Di Ujung Talak

Di Ujung Talak
Kemarahan Ayah


__ADS_3

"Lalu siapa perempuan hamil ini? Sepertinya saya pernah melihatnya." Ayah mempertanyakan keberadaanku sekaligus dengan adanya Riana yang tengah hamil duduk di tengah-tengah mereka.


"Ayah, dia..


"Dia menantu kami juga, pak Hanan, istri ke dua Gibran!" Pangkas Papa Danu yang membuat semuanya terkejut. Gibran menunduk tak berani menatap Ayahku.


"Apa? I-istri kedu-dua?"


"Benar Pak Hanan, dia Riana teman kantor Farah, bahkan pak Hanan melihatnya saat pernikahan Farah dan Gibran berlangsung," ucap Papa Danu lagi.


"Gak mungkin Danu, Gibran, katakan sama Ayah kalau ini tidak benar. Katakan Gibran!" Suaranya mulai meninggi.


Gibran bangkit dari duduknya dan bersujud di kaki Ayah.


"Maafkan Gibran Ayah, maafkan Gibran!"


"Bangun kamu!"


Plak..


Plak..


Bugh..


Tamparan dan pukulan Ayah mendarat di pipi dan bahu Gibran. Gibran terhuyung seketika, Mama Rani dan Riana bangkit dari duduknya menolong Gibran. Sementara Papa Danu, terlihat tak bergerak sedikitpun, bahkan menolong Gibran pun tidak ia lakukan.


"Laki-laki biadab kamu Gibran, mana janjimu untuk selalu membahagiakan anak saya, hah? Mana?"


Bugh..


"Cukup pak, jangan sakiti suami saya!"


Plak...


"Sesama wanita dimana perasaanmu, hah? Kamu dengan tega merebut suami teman kamu sendiri, murahan sekali kamu." Ayah benar-benar tak terkendali.


Selain memberikan Gibran pelajaran, Ayah juga menampar Riana.


"Pa, bantu lerai mereka dong, kenapa diam saja?" Mama Rani menggoyangkan tangan suaminya yang sedari tadi jadi penonton.

__ADS_1


"Buat apa? Gibran pantas mendapatkan itu. Karna memang dia salah, dan Mama tidak perlu membela orang yang salah."


"Dimana Farah sekarang, hah? Dimana?" Teriak Ayah sambil menarik kerah baju Gibran.


"Amiiiin....!"


Dengan lari terbirit-birit, Amin selaku supir pribadi keluarga Fernanda menghampiri Danu yang memanggilnya."Ya Tuan?"


"Jemput Farah sekarang!"


"Baik tuan," ucapnya patuh. Amin pergi menjemput Farah di kostan.


Gibran benar-benar tidak bisa menghadapi Ayahku yang sudah sangat marah itu.


Tak berapa lama setelahnya, aku datang ke rumah mereka karena pak Amin menjemputku dan bilang kalau di rumahnya tengah ada keributan besar.


Aku mematung saat melihat sosok pria yang sangat amat aku rindukan. Aku berlari memeluk Ayah, aku menangis sejadi-jadinya di pelukan hangatnya.


Mengekspresikan bagaimana hatiku yang tengah tidak baik-baik saja.


Ayah juga menangis saat aku memeluknya, dia bisa membayangkan betapa hancurnya hidupku saat suami yang aku cintai berselingkuh dengan wanita lain.


Semua orang terlihat diam di tempat duduknya, tak ada satupun yang berani berbicara, terkecuali Papa Danu.


"Saya selaku orang tua, sangat menyayangkan prilaku Gibran, pak Hanan. Sekarang saya tidak akan menahan Farah lagi untuk tetap bertahan di hubungan sepertu ini. Farah, inilah saat yang tepat untuk kamu memutuskan jalan hidupmu sendiri nak."


"Farah putuskan untuk bercerai dari kak Gibran!"


"Gak Farah, aku gak mau kita cerai, aku mohon maafkanlah aku, Farah. Ayah Gibran mohon, berikan Gibran satu kesempatan lagi. Kali ini Gibran janji Ayah!"


"Semuanya sudah terlambat, Gibran. Ayah terlalu kecewa untuk bisa memaafkan kesalahanmu dan perempuan murahan ini. Kalian berdua benar-benar menjijikkan!"


