Di Ujung Talak

Di Ujung Talak
Tak Perduli


__ADS_3

Aku meninggalkan Gibran yang tak bergeming mendengarkan kata-kataku. Dia pikir aku menerima hidup seperti ini? Ck, jangan pernah bermimpi bisa memiliki dua wanita. Mungkin Riana menerimanya, tetapi tidak denganku.


Aku kembali ke pantry untuk mengambil kopi yang aku tinggalkan karena Gibran yang menarik tanganku secara paksa.


Tepat jam 12 siang, semua karyawan satu-persatu meninggalkan kubikel mereka untuk makan siang. Sesuai permintaanku, Dimas tidak pergi kemana pun, dia memesan makanan untuk makan siang kami.


"Terima kasih kak Dim," ucapku tersenyum melihat Dimas membawa makanan.


"Dimas! Sedang apa kamu di meja istri saya?" Gibran dengan tatapan elangnya menghampiriku dan juga Dimas.


"Jangan salah paham pak, saya han..


"Aku yang meminta Kak Dimas menemaniku makan siang," pangkasku seketika.


"Kamu gak lagi sakitkan sayang, kenapa meminta sekertarisku untuk menemanimu, dan kenapa gak memintaku?"


"Kamu Kak? Ck, bahkan akhir-akhir ini kamu gak pernah ada di kantor saat jam makan siang. Kamu lupa sama aku, saking bahagianya bercumbu mesra dengan perempuan murahan itu, iyakan Riana?"


Uhuk..uhuk..


Riana tersedak saat tengah meminum kopi yang baru saja di pesan.


"Farah, kenapa masih membahas itu."


"Karena itu yang sudah terjadi kak, ya hanya itu yang perlu kita bahas. Hal lainnya? Aku sudah tidak tertarik!"


Gibran terlihat mengepalkan kedua tangannya seolah tengah menahan emosi.


"Gak bisakah kamu terima Riana, Farah?"


"Gak!"


"Kenapa?"


"Karna aku tidak suka berbagi milikku pada siapapun. Kalo aku sudah terlalu muak, aku akan melemparkan bekas milikku buat sang pemungut."


Aku selalu berusaha tegar di depan kalian. Tapi kalian tidak tau bertapa rapuhnya aku, betapa sulitnya aku menata kepingan hati yang sudah hancur. Aku mencoba bersikap baik-baik saja seolah tidak terjadi apapun. Meskipun hati mati-matian menolak untuk tetap terlihat baik.


Kamu tahu apa yang kamu lakukan Gibran, dan kamu tahu itu akan menyakitiku, tapi entah bagaimana itu tidak menghentikanmu.


Mungkin ada yang salah dengan karaktermu jika kesempatan mengendalikan kesetiaanmu.

__ADS_1


Aku tidak kesal karena kamu berbohong padaku, aku kesal karena mulai sekarang aku tidak bisa memercayai suamiku lagi.


Dan aku orang yang cukup baik untuk memaafkanmu. Tapi, tidak cukup bodoh untuk memercayaimu lagi.


Karena jenis luka yang paling buruk adalah pengkhianatan, karena itu berarti kamu rela menyakitiku hanya untuk membuat dirimu merasa lebih baik.


Ingatlah ini! Selingkuh adalah hal yang paling menjijikkan, menyakitkan, dan tidak sopan yang bisa kamu lakukan terhadap seseorang yang kamu katakan kamu cintai.


Begitu kamu benar-benar menyakiti seseorang, itu akan selalu ada di benak mereka bahkan jika mereka masih memiliki senyum di wajah mereka.


Jangan pernah mengatakan bahwa selingkuh adalah kesalahan, sebuah kesalahan adalah kecelakaan. Selingkuh dan berbohong bukanlah kesalahan, itu adalah pilihan yang disengaja.


"Farah!"


"Cukup kak, ini adalah pilihanmu sendiri bukan? Maka ini juga jalan hidupku, jangan pernah memprotes apa yang akan aku lakukan, apa lagi sebatas hal wajar. Tidak sepertimu." Aku benar-benar muak dengan semua ini. Gibran menyakitiku dengan berselingkuh. Aku tidak cukup mampu untuk menerima perlakuanmu Gibran.


Aku meninggalkan mereka yang tengah berfikir apa tentangku. Aku sudah tidak perduli. Rasanya hati ini tidak kuat lagi melihat suamiku bersama dengan wanita lain. Haruskah aku mengalah dan merelakan suamiku untuk Riana miliki satu-satunya?


"Sudahlah Mas, Farah mungkin butuh waktu, tapi aku yakin kok, pelan-pelan dia pasti terima semua ini," Siluman ular berkedok sahabat itu terlihat berusaha meyakinkan suamiku. Aku tidak sudi mengatakan suaminya juga.


Aku pergi ke kost-anku yang pernah aku tempati. Kost'an itu masih dalam keadaan sama. Aku meminta kunci pintu kepada Ibu pemilik kost.


Aku merebahkan tubuhku di kasur butut yang teronggok tak berdaya di sana. Bukan hanya tubuhku yang merasa lelah, tapi hati dan pikiranku juga cukup lelah.


"Assalamualaikum Bude."


"Waalaikumsalam Rah. Ada apa?"


"Apa Ayah ada di rumah, bude? Farah kangen sama Ayah."


"Ada, sebentar, bude ke rumahmu dulu," aku menunggu bude Mala untuk sampai kerumah dan memberikan ponselnya kepada Ayahku.


"Assalamualaikum, nak."


"Waalaikumsalam Ayah!"


Mendengar suaranya, membuatku tak kuasa menahan linangan air mata. Aku menangis tak bisa berkata-kata, aku ingin bersandar di bahu Ayah, ingin meluapkan kekecewaanku, aku ingin bercerita apa yang terjadi padaku. Tetapi, aku tidak tega membebani Ayahku yang sudah renta itu.


Aku rindu Ayah...sangat...


"Kenapa menangis, nak? Semuanya baik-baik saja kan?" tanya Ayahku yang terdengar cukup khawatir dari suaranya.

__ADS_1


"Iya Ayah, semuanya baik-baik saja, Farah hanya rindu dengan Ayah," aku semakin tersedu merasakan sakit yang luar biasa dalam hati ini hingga membuatku sulit bernafas.


"Berkunjunglah kemari, ajaklah Gibran. Dia juga pasti rindu kampung halamannya."


'Hubunganku dan Gibran tidak sehangat dulu Ayah. Entah sampai kapan aku bisa bertahan dengan posisi seperti ini. Hatiku tidak sanggup harus berbagi suami dengan sahabatku sendiri, disisi lain aku memang mencintai Gibran' Aku hanya bisa jujur dengan bathinku.


"Iya Ayah, kalau Kak Gibran cukup senggang, kami akan berkunjung kesana."


"Ayah tutup dulu, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Aku masih terisak sambil memukul dadaku pelan. Sakit ya Allah...sangat sakittt


***


Gibran kelimpungan mencariku yang sudah dua jam tidak kembali ke kantor. Dia terus menghubungiku, tetapi begitu enggan aku menjawab telfon darinya. Kubiarkan ponselku terus berdering, aku tidak berniat menjawab telfon dari Gibran.


Arghhhh...


Gibran membanting ponselnya frustasi panggilan telfonnya tidak kunjung kujawab.


"Kamu kenapa sih Mas, marah-marah gak jelas deh." Riana yang baru masuk keruangan Gibran dibuat heran dengan suasana hati Gibran yang tidak baik-baik saja.


"Farah tidak menjawab telfonkku, entah dimana dia sekarang."


"Dia udah gede kali mas, nanti juga pulang sendiri," ucap Farah sedikit cemburu dengan Gibran yang terlihat mengkhawatirkan ku.


"Aku juga suaminya Ri, dia masih tanggungjawabku. Kalo sampe terjadi apa-apa padanya, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri."


"Apa Mas lebih mencintai Farah dari pada aku?"


"Pertanyaan konyol, kenapa aku harus me jawab pertanyaan yang kamu sendiri sudah tau jawabannya."


"Jadi bener? Mas lebih perduli sama Farah dari pada aku."


"Riana, aku tidak bisa memilih satu diantara kalian. Karna hatiku memiliki perasaan yang sama untukmu dan juga Farah."


"Tapi kalo aku gak rela Mas dimiliki Farah juga, apa Mas mau pilih satu diantara kami?"


"Maksud kamu apa?"

__ADS_1


"Aku tidak munafik Mas, kalo aku juga cemburu saat melihatmu begitu perduli dengan Farah. Aku juga tidak rela berbagi apa yang aku punya pada orang lain, apa lagi ini masalah hati Mas."


__ADS_2