
Setelah mendapatkan talak dari suamiku, aku melayangkan surat gugatan cerai untuk Gibran. Setuju atau tidak, aku tetap pada keputusanku.
Gibran terlihat mati-matian membujukku dan juga Ayah untuk memberinya kesempatan. Tetapi apa yang sudah dilakukannya sangatlah membuat bathinku menderita.
"Aku sudah menandatangani-nya kak, sekarang giliranmu!" Aku meletakan map berwarna hijau lengkap dengan pulpennya di atas meja.
"Tidak adakah kesempatan untukku, Farah. Aku janji, akan menceraikan Riana setelah bayi itu lahir, aku janji padamu Farah."
"Aku tidak setega itu sampai harus menjauhkan anak yang tak berdosa dari kedua orangtuanya demi kebahagiaanku seorang diri. Sudahlah kak Gib, ini yang kamu inginkan bukan? Dengan caramu berselingkuh, itu sangat jelas kalau kakak ingin berpisah dariku. Sekarang sudah kulancarkan niatmu itu, dan kalian bisa hidup bahagia tanpa ada aku."
"Cepatlah kak, aku tidak punya waktu untuk bersabar menunggumu tanda tangan."
Dengan keterpaksaan, Gibran mencoretkan tinta hitam di atas materai surat perceraian kami.
Tangannya cukup gemetar saat memegang pulpen. Aku menatap surat itu dengan intens sampai Gibran benar-benar sudah menandatangani-nya.
"Ma, Pa, aku minta maaf untuk semuanya. Tolong jangan pernah membenciku karena sudah tidak lagi jadi mantu kalian. Aku akan tetap menganggap kalian sebagai orangtuaku. Maafkan aku jika selama ini aku kurang berkenan di hati Mama dan Papa." Aku meneteskan air mataku saat menatap mereka.
Mama Rani juga ikut meneteskan air matanya, dia memelukku,"Mama yang seharusnya minta maaf sama kamu, Farah. Karna Gibran sudah membuat hatimu terluka. Jangan pernah membenci kami, Mama dan Papa akan menganggap kamu sebagai anak perempuan kami. Jika berkenan, tetaplah tinggal di rumah ini nak!"
"Mama kamu benar, Farah. Lebih baik kamu tetap tinggal di rumah ini."
"Itu gak perlu Pa, aku masih bisa kost di tempat lamaku. Lagi pula aku akan tinggal sama Ayah, jadi gak akan sendirian lagi," aku menjawab mereka dengan senyum.
Mereka tidak bisa lagi mencegahku. Ini hidupku dan aku berhak bahagia. Selamat untukmu Riana, karena sekarang hanya kamulah istri satu-satunya untuk Gibran. Aku dengan suka rela membagi bekasku untuk pemungut sepertimu.
***
Aku meminta Ayah untuk tetap tinggal di jakarta. Dia juga tidak akan mengijinkanku seorang diri di kost'an.
"Seharusnya gak perlu jemput aku lagi Kak Dim, aku sudah bukan bosmu lagi," ucapku pada Dimas yang tiba-tiba datang menjemputku.
Dimas tertawa renyah,"Saya menjemputmu, Farah, bukan menjemput bos saya."
Aku mencerna kata-kata Dimas padaku.
"Kak Dimas sengaja jemput aku?" Melihatnya mengangguk membuatku tersenyum tipis.
"Alhamdulillah, lumayan ngirit ongkos hehe," ucapanku berhasil membuat Dimas tertawa.
Kami berangkat ke kantor bersama. Dimas meskipun terlihat cuek, tapi tingkat kepekannya cukup tinggi.
Lagi pula, cueknya itu hanya untuk orang yang baru dikenalnya, tapi jika sudah akrab, dia akan terlihat lebih cerewet dari emak-emak yang habis diselingkuhi ahhaha.
__ADS_1
Sebelum sampai di kantor, Dimas membawaku ke tempat pusat perbelanjaan.
"Kok kesini?"
"Sebentar doang," jawabnya.
Aku hanya pasrah dan mengikuti langkah kaki Dimas di belakangnya.
Hingga langkah kakinya berhenti di depan toko sepatu.
"Kak Dim, ngapain kita kesini? Kakak mau beli sepatu? Tapi ini kan khusus cewek."
"Kamu!"
"Hah, aku? Maksudnya?"
