Di Ujung Talak

Di Ujung Talak
Riana Hamil


__ADS_3

Dengan lunglai aku berjalan memasuki rumah. Aku melihat mobil suamiku sudah terparkir di garasi. Mungkin dia sudah pulang.


Suara di ruang keluarga cukup ramai.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Farah, kamu dari mana saja, kenapa tidak menjawab telfonku?" Gibran menghampiriku tapi tatapanku malah fokus dengan satu orang, Riana. Hubungan mereka semakin terang-terangan, Gibran dengan berani membawa Riana menemui kedua orangtuanya. Terlihat dari sikap dua wanita itu seperti sangat akrab sekali. Aku menatap mereka dengan iri. Apa Mama Rani tau hubungan mereka?


"Farah, sini!" Mama Rani memanggilku untuk ikut bergabung bersama mereka. Dengan sedikit malas, aku mendekati Mama mertuaku.


"Riana kesini itu nyariin kamu loh, tapi ponselmu susah sekali dihubungi. Memangnya habis dari mana?"


"Ada urusan bentar Ma, oh ya Farah mandi dulu Ma."


"Iya sayang, setelah itu turun ya, kita makan malam bersama!"


Rupanya Gibran masih menyembunyikan hubungan terlarangnya dengan Riana.


"Aku mau bicara sama kamu!" Gibran ternyata menyusulku ke dalam kamar.


"Farah, bisa diam sebentar gak sih?"


"Ada apa kak, aku capek bener-bener capek, aku malas berdebat," ucapku masih dengan nada bicara yang tak biasa.


Jangan pernah berharap kalau aku akan bersikap seperti sebelumnya jika hati ini masih terlalu sakit melihatmu dengan sahabatku bersama.


Dengan melihatmu semakin terang-terangan membawa Riana ke rumah ini, membuatku semakin yakin, bahwa aku tidak akan bisa lagi memilikimu seorang diri.


Kau sudah membaginya, dan itu nyata terjadi. Aku tidak bisa untuk berpura-pura bahagia di atas luka yang membuatku meneteskan air mata.


"Riana akan tinggal di rumah ini! Aku harap kamu bisa menerimanya, Farah."


Deg..


Bagai tertimpa reruntuhan batu yang menghujani dadaku, membuatku merasakan sakit dan perih akibat lukanya.


"Maka aku yang akan pergi dari rumah ini!"

__ADS_1


"Farah-Farah, aku mohon, mengerti posisinya. Riana juga istriku, dia tanggung jawabku. Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja."


"Lalu aku siapamu kak? Kenapa dengan tega kamu melukai hatiku semakin menjadi. Bahkan aku tidak tau salahku dimana? Sampai-sampai harus menerima hukuman seperti ini darimu."


"Kamu tidak salah apapun, sayang. Ini semua hanya karna aku, aku tidak bisa mengendalikan diri sebagai seorang pria yang telah beristri. Maafkan aku, Farah!"


"Berkata-kata itu mudah kak, bahkan semua orang bisa mengucapkannya. Tapi untuk melakukan dan menerima, itu adalah hal tersulit, apa lagi masalah hati. Jika sudah tergores sedikit saja, luka itu akan membekas untuk seumur hidup."


Gibran terdiam dengan kata-kata yang aku lontarkan di depannya. Biar dia tau, apa yang dilakukannya adalah kesalahan fatal yang sangat sulit dimaafkan. Kesalahan apapun itu masih bisa kumaklumi, tetapi tidak untuk pengkhianatan!


Aku lebih memilih untuk bersikap tak perduli supaya hatiku mampu menahan semua rasa yang sudah diberikan suamiku. Meskipun, semakin bertahan akan semakin sulit untuk menyembuhkan luka ini. Terlalu dalam luka yang sudah Gibran dan Riana goreskan padaku.


Setelah selesai mandi, aku turun menemui mereka seperti permintaan Mama Rani.


Kami semua melakukan makan bersama, namun tiba-tiba saja..


Huek...huek...


Riana berlari ke dapur dan memuntah semua isi perutnya di wastafel.


Aku tidak perduli, tapi Gibran begitu sangat panik melihat wanita murahan itu muntah secara tiba-tiba.


Tenanglah Ma Pa, anak kebanggaan kalian itu akan menjelaskan semuanya.


"Kamu gak papa Riana?" Tanya Mama saat melihat Riana kembali ke meja makan.


"Gibran, kenapa kamu..


