DEVAN

DEVAN
mulai cair


__ADS_3

devan memilih menenangkan diri di kamar, hati nya bener bener hancur, anak mana yang tak hancur saat mengetahui hadir nya tak pernah di harapkan.


sebenarnya bisa saja devan melampiaskan dengan meminum alkohol atau yang lain nya, akan tetapi dia masih bisa berfikir positif, karna sekarang masih ada yang butuh pundak nya untuk bersandar


jika bukan dirinya siapa lagi yang akan menjadi tempat untuk kedua adik nya bersandar, ibu kandung mereka tidak mungkin mau, apa lagi dia juga sudah menikah, sudah memiliki kehidupan sendiri, jika saja dulu devan tidak memaksa papah nya untuk tinggal bersama di jakarta, entah bagaimana nasib kedua adik nya nanti.


setelah dirasa cukup menenangkan fikiran, devan menghampiri sang adik di kamar mereka


tok


tok


tok


"dek, ini kaka, kaka boleh masuk?" tanya devan di balik pintu kamar shaila


"iya kak, masuk aja pintu nya ga di kunci kok"sahut dari dalam kamar


setelah mendapat izin untuk masuk devan pun langsung memeluk ke dua adik nya


"dek maafin sifat tadi ya dek, kaka ga bermaksud" ucap devan lembut lalu melepaskan pelukan itu

__ADS_1


"iya kak, kita udah maafin tapi kaka jangan ngerasa sendiri lagi ya, kaka masih punya kita kak, kaka berharga, sekarang kita cuma punya kaka, jadi kaka jangan pernah berfikir untuk ninggalin kita ya kak" ucap anisa dengan mata berkaca-kaca


"iya dek maafin sikap kaka ya" ucap devan tulus


mereka bertiga pun kembali berpelukan,


Flashback on


"Kak itu kak devan kenapa ya kok sikap nya jadi dingin banget sama kita"? tanya anisa


tanpa berfikir panjang Rio langsung menyuruh, Rifki untuk cek CCTV dari awal devan berangkat hingga devan pulang


dan betapa terkejut nya mereka berempat, mendengar ucapan rahayu yang begitu menyakitkan, pantas saja devan menjadi pribadi yang dingin setelah mendapatkan prilaku tersebut


"oh ya kak, itu kasian nara kak, dari tadi kaka nyuekin dia terus" ucap anisa


"iya makasih ya dek, kaka keluar dulu" ucap devan


"iya kak"ucap mereka berdua serempak


devan pun keluar dari kamar shaila dan menuju ke kamar navisa, karna dia merindukan nara

__ADS_1


setelah sampai di depan pintu kamar navisa, devan langsung mengetuk pintu nya, dan tak selang berapa lama akhirnya, yang di tunggu keluar juga, navisa keluar sambil menggendong nara yang habis nangis


"papa" ucap nara di sela tangisan nya, sambil meminta gendong


"iya sayang" ucap devan sambil menerima tangan nara


setelah nara berada di dalam pelukan nya, bocah itu langsung terdiam, dan merapat kan nya di dalam dada bidang devan


"saya izin membawa nara keluar boleh?" tanya devan kepada navisa


"boleh, saya justru berterima kasih karna mas sudah mau mengajak nara main" ucap navisa


"au ma nda uga "ucap nara


mereka yang mendengar suara nara menjadi saling pandang, hingga akhirnya mereka bertiga jalan bersama, di taman, kebetulan Rio dan juga melisa sedang dikamar, sedangkan Rifki sedang bersama rizky


"maaf jika jalan bersama saya kamu jadi risih, ucap devan


"tidak apa, saya yang seharusnya berbicara seperti itu"ucap navisa


"soal permintaan rafiq semalam tidak usah di fikir, saya tidak mau memaksa kamu, jika kamu sudah menemui laki-laki yang kamu cintai, menikah lah dengan nya, akan tetapi jika lelaki tersebut tidak bisa menganggap nara seperti anak nya sendiri, maka saya yang akan mengambil paksa dari kamu, meskipun kamu adalah orang tua kandung nya" ucap devan panjang kali lebar

__ADS_1


"jika dia tidak bisa menerima anak saya, lantas untuk apa saya menikah dengan nya??"tanya navisa akan tetapi devan tidak menjawab pertanyaan tersebut dia hanya tersenyum


__ADS_2