
Aku dan Ayah sudah siap dengan pakaian rapi kami. Entah Dimas akan membawa kami kemana.
Aku yang duduk di kursi tengah mendengarkan secara intens obrolan dua pria ini. Jika mengingat sandal rumahan yang Dimas pakai tadi, aku merasa geli dan terkekeh sendiri.
"Kamu kenapa Farah?"
"Eh, gak Yah, gak ada," jawabku sambil tersenyum.
Dimas memperhatikanku dari kaca yang ada di depannya.
Aku pura-pura tidak tau dan memilih menyibukan diri dengan bermain ponsel.
Hingga mobil Dimas berhenti di pusat perbelanjaan Plazza Mall yang sangat ramai pengunjung apa lagi di hari libur seperti ini.
Aku tidak ingin bertanya, lebih memilih mengikuti langkah dua pria yang ada di depan ku.
Sebenarnya aku juga cukup penasaran, kenapa Dimas membawa kami ke Mall? Tapi..ah sudahlah, aku tidak perlu ambil pusing soal itu.
"Kak, apa kita mau nonton?" Tanyaku setelah menyadari arah kemana langkah kaki kami.
"Hemm.." Pria itu hanya menjawab dengan deheman saja.
Aku sudah cukup sering menonton bioskop saat dulu bersama Gibran atau dengan Riana. Tapi bagi Ayah, ini adalah pengalaman barunya.
"Mau nonton film apa?" Tanya Dimas pada akhirnya.
"Hmm horor boleh deh," usulku dan langsung mendapat persetujuan dari Dimas. Dimas terlihat membeli tiket dan beberapa cemilan serta minumnya untuk menemani kami saat di ruang studio nanti.
***
Aku, Ayah dan Dimas dengan asyiknya tengah menonton bioskop berbeda dengan Riana dan Gibran yang setiap harinya selalu ada pertengkaran kecil bahkan bisa dibilang karena hal sepele.
"Kamu kenapa sih Mas, akhir-akhir ini kamu jadi gak perhatian sama aku, kamu kayak ngejauhin aku. Apa belum bisa move on dari Farah?"
"Gak ada hubungannya," jawab Gibran dengan tatapannya yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
Dimas menceritakan, selama kondisi Riana belum pulih, ia diminta mengantarkan berkas-berkas yang perlu Gibran periksa ke rumahnya. Sudah beberapa hari ini pasca Riana melahirkan, Gibran tidak terlihat datang ke kantor, dan Dimas selalu mengantarkan pekerjaan Gibran ke rumahnya.
"Cih, berbohongmu gak elit Mas, aku tau kalo kamu masih berusaha mendekati Farah, iyakan? Gak perlu mengelak lagi Mas, aku sudah tau semuanya."
Brak...
"Cukup Riana! Aku bosan mendengarkan ocehanmu yang selalu tentang Farah. Bisa gak seharii aja, jangan mengajakku berdebat soal hati. Aku bener-bener muak mendengar-nya."
Gibran membentak Riana hingga membuatnya menangis. Pasalnya memang benar, Gibran mulai merubah sikapnya seolah ia menyadari akan kesalahannya yang sudah menikahi Riana disaat statusnya masih menjadi suamiku.
Ia mengusap wajahnya dengan kasar, membuka lacinya dan melihat foto pernikahan kami yang diam-diam masih Gibran simpan tanpa sepengetahuan Riana.
Aku terlihat senyum bahagia di foto itu. Bahkan bukan cuma aku, semuanya, mereka terlihat bahagia disaat pernikahanku dengan Gibran.
__ADS_1
"Aku masih bisa melihat senyum itu, tetapi bukan untukku lagi, Farah memberikannya untuk pria lain. Apakah salah aku mengharapkanmu kembali, sayang?" Gibran mengusap wajahku di foto, tanpa sadar air matanya lolos begitu saja tanpa permisi.
Penyesalan terlihat jelas di mata Gibran, tapi semua itu sangat terlambat. Aku tidak lagi mengharapkan untuk bisa kembali denganmu, Gibran. Hatiku terlalu sakit melihat wajah-wajah kalian yang seolah tidak pernah merasa bersalah sedikit pun.
Tanpa sengaja Gibran mendengarkan lagu milik Letter for me dengan judul sebuah penyesalan, entah siapa yang sudah memutarkan lagu itu.
Belaian tanganmu
Yang takkan pernah terlupakan
Seumur hidupku
Hanyalah dirimu
Memendam sebuah rasa pada dirinya
Yang takkan pernah bisa tuk memiliki
Dirimulah yang selalu ada di dalam hatiku
Dan ku yakin kau yang terindah
Dan kini ku telah merasa
Kehilangan sosok dirinya
Yang membuat hati kecilku selalu berkata
Betapa bodohnya aku
Membiarkan cinta itu pergi
Menghilang dan hanya tinggalkan
Dirimulah yang selalu ada di dalam hatiku
Dan ku yakin kau yang terindah
Ho-woa-aa
Dan kini ku telah merasa
Kehilangan sosok dirinya
Yang membuat hati kecilku selalu berkata
Betapa bodohnya aku
Membiarkan cinta itu pergi
__ADS_1
Menghilang dan hanya tinggalkan
Lupakanlah semua cerita kita
Dan jangan pernah kau kembali lagi
Maafkan diriku
Yang tak bisa menerimamu kembali
Dan kini ku telah merasa (Maafkan aku)
Kehilangan sosok dirinya (Yang takkan bisa)
Yang membuat hati kecilku selalu berkata (Menerimamu kembali)
Betapa bodohnya aku (Maafkan aku)
Membiarkan cinta itu pergi (Yang takkan bisa)
Menghilang dan hanya tinggalkan (Menerimamu)
Seolah lagu yang baru saja ia dengar sangat mewakili perasaannya yang telah kehilangan diriku.
"Maafkan aku Farah, Aku belum mampu mengendalikan rasa untuk berkomitmen dengan satu hati. Saat aku menyadarinya, semua itu sudah terlambat." Gibran tengah menikmati hidup dengan penyesalannya.
Aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Gibran atas ini, karena takdir juga sudah mempersiapkan hidup yang jauh lebih baik untukku meskipun tanpa seorang yang kucintai.
Pengkhianatan yang suami dan sahabatku lakukan, membuatku sulit percaya lagi akan cinta, terlebih lagi hanya dengan ucapan saja.
