Di Ujung Talak

Di Ujung Talak
Yolanda


__ADS_3

"Shtttt, kepalaku pusing sekali rasanya," gumam Gibran yang baru saja terbangun dari tidurnya sembari memegangi kepalanya.


Malam ini, Gibran tidak pulang. Ia tertidur di club, lebih tepatnya di kamar sewa.


Dirasa sudah cukup sadar, Gibran melihat kenop pintu kamar mandi yang bergerak. Seseorang keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang basah dan tengah mengeringkannya dengan handuk.


Gibran terlihat berkali-kali mengucek matanya melihat seseorang itu.


"Kamu...! Ngapain kamu di sini?"


Seseorang itu tersenyum dengan langkahnya yang mendekati Gibran.


"Apa kau lupa? Semalam kita...


"Kamu pasti sudah menjebakku."


"Ck, seyakin itu?"

__ADS_1


"Ya, karna aku tau siapa kamu, Yolanda!"


Perempuan pemilik nama Yolanda Maharani itu tertawa buas. Ia merasa mendapatkan sasaran empuk yang tepat, apa lagi sasaran itu sudah lama diincarnya.


"Gibran, Gibran, lo masih sama kayak dulu, tampan, tapi juga cerdas. Baguslah kalo akhirnya lo sadar akan gue, ya secara kan dulu lo nolak gue mentah-mentah cuma karna Ayu, pacar lo itu. Dan sekarang, gue bisa mencicipinya juga apa yang selama ini gue harepin. Salah satunya buat milikin lo sepenuhnya."


Yolanda Maharani, teman satu kelas Gibran saat SMA. Aku tau Yolanda suka sama Gibran waktu itu, bahkan apapun caranya bakal dia lakuin demi bisa mendapatkan Gibran, meskipun harus dengan cara kotor sekalipun. Sampai pada akhirnya Gibran dan Ayu putus itu juga karena ulah Yola. Sementara aku, posisi hanya adik kelas yang kebetulan di kenal hampir satu sekolah karena kejuaraanku dalam lomba menyanyi. Dan mencintai kakak kelasku secara diam-diam, yaitu Gibran, yang saat ini adalah mantan suamiku.


"Sorry, Yol, aku udah nikah."


"Sadarlah Yola! Itu bukan cinta, kamu hanya terobsesi sama aku. Cinta gak kayak gini, Yol."


"Semua orang berhak mengekspresikan perasaannya masing-masing dan dengan cara masing-masing juga. Menurut gue, ini adalah ekspresi cinta gue ke lo, bukan obsesi."


"Satu lagi, semalem lo sebut-sebut nama Farah, apa Farah si culun itu?"


"Dia bukan culun, tapi dia..

__ADS_1


"Istri lo?" Gibran tidak menjawab.


"Lo gak sakit kan Gib, jangan karna lo lepas dari Ayu, terus seolah gak ada pilihan lain, jadi lo nikahin si culun itu. Astaga Gibran, ada gue sayang, lebih cantik, tubuh gue juga montok, dan permainan gue cukup menantang bukan?" Ucap Yola dengan berbisik di kalimat terakhirnya.


"Sudah aku katakan, dia bukan culun. Minggir!" Gibran beranjak dari ranjang dan membuka kenop pintu. Namun sayangnya setelah beberapa kali mencoba menggerakkan kenop pintu, pintu kamar tak kunjung terbuka.


Yolanda kembali mendekati Gibran, tangannya melingkar di perut Gibran.


"Lo tau? Apa yang gue ucapin ke diri gue sendiri saat ketemu lo. Gue gak akan ngelepasin lo Gib, bahkan ngebiarin lo pergi dari hadapan gue. Itu gak akan pernah gue lakuin!" Ucap Yola mantap.


Tangan Yolanda masuk ke dalam baju Gibran, ia meraba dada bidangnya dan memainkan sebuah benda kecil yang ada di sana. Gibran tampak memejamkan mata, seolah tengah menikmati sentuhan tangan Yolanda.


Perlahan tangan itu mulai turun ke bawah, mencari senjata untuk melakukan peperangan.


"Gue suka punya lo, Gib." Bisik Yola di telinga Gibran dengan nada yang ia buat sedikit mendesah.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2