Di Ujung Talak

Di Ujung Talak
Kehilangan


__ADS_3

Tiga bulan terakhir, aku tidak melihat kedatangan Riana di kantor. Terakhir yang aku lihat, perutnya sudah membuncit, dan mungkin sekarang sudah saatnya melahirkan.


Selama itu pula Gibran tidak memutuskan usahanya untuk selalu membujukku kembali padanya.


"Hatiku masih sama Farah, masih sangat mencintaimu. Aku ingin kita kembali seperti dulu dan hidup bahagia," Gibran menatapku penuh harap.


"Maaf kak, aku sudah nyaman dalam kesendirian. Lagi pula kak Gib sudah ada Riana, tidak perlu mengejarku seperti itu kak, ada istrimu yang bisa memberikan apapun yang kakak mau."


Gibran menggeleng,"Aku lebih membutuhkanmu Farah. Aku sangat merindukanmu," mata Gibran berkaca-kaca.


Aku merasa kasihan sebenarnya, tapi jika mengingat kejadian masa menyakitkan itu, tidak sanggup rasanya aku menatap Gibran.


Kekecewaanku padamu terlalu besar, hingga menutup hatiku untukmu.


Aku memejamkan mata mencoba menghilangkan bayangan masa kelam yang membuatku hancur berkeping-keping. Dan aku mencoba memberikan Gibran pengertian, bahwa aku hanyalah masa lalunya yang harus dia lupakan, sementara ada Riana, istrinya yang harus dia pikirkan.


Aku meninggalkan Gibran di depan Lift seorang diri. Aku ingin menemui Dimas di ruangannya.


"Kak Dim.." Panggilku lirih, dadaku amat sesak hingga membuatku sulit bernafas.


Mataku memerah penuh air, Dimas yang mengerti itu langsung memberiku segelas air minum yang ada di ruangannya.


"Kamu tidak papa, Farah?" Tanyanya cukup panik. Aku hanya mengangguk pelan dan duduk di sofa. Aku menunduk menyembunyikan wajahku. Aku terisak dalam diam. Aku tidak mengerti kenapa dengan hatiku, disaat aku bicara dengan Gibran, disaat itu pula bayangan masa lalu muncul. Aku tidak ingin mengingatnya, aku ingin melupakan masa buruk itu, masa yang membuatku selalu menangis setiap detiknya.


"Tenangkan dirimu!" Dua kata tapi cukup membuatku merasa nyaman dan tenang. Dimas, kata-katamu tak seberapa, tapi memiliki banyak sihir yang membuatku diam seketika menghentikan tangisanku.


Aku menceritakan pada Dimas tentang apa yang baru saja terjadi.


Dan Dimas selalu memberiku beberapa petuah yang selalu membuatku merasa tenang. Aku keluar dari ruangan Dimas, tiba-tiba saja..


"Maaf bu, apa pak Gibrannya ada?" Pak Amin ngos-ngosan mencari keberadaan Gibran.


"Di ruangannya pak, kenapa pak Amin ngos-ngosan gitu?"


"Iya bu, Ibu Riana mau melahirkan, dan pak Gibran malah susah dihubungi," jawabnya dan aku hanya ber oh ria menanggapi-nya.

__ADS_1


"Keruangannya saja pak!" Aku pergi meninggalkan pak Amin.


Aku kembali kekubikelku dengan perasaan campur aduk.


***


Riana sudah di bawa ke rumah sakit oleh Mama Rita. Gibran yang baru saja mendapat kabar dari pak Amin, seketika lari terbirit-birit meninggalkan kantor dan menuju ke rumah sakit.


Entah bagaimana kabar perempuan itu, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya dan juga bayinya.


Riana tampak meringis kesakitan yang luar biasa.


"Mas Gibran, hiks sakit..!" Riana memegang tangan suaminya sambil menangis.


"Sabar Ri, gak akan lama lagi."


"Sakit mas...Aaaaaa, huh..huh..huh Aaaaaaa"


Keringat bercucuran dari wajah Riana.


Bahkan wajah Riana terlihat sangat pucat.


Hingga satu jam kemudian, bayi Riana berhasip di lahirkan. Tetapi...


"Maaf pak, Allah berkehendak lain untuk anak kalian. Nyawanya tidak tertolong!"