"Papa terima keputusan kamu Farah. Dan untukmu Gibran, seperti yang sudah Papa katakan, Papa tidak akan memberikan satu senpun harta warisan keluarga Fernanda kepadamu jika sampai kamu dan Farah bercerai."


"Gak bisa gitu dong pa, aku juga hamil anak Gibran, cucu kalian. Apa kalian tega melihat cucu kalian nanti hidup sengsara?"


"Papa tidak perduli itu, itu urusan Gibran. Kalian harus bertanggungjawab atas perbuatan kalian sendiri. Papa tidak akan ikut campur, dan Mama, Papa harap Mama bisa mengerti keputusan Papa. Mama dan Farah sama-sama perempuan, seharusnya Mama lebih mengerti perasaannya dari pada pada Papa."


Riana menghentakkan kakinya kesal mendengar keputusan Papa Danu. Sementara Gibran masih terus berusaha membujukku dan Ayah untuk bisa memaafkannya dan memberinya kesempatan.

__ADS_1


Tapi aku, aku terlalu muak dengan semua drama ini. Gibran menahanku hanya seolah-olah karena harta warisan orangtuanya.


Dan Riana begitu menatapku dengan kebencian, karena begitu percuma ia menjadi istri satu-satunya dari Gibran, kalau ternyata Gibran tidak mendapatkan satu senpun harta warisan keluarganya. Hahhahaa emang enak.


"Ini semua gara-gara lo Rah, kalo lo gak hadir di hidup Gibran, gak akan jadi kayak gini. Lo tu cewek pembawa sial dalam hidup gue, dasar gak tau diri," Farah menjambak rambutku.


Mama Rani dan Gibran menolongku, termasuk juga Ayah.


"Hentikan Riana! Cukup!" Gibran membentak Riana.


"Kenapa Mas, kamu mau belain istri pembawa sial kamu ini. Sadar Mas, gara-gara dia kamu jadi gak dapet apa-apa."


"Cukup Riana!"


"Aku bilang cukup, jangan pernah kamu berkata buruk tentang Farah. Karena bagaimanapun dia adalah kakak madumu."


"Cih, bahkan melihatnya sudah membuatku muak." Riana tampak berapi-api.


Sedangkan aku tetap pada keputusanku yang sudah lama aku tahan hanya karena permintaan Papa Danu.


Ayah mendukung penuh keputusanku. Bahkan dia sangat menginginkan aku lepas dari Gibran si pria biadab yang gak tahu diuntung.


"Melihat karaktermu, saya tidak heran jika sampai kamu dengan tega merebut suami temanmu sendiri," ucap Ayah pada Riana.


"Asal bapak tau, saya dan Gibran menikah itu karna saling mencintai."


"Dan kamu sudah mencintai suami orang bahkan berusaha merebutnya itu adalah kesalahan yang sangat fatal!"


Perselingkuhan yang Gibran lakukan adalah bukti paling jelas dari pengkhiatan pasangan. Namun, sebelum sampai pada tuduhan ini, tentu aku sudah selidiki baik-baik apa yang sebenarnya terjadi antara pasanganku dan seseorang yang rutin ditemuinya.


Sebelum pernikahan, aku dan Gibran sudah menetapkan batasan mana hubungan yang dikatakan selingkuh. Dalam beberapa budaya, memeluk sahabat yang berlawanan jenis adalah hal yang biasa. Namun, di beberapa tempat, bersentuhan fisik dalam bentuk apapun bisa disebut perselingkuhan.


Sakit hati tak melulu soal cinta, dalam menjalani kehidupan akan ada permasalahan yang datang silih berganti. Masalah inilah yang seringkali melukai perasaan dan menyebabkan sakit hati. Sebuah keadaan di mana seseorang merasa tidak senang karena dilukai hatinya, seperti dihina, dikhianati, ditipu, dan sebagainya.


Memang tak kasat mata, namun sakit hati mampu menyebabkan gejala penyakit fisik yang merugikan jika terus terjadi tanpa terkendali. Selain bantuan motivasi dari orang lain, kesembuhan sakit hati hanya berasal dari diri sendiri. Keinginan untuk bangkit, menghadapi masalah adalah jalan terbaik beranjak dari keterpurukan.


Aku hanya bisa berharap, ini adalah awal yang baru dalam hidupku. Awal hidup yang jauh lebih baik. Untuk cinta, aku sudah tidak mempercayainya setelah apa yang sudah aku alami.


TBC

__ADS_1


__ADS_2