"Saya lihat sepatumu sudah mulai rusak. Jadi pilihlah!"
"Kak Dim, ini harganya mahal-mahal tau, aku mana ada uang sebanyak itu sampe harus beli sepatu mahal."
"Mbak, pilihkan sepatu yang paling bagus ukuran 38!" Dimas tidak menanggapi, tapi dia malah sibuk meminta penjaga toko memilihkan sepatu untukku. Dari mana dia tau ukuran sepatuku 38?
Sebenarnya, dulu Gibran sempat meminta Dimas untuk mencarikan sepatu ukuran 38 untuk Farah, ketika ia masih jadi istri Gibran satu-satunya.
"Yang itu bagus mbak, yang itu saja!" Lagi-lagi dia tidak meresponku malah sibuk sendiri memilih sepatu.
"Kak Dim..
"Berapa mbak?"
Aku hanya bisa menghela nafas menunggu sampai Dimas benar-benar selesai dengan belanjaannya.
Aku terus mencecarnya dengan berberapa pertanyaan, tapi dia selalu tidak menjawab dan malah mengalihkan pembicaraan.
Yang dia katakan hanya..
"Aku membelikannya untukmu!"
Aku tidak mengerti kenapa Dimas membelikanku sepatu, padahal aku merasa sepatuku itu terlihat baik-baik saja dan masih sangat layak pakai.
"Ayo turun!" Dimas membukakan pintu mobil untukku. Ada apa dengannya? Sikapnya aneh sekali.
Aku langsung turun dari mobil Dimas dan melangkah memasuki kantor.
__ADS_1
Pria itu terlihat mengikutiku dari belakang.
"Kak Dimas ngapain ngikutin aku? Kita beda ruangan kak!"
"Saya tau!"
"Lalu?"
"Pengen saja melihatmu sampai di tempat duduk," hahahha jawaban uang konyol.
pffthhh..
Aku meraba kening Dimas.
"Gak panas."
"Kenapa?" Dimas sedikit memundurkan tubuhnya.
"Kak Dimas aneh tau gak, aku udah gede kali kak, gak perlu diawasin gitu. Ada-ada aja deh," jawabku sambil tersenyum.
Dimas menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. Semua karyawan melihat kebersamaan kami.
"Ibu lebih cocok sama pak Dimas bu," teriak salah satu karyawan satu divisi denganku.
Aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkahnya yang tiba-tiba menjodohkanku dengan Dimas.
Dimas memang baik, tetapi tidak mungkin dia mau dengan janda, dia sendiri masih bujangan.
Aku nervous duluan sebelum kenyataan itu terjadi.
Gibran yang baru saja sampai tatapannya penuh damba melihatku. Sedangkan aku, aku tengah di tatap aneh oleh Dimas.
"Selain aneh, kakak juga hobi menatapku ya?"
"Eh." Dimas salah tingkah dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Aku terkekeh melihatnya seperti maling yang tertangkap basah.
Aku tau kalau Gibran tengah memperhatikan kami dengan kecemburuannya. Walau bagaimanapun, dia menceraikan aku karena terpaksa. Tapi untukku tidak ada pilihan lain, perpisahan adalah jalan terbaik untuk pernikahanku dengan Gibran.
Kamu terlalu dengan seenaknya menggoreskan luka di hatiku, tanpa tau akibatnya. Sekarang menyesalpun sudah terlambat, karena aku sudah terbiasa dengan hidupku yang tidak lagi perduli urusanmu.
'Begitu cepatnya kamu melupakanku Farah, melupakan semua kenangan kita. Aku masih sangat mencintaimu, aku terpaksa menceraikanmu. Andai saja kau mampu memberiku kesempatan, aku berjanji akan memperbaiki diri dan suami yang baik untukmu. Apakah kesalahanku sefatal itu? Jangankan untuk berbicara denganku, menolehku saja sepertinya sudah terlalu muak untukmu. Farah, aku merindukanmu, merindukan senyuman yang saat ini kau berikan untuk pria lain. Aku sangat-sangat rindu tentang kita' Gibran hanya mampu berbathin melihatku tertawa bahagia dengan Dimas.
Ini belum seberapa perihnya Gibran, bisa bayangkan saat kamu tau aku tengah bercumbu mesra dengan pria lain disaat statusku masih jadi istrimu. Apakah kamu bisa membayangkan rasanya?
__ADS_1
TBC