Jedar...


Hancur berkeping-keping hati Gibran dan Riana yang mendambakan bayi laki-laki mereka, tapi Allah berkehendak lain. Bayinya berhasil dilahirkan dalam keadaan tak bernyawa.


"Bagaimana bisa dok?"


"Ketuban yang terlalu berlebihan membuat bayi itu keracunan pak."


Memeriksakan kesehatan kandungan sangat penting dilakukan para ibu hamil. Sehingga dapat dilakukan pengecekan berat badan janin hingga kondisi air ketuban.

__ADS_1


Ya, air ketuban sangat penting diperhatikan karena menyangkut kesehatan janin. Selama berada dalam kandungan, air ketuban berfungsi sebagai penghantar zat gizi untuk bayi. Sehingga, bayi memang akan minum dan menghirup air ketuban selama di dalam kandungan


Pada kasus janin keracunan air ketuban biasanya dikarenakan janin minum air ketuban yang terdapat kandungan mekonium di dalamnya. Mekonium sendiri merupakan feses pertama dari bayi baru lahir.


Ketika bayi mengalami kondisi keracunan air ketuban biasanya terjadi ketika bayi baru lahir menghirup campuran mekonium dan cairan ketuban ke dalam paru-paru pada waktu persalinan atau dinamakan meconium aspiration syndrome.


Kondisi tersebut menjadi penyebab utama penyakit parah dan kematian pada bayi baru lahir di mana terjadi pada sekitar 5 hingga 10 persen kelahiran. Biasanya, ini terjadi ketika janin stres selama persalinan terutama ketika bayi melewati tanggal prediksi lahir, seperti dikutip dari laman Hopkinsmedicine.


Mekonium sendiri juga merupakan feses berwarna hijau tua yang diproduksi di usus janin sebelum lahir. Setelah melahirkan, bayi akan mengeluarkan feses mekonium selama beberapa hari pertama kehidupannya.


Stres yang dialami bayi sebelum atau selama kelahiran dapat menyebabkan bayi mengeluarkan feses mekonium saat masih di dalam rahim. Feses mekonium kemudian bercampur dengan cairan ketuban yang mengelilingi janin.


Meskipun kondisi tersebut seringkali tidak mengancam jiwa, tetapi kondisi itu dapat menyebabkan komplikasi kesehatan yang signifikan bagi bayi yang baru lahir. Dan, jika kondisi itu parah atau tidak diobati, bisa berakibat fatal.


Riana terbengong setelah dokter mengatakan bahwa anaknya telah tiada.


Dokter keluar dari ruangan, dan langsung dihampiri Mama Rita yang tak mendengar suara tangisan bayi.


"Gimana dok, apa anak saya sudah melahirkan? Kenapa tidak tersengar suata tangisan bayi?" Mama Rita mencevar beberapa pertanya pada dokter yang membantu persalinan Riana.


"Anak ibu sudah melahirkan, tapi..


Mama Rita langsung menerobos masuk ke ruangan persalinan. Tapi ia heran melihat cucunya yang sudah terbungkus kain putih.


"Gak Gibran, katakan sama Mama apa yang Mama lihat itu gak bener. Katakan Gibran!"


"Ini kehendak Allah Ma, anak Gibran harus kembali lagi padanya. Kita harus ikhlas," Gibran seolah terlihat biasa saja. Kenapa?


"Riana!" Mama Rita memeluk menantunya yang terdiam dengan tatapan mata yang kosong. Takdir apa ini? Kenapa harus terjadi pada Riana?


"Anak Ria, Ma hiks.." Riana menangis dalam pelukan Mama Rita.


Jika Tuhan sudah berkehendak, maka tidak ada satu orangpun yang mampu menentangnya. Riana tidak menyangka harus kehilangan bayi yang selalu ia harapkan kehadirannya. Tetapi Tuhan maha tau segalanya. Ketulusan tidak pernah ada pada Riana, semuanya hanya karna ada tujuan yang ingin ia capai.


Allah telah membalasmu lebih pedih dengan kehilangan seseorang yang kalian cintai. Maka seperti itulah perasaanku yang pernah kehilangan Gibran dari hidupku.

__ADS_1


Dan aku tidak pernah menyesal sama sekali.


TBC.


__ADS_2