Di Ujung Talak

Di Ujung Talak
Menikah lagi?


__ADS_3

Saat Gibran terbangun dan sadar, lagi-lagi ia berada di ranjang yang sama. Yolanda benar-benar tidak melepaskan Gibran walau untuk satu menit. Gibran beranjak dari kasur dan mencari ponsel miliknya. Ia berniat menghubungi Riana yang sudah pasti mencarinya. Mengingat Gibran tidak pulang ke rumah lebih dari 24 jam.


"Argh.....sial..!" Gibran menggerutu karena tak menemukan ponselnya.


Engh...


Lenguhan Yolanda saat mendengar suara brisik yang Gibran ciptakan.


"Cari apa?"


"Ponsel," jawab Gibran singkat dengan nada kesalnya.


"Ada sama gue."


Gibran langsung berbalik dan menatap intens Yolanda yang ternyata menyembunyikan ponselnya.


"Mana ponselku?"


Enggan menjawab, Yolanda beranjak dari ranjang sambil mengikat rambutnya tinggi-tinggi.

__ADS_1


Gibran yang mulai kesal karena tidak ditanggapi Yolanda, seketika ia menarik tangan Yolanda hingga membuatnya hampir terjatuh.


"Kembalikan ponselku, Yola!"


"Tenanglah Gib, lo gak usah khawatir soal Riana ataupun Farah, karna gue udah ngehubungin mereka."


Gibran mendelik tajam dengan tangannya yang mengepal.


Yolanda akhirnya mengetahui kalau Farah adalah mantan istri Gibran, sementara Riana adalah istri Gibran saat ini. Semua itu ia tahu setelah memeriksa ponsel milik Gibran.


Melihat kepanikan Gibran, Yolanda menyeringai penuh kemenangan.


"Lo gak usah khawatir kalo gue bakal bongkar kebersamaan kita sama istri lo itu, karna ini belom saatnya. Tapi gue bakal pastiin itu terjadi, Gib. Dan saat itu tiba, lo bakal jadi milik gue sepenuhnya. Hanya milik gue seorang!"


Yolanda mendekati Gibran dan berjalan memutarinya,"Ya, gue tau. Tapi, lo gak akan bisa nolak Gib, gue bisa jamin dan gue sangat yakin itu."


Entah apa yang sebenarnya Yolanda rencanakan, hingga membuatnya begitu yakin kalau Gibran tidak akan bisa menolaknya kali ini.


***

__ADS_1


Meninggalkan Gibran yang tengah menjadi tahanan pribadi Yolanda, aku sendiri tengah dilanda kebingungan dengan kata-kata Ayah.


"Kamu masih muda, kehidupanmu masih panjang, Farah. Sebelum ajal menjemput Ayah, Ayah pengen melihat kamu bahagia dengan pasangan yang tepat buat kamu nak. Syukur-syukur Ayah masih bisa melihat anak-anak kalian, pasti itu kenangan terindah Ayah. Menikahlah, Farah! Buka hatimu untuk memulai lembaran baru dan menutup rapat kisah lama."


Begitulah kata-kata Ayah yang baru saja kudengar 15 menit lalu.


Siapa yang tidak menginginkan punya pasangan? Hidup bahagia membina rumahtangga. Tapi, kegagalan pada pernikahan pertamaku membuatku cukup trauma untuk mengulang kembali yang ke dua. Aku tidak lagi percaya cinta yang selalu ingin kudengar dari bibir seseorang. Bahkan diriku sendiri tidak lagi bisa mengatakan cinta setelah apa yang terjadi.


Sakit hati karena pengkhianatan yang suami dan sahabatku lakukan, membuatku ingin menutup dunia dari cinta.


Memang, sebuah rasa tidak bisa disalahkan, hanya bagaimana sang pemilik hati menyikapi rasa itu.


'Aku sangat takut, takut untuk merasakan kegagalan, takut merasakan kembali patah hati, pengkhianatan, kebohongan, dan masih banyak lagi. Entah berapa ribu ketakutan yang kurasakan saat ini. Gibran meluluhlantakkan hatiku tanpa sisa, lalu masih harus percaya soal cinta?'


Aku seperti tengah merasakan hukum karma dari kesalahan yang selama ini kuperbuat.


"Menikahlah dengan Dimas!"


Aku terkejut mendengar kalimat yang baru saja terlontar dari Ayah.

__ADS_1


Menikah dengan Dimas? Ck, belum ada nota dalam hidupku ini untuk itu


TBC.


__ADS_2