Di Ujung Talak

Di Ujung Talak
Sulit percaya


__ADS_3

Aku turut hadir di pemakaman anak Gibran dan Riana. Walau bagaimanapun aku pernah menjadi bagian dari keluarga mereka. Tidak enak saja rasanya jika sampai aku tidak hadir.


Aku melihat tangis seorang ibu yang amat dalam karena kehilangan anaknya. Akupun merasa kasihan pada Riana, aku masih punya hati nurani untuk berbela sungkawa kepada sahabatku itu.


"Kamu yang sabar ya Ri, ini sudah kehendak Allah. Kamu harus ikhlasin anak kamu, dia akan bahagia di atas sana, aku yakin itu," Aku memberi semangat pada Riana untuk tidak berlarut dalam kesedihan.


Tapi tiba-tiba, Riana menghempaskan tanganku,"Jangan sok peduli lo sama gue, lo pasti senengkan liat gue menderita kayak gini, gak usah muna lo Rah."


"Riana cukup! Ini di pemakaman, gak baik ada keributan di sini." Papa Danu menegur Riana.


Aku bukan kalian yang bahagia di atas penderitaan orang lain. Jelas aku masih punya hati nurani untuk bersimpati atas apa yang terjadi dengan orang-orang yang kukenal.


Setelah pemakaman selesai, aku memilih untuk segera pulang. Seperti biasa, Dimas akan selalu memgikutiku kemanapun aku pergi.


"Mending ngopi-ngopi dulu deh kak, kayaknya lesu gitu," ucapku pada Dimas saat mobilnya sudah berhenti di depan kost.


Dimas tidak langsung pulang, ia mengobrol ria dengan Ayah sementara aku membuatkan mereka kopi.


Ayah dan Dimas terlihat sangat akrab, keduanya begitu santainya mengobrol layaknya seorang teman. Aku melihat mereka dengan penuh kehangatan.


Ayah, aku begitu tau bagaimana khawatirnya setelah apa yang menimpa hidup putrimu ini. Dan untuk itu, jangan pernah memaksaku untuk kembali menemukan cinta yang baru. Karena kepingan luka ini, masih terlalu basah untuk di timbun.


"Nak Dimas, apa kamu menyukai Farah?" Ayah bertanya tiba-tiba pada Dimas tentang perasaannya padaku.


Aku yang mendengar itu dari dalam rumah seketika menghentikan langkahku yang ingin menyajikan kopi untuk mereka.


Aku ingin tau bagaimana jawaban yang akan Dimas berikan untuk pertanyaan Ayah.

__ADS_1


Aku belum siap membuka hatiku untuk siapapun.


Aku pernah kehilangan salah satu sumber kebahagiaan yang biasanya selalu menemani hari-hariku memang akan terasa berat di awal. Aku butuh waktu untuk beradaptasi dan kembali menata diri. Kenangan justru kadang semakin sulit ketika aku memaksa untuk segera melupakannya.


Biarkan saja luka itu sembuh dulu, tidak mengapa jika bayangan mantan masih sering datang. Lama kelamaan akupun akan mulai terbiasa menjalani hari tanpa dirinya. Sabar saja untuk menunggu momen itu tiba.


"Kopi, kopi, kopi.." Aku sengaja bicara lebih keras supaya Ayah menghentikan pertanyaannya. Bahkan pertanyaannya itu membuat Dimas mati kutu.


Ayah menatapku, dan aku memperlihatkan ekspresi wajah yang biasa saja seolah tak tau apapun.


Sekitar 10 menit setelah kubuatkan kopi, Dimas pamit pulang.


Aku mengantar Dimas sampai di depan pintu mobil kemudinya.


"Kak Dim!"


"Jangan pikirin apa yang Ayah tanyakan tadi, anggap aja angin lalu," aku meringis menunjukan deretan gigi putihku.


"Kenapa?"


"Ya gak kenapa, aku cuma gak mau kakak jadi terbebani dengan omongan Ayah terus malah gak fokus nyetir


Dimas terdiam sejenak sebelum ia mengangguk.


"Tapi kalau benar saya menyukaimu..


"Kak Dim, kakak tau apa yang terjadi di dalam pernikahanku sampai aku menjanda seperti ini. Sulit untuk memulai hidup baru karena masa lalu yang terus menghantuiku kak. Aku begitu takut semua lelaki akan sama seperti mantan suamiku."

__ADS_1


Aku tidak bisa memberikan Dimas harapan palsu demi bisa membuatnya merasa bahagia. Aku ingin sebuah hubungan diawali dengan rasa jujur dan tidak ada paksaan dari siapapun.


"Maafkan aku kak Dim. Aku perlu menata hatiku kembali setelah kehancuran melanda. Tetapi untuk cinta, aku sudah tidak mempercayainya!"


Bukan tanpa alasan aku mengatakan semua ini pada Dimas. Rasaku yang seperti sudah mati, aku juga ingin membangunkan kesadaran Dimas, kalau apa yang ia pikir tentang aku, sepertinya terlalu berlebihan.


"Fine, aku pulang dulu, jangan tidur terlalu malam!" Aku menganggukinya. Melihat kepulangan Dimas, aku menghela nafas lega. Ayah yang rupanya sedari tadi mengintip dari balik gorden jendela, seketika memanggilku.


"Farah, Dimas itu sepertinya baik nak, dia terlihat sopan, bahkan bicaranya sangat dijaga sekali. Ayah Yakin Dimas tidak akan seperti Gibran."


"Tidak akan ada yang tau apa yang akan terjadi kedepannya Yah. Kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari tutur katanya, semua itu masih bisa menipu. Farah tidur dulu yah, sudah malam." Aku meninggalkan Ayah dan masuk ke kamar lebih dulu. Di dalam kamar aku tidak langsung tidur.


Bohong!!! Kalau aku tidak tau perasaan Dimas. Aku memahaminya. Tapi aku malah menamparnya dengan sebuah pernyataan yang bisa saja membuatnya menjauhiku.


Rasanya semua orang akan mengangguk mendengar kalimat “tak ada yang pasti di dunia ini”. Sekalipun ilmu pasti seperti matematika atau ilmu alam lainnya, sewaktu-waktu bisa berubah jika semesta menghendakinya, begitu pula dengan cinta. Kalau dulu aku mengagungkan cinta dan selalu percaya dengan apa yang berhubungan dengannya, kini hal itu tak lagi sama. Sekarang, kalau orang-orang membicarakan cinta, aku akan mencibir atau bahkan malas mendengarnya. Saking tak ada lagi sisa percaya, aku sampai bilang:


Makan tuh cinta!


Ya beginilah hidup di dunia yang penuh dengan tweak-Nya. Saat aku sedang cinta-cintanya, aku malah harus berhadapan dengan pengkhianatan. Apalagi aku udah menjalin hubungan bertahun-tahun lamanya, ya meskipun itu hanya aku sendiri yang merasakannya, tapi rasanya seperti ditikam belati lalu ditinggalkan begitu saja. Darahku masih mengucur deras dan meninggalkan lubang yang dalam sekali. Saking sakitnya aku enggan membuka hati lagi. Bahkan menutupnya rapat-rapat sebab luka sebelumnya belum sepenuhnya sembuh.


Hidup memang penuh drama. Apalagi sejak hadirnya media sosial dalam hidup manusia. Semakin beragamlah drama yang anehnya selalu memperlihatkan yang indah-indah saja. Karena inilah aku jadi skeptis dan makin tenggelam. Tentang cinta ini, aku hanya mengenal yang manis dan indah saja. Namun begitu kenyataan tentang cinta ini aku terima, harapanku seolah diremukkan dalam sekejap pandangan. Nggak ada kata lain selain cukup di sini saja. Nggak ada pilihan selain tak percaya lagi soal cinta.


Sudah, sampai di sini saja. Hatiku sudah tak lagi punya daya untuk terluka.


Meski kata orang cinta adalah hal yang paling indah di dunia, tapi nyatanya aku justru sering disakiti olehnya. Diduakan, dimanfaatkan, sampai melihat orang-orang tersayang hidup dalam penyiksaan, merupakan alasan kuat untukku menutup rasa percaya akan cinta. Tidak, aku tidak salah. Aku hanya butuh waktu sampai pengobat lukaku datang. Dan buatku kembali percaya.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2