Di Ujung Talak

Di Ujung Talak
Kedatangan Ayah


__ADS_3

Semenjak pertengkaranku dan Gibran di kantor tempo hari, aku memutuskan untuk tinggal kembali di kontrakan yang sebelumnya pernah kutempati.


Aku tidak perlu izin dengan siapapun terkecuali Papa Danu. Hanya dia satu-satunya orang yang mengerti bagaimana perasaanku.


Gibran marah padaku karena selalu mengabaikannya. Dan aku sendiri merasa kecewa dengannya yang tidak mengerti hatiku.


Entah sejak kapan, aku dan Dimas semakin dekat. Disaat aku lebih mengenalnya, ternyata Dimas tidak sekaku yang kubayangkan. Setiap hari dia selalu mengantar jemputku ke kantor.


Seperti pagi ini, aku sudah bersiap dengan pakaian kerjaku. Deru mobil berhenti di depan kost'anku.


Aku bergegas keluar, mengingat waktu sudah semakin siang, dan aku tidak ingin terlambat bekerja.


"Kak Gibran," gumamku lirih saat melihat siapa yang menjemputku.


"Ngapain kesini?" Ucapku dengan nada tidak sellow, aku semakin muak melihat wajahnya. Jika saja aku boleh memilih, ingin rasanya aku pergi dari kehidupan pria tak punya hati ini. Aku masih mengikuti perkataan Papa Danu.


"Farah, jikalau kamu bukan istri Gibran, Papa akan tetap menganggap kamu sebagai anak perempuan Papa, nak. Tolong bertahanlah sebentar lagi, akan Papa urus semuanya. Jika waktunya tepat, kamu juga akan tau nanti."


Begitulah Kata-kata Papa yang membuatku selalu mati kutu dengan kesabaran.


"Menjemput istriku, apa itu salah?" Ucapnya tak tahu malu.


"Cih, bukannya istrimu selalu ada, kenapa mencariku?"


"Farah, sungguh aku tidak ingin berdebat denganmu. Jangan memancing perdebatan kita."


Aku diam..


"Masuklah, kita akan terlambat ke kantor jika kau terus saja mengoceh."


Kali ini aku menurutinya, tetapi sebelum itu, aku lebih dulu mengirimi Dimas pesan untuk tidak menjemputku.


Aku masuk ke dalam mobil Gibran. Sudah sangat lama aku tidak pernah lagi masuk mobil penuh kenangan ini.


Saat Gibran menciumku, memegang tanganku meskipun dia tengah menyetir dan banyak cerita hingga membuat kami saling tertawa. Jika mengikuti hati, tidak dipungkiri aku memang merindukannya.


Tetapi semua itu kini berubah, bukan hanya kenanganku saja yang ada di dalam mobil ini, tetapi Riana juga.


Sesekali aku menyeka air mataku yang tengah memalingkan wajah dari Gibran.


Aku tidak bisa harus mengatakan rindu padanya setelah apa yang sudah ia lakukan padaku.

__ADS_1


Gibran menyadari aku tengah menangis, dia menepikan mobilnya dan berhenti sejenak.


Dia memegang bahuku, memutarkannya sedikit hingga posisi kami saat ini saling berhadapan. Hanya saja aku tidak sanggup menatapnya dan memilih untuk menunduk.


Gibran mengangkat daguku dengan jarinya, pipiku yang basah dan mata yang sedikit sembab membuat Gibran menggelengkan kepalanya.


Aku ingin memelukmu Kak Gib, dan bilang kalau aku merindukanmu..


Tapi hatiku terlalu menolak setelah goresan berhasil kau ciptakan disana.


Gibran mendekatkan wajahnya ke wajahku, aku tau dia berniat menciumku tapi aku segera memundurkan badanku menjauhinya.


"Kenapa? Apa kamu tidak merindukanku?"


"Lebih baik lanjut jalan, udah jam setengah 8 dan kita sudah terlambat setengah jam," ucapku dengan wajah yang kualihkan.


"Kamu berubah Farah, kamu bukan Farah istriku yang dulu."


"Dan kamu juga bukan suamiku yang dulu! Jangan pernah menyalahkanku atas sikapku padamu kak Gib, karna kamu sendiri yang secara gak langsung menginginkan aku menjauhimu."


"Sudah berapa kali aku bilang, Riana hamil anakku, Farah. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja."


"Aku merindukanmu Farah, sangat merindukanmu."


"Simpan saja rasa gak penting itu kak, karna aku tidak membutuhkannya."


"Sebegitu marahnya kamu sampai-sampai tidak mau kusentuh?"


"Aku tidak marah kak, hanya perlu sedikit berjaga jarak supaya hatiku tidak lagi terluka. Semakin aku dekat denganmu, semakin sakit aku mengingat perselingkuhan kalian."


"Lagi pula ada Riana yang bisa memenuhi keinginanmu, tidak perlu mencariku."


"Apa semua ini karna Dimas?"


"Gak ada hubungannya sama sekali dengan kak Dimas. Kalopun aku dekat dengannya, itu hanya sebatas kerjaan. Lagi pula gak seharusnya kakak marah melihat kedekatanku dengan kak Dimas. Karna apa yang aku lakukan, kakak sudah lebih dulu melakukannya dengan Riana, bahkan lebih parah dari yang kubayangkan."


Gibran tak bersuara setelah mendengar kata-kataku. Aku tidak lagi berbicara sampai mobil memasuki pelataran kantor Fernanda Corp.


Aku langsung turun tanpa memperdulikan Gibran.


Dan Gibran menatapku dengan perasaan sedih.

__ADS_1


Aku semakin sibuk dengan pekerjaanku, bahkan sekertaris Gibran, Dimas si pria kaku itu aku dia lebih banyak membantuku dari pada suamiku.


Kedekatanku dengan Dimas membuat Gibran naik pitam. Dia selalu mencuri waktu Dimas supaya tidak dekat denganku lagi.


Sore menjelang, aku memilih pulang terlebih dulu merasakan kepalaku yang cukup pusing. Dengan diantar Dimas, aku kembali ke kost-anku.


****


Berbeda dengan suasana rumah Gibran, Mama Rani terlihat bahagia karena tidak akan lama lagi Riana akan melahirkan cucunya. Dengan sibuknya Mama Rani selalu membeli perlengkapan bayi dengan berbagai macam merk mahal.


Sempat beberapa saat lalu Mama Rani menelfon bukan untuk menanyakan bagaimana kabarku saat ini, tetapi dia meminta pendapatku tentang baju-baju bayi yang sudah ia beli.


Perasaan iri di hatiku semakin terasa, tapi mau bagaimana lagi, aku hanya busa bersabar seperti yang selalu Papa Danu katakan.


Suara bel rumah terdengar, semua orang yang terlihat tengah bersenda gurau di ruang keluarga terdiam seketika.


Asisten rumah tangga keluarga Fernanda berjalan dengan sedikit berlari membukakan pintu pagar untuk melihat siapa yang berkunjung.


"Permisi Bu, ada pak Hanan di luar," ucap sumu, asisten rumah tangga di rumah itu.


Deg..


Semua orang terdiam dengan cukup panik, terlebih lagi Gibran. Entah bagaimana jika Ayahku sampai tahu tentang perselingkuhan-nya.


Ayahku disambut baik oleh keluarga Gibran, terutama Papa Danu. Entah kenapa dia sendiri yang lebih bersemangat dengan datangnya Ayahku ke kerumahnya.


Gibran semakin berkeringat dingin saat Ayahku sudah masuk ke dalam rumahnya.


Papa Danu mempersilahkan Ayah untuk duduk bergabung dengan mereka. Mata Ayah kesana kemari seolah mencari sesuatu. Semua orang mengerti arti tatapan Ayah.


"Kemana Farah?"


Deg...


Jantung Gibran bergemuruh takut, berulang kali ia menelan salivanya sendiri. Tenggorokannya terasa kering, lidahnya tercekat tak bisa berkata-kata.


"Farah izin keluar dengan temannya Pak, katanya ada barang yang harus di beli," jawab Mama Rani berbohong.


"Lalu siapa perempuan hamil ini? Sepertinya saya pernah melihatnya."


TBC.

__ADS_1


__ADS_2