"Aku tau Mama dan Papa pasti bingung melihat sikapku dengan Riana. Tapi perlu kalian tau, kalo aku bukan hanya menikahi Farah, tetapi Riana juga istriku, Ma Pa."


"Apaaa?"


Plak...


Dengan geram, Papa Danu bangkit dari duduknya dan langsung melayangkan satu tamparan di pipi Gibran.


"Papa gak pernah sekalipun mengajarkan kamu untuk dengan seenaknya menyakiti hati wanita, Gibran. Apa kamu tidak sadar apa yang sudah kamu lakukan, hah? Sangat menyakiti hati Farah, Gib. Bagaimana jika sampai Ayahnya tau masalah ini, apa kamu sanggup menghadapinya?"


"Dan kamu, saya gak tau apa yang sudah kamu lakukan dengan anak saya sampai-sampai anak saya berani berbuat serong dari istrinya. Tapi satu hal yang perlu kamu tau, saya tidak akan pernah merestui kalian dan menganggapmu menantu di rumah ini. Karena aku hanya punya satu menantu, dan itu hanya Farah." Ucap Papa Danu dengan tegas dan tatapan tidak suka pada Riana.

__ADS_1


"Tapi Pa, bagaimana kalo Riana hamil anakku?"


"Apa perduli Papa, itu urusan kalian!"


Papa Danu terlihat berapi-api dengan tatapan sinisnya pada Riana dan juga Gibran. Sementara Mama Rani terdiam dengan pemikirannya. Entah apa yang tengah dia pikirkan setelah tau semua kebenarannya.


"Riana, apa benar kamu hamil?" Tanya Mama Rani menatapnya dengan tatapan serius.


"Aku juga gak tau Ma, tapi sudah satu bulan ini aku belum kedatangan tamu bulanan," jawab Riana yang tiba-tiba merubah panggilan tante ke Mama.


"Pa, kalau Riana ternyata benar hamil, berarti dia hamil cucu kita Pa, pewaris keluarga Fernanda selanjutnya. Seharusnya Papa bahagia dengan berita ini."


Wah, aku benar-benar tidak menyangka Riana. Kamu sudah merebut hati semua orang. Sudah kau rebut hati suamiku, dan kali ini kau rebut juga hati mertuaku, lalu berikutnya siapa lagi?


Aku menanan tangis di sana. Meskipun dadaku sesak, tetapi aku tahan sekuat mungkin untuk terlihat baik-baik saja. Namun, hanya Papa Danu yang memperhatikanku. Ia tau kesedihanku saat ini, ia tau bagaimana terlukanya hatiku karena anaknya.


"Tidak tetap tidak. Pewaris tidak akan jatuh di tangan anak Gibran dengan perempuan mana pun selain Farah!" Ucap Papa Danu dengan tegas.


"Tapi Pa, Farah belum hamil. Mau menunggu sampai kapan? Sudah ada Riana yang juga istri Gibran Pa, dia mengandung anak Gibran, cucu kita Pa."


"Terserah kalian! Tapi keputusan Papa tetap sama. Selama Gibran dan Farah belum memiliki keturunan, Papa tidak akan menentukan ahli waris,"


Mama Rani seperti kalah telak, ia tidak bisa berkata-kata jika suaminya sudah memutuskan, maka yang terjadi akan sesuai kemauan suaminya.


Aku yang tidak berselera untuk makan memilih untuk beranjak dari sana dan kembali ke kamar. Aku membaringkan tubuh dan menutupinya dengan selimut. Sekuat apapun aku menahan air mata, tapi pada kenyataannya dia akan tumpah juga. Dalam diamku aku menangis. Kenapa nasibku tidak seberuntung mereka?


"Farah!" Aku buru-buru mengusap air mataku.


"Iya Ma," Aku duduk menyenderkan setengah badanku di kepala ranjang dengan tatapan menunduk.


"Kamu gak papa nak?" Aku mengangguk.


"Farah, Mama cuma mau bilang, Mama tau apa yang kamu rasain, sakit sekali memang. Tapi apa kamu tega menelantarkan anak yang tak berdosa?"


"Maksud Mama?"


"Riana hamil anak Gibran, Mama harap kamu bisa menerima kehadiran Riana di rumah ini. Setidaknya demi bayi yang dikandungnya itu nak, bayi tak memiliki dosa, bahkan untuk masalah orangtuanya, bayi itu tidak tau-menau."


TBC.

__ADS_1


__ADS_2