanya aku langsung ke sini, pengen ngomong langsung sama kamu" ucap Alena
" Iya sayang kamu mau ngomong apa" ucap Devan lalu memperhatikan raut wajah Alena yang tiba-tiba berubah
" Aku mau kita udahan van" ucap Alena to the point
" Loh kenapa yang, Kenapa kamu tiba-tiba minta putus apa aku ada buat salah sama kamu?" tanya Devan terkejut karena tiba-tiba Alina mau minta putus darinya
" aku dijodohin sama orang tua aku dan aku nggak bisa nolak karena keluarga dia selalu membantu keluarga aku setiap keluarga aku kesusahan" ucap Alena menjelaskan
__ADS_1
" memang berapa hutang keluarga kamu Al" tanya Devan sudah tidak memanggil dengan sebutan sayang
" ini bukan masalah uang van Ini masalah balas budi" ucap Alena tidak terima karena disebut memiliki hutang
" please kamu batalin tujuan itu dan izinkan aku untuk melamar kamu Al" ucap Devan
" Maaf aku nggak bisa batalin pertunangan ini" ucap Alena sambil menundukkan kepalanya
" hubungan kita ini bukan satu atau dua bulan kita pacaran udah 3 tahun" ucap devan
" Maaf tapi keputusan aku sudah bulat tua van Aku tidak mau menjadi anak durhaka karena tidak menuruti kemauan orang tuaku" ucap Alena
" lalu Bagaimana denganku Al disaat aku ingin melamarmu jawaban kamu selalu belum siap, dan belum siap" ucap Devan
" waktu itu aku emang belum siap van" ucap Alena
" Jadi kalau misalnya aku melamar kamu sekarang kamu siap?" tanya Devan
" aku sudah menerima Perjodohan itu van kamu pasti tahu jawabannya" ucap Alena
" Sudahlah memang dari dulu jawabannya selalu begitu Kamu memang tidak ada niatan untuk memperjuangkan cinta kita Al, kalau memang Perjodohan ini menurut kamu yang terbaik aku akan berusaha untuk mengikhlaskan dirimu, dan aku akan selalu mendoakan untuk kebahagiaanmu ke depan" ucap Devan pasrah
tanpa dia sadari bahwa butiran-butiran air matanya sesudah membasahi kedua pipinya Bagaimana mungkin 3 tahun bukan waktu yang singkat, Alena pun sama Dia meneteskan air matanya dia juga sakit jika harus berpisah dengan Devan tapi mau bagaimana lagi ada tidak bisa menolak keinginan orang tuanya
__ADS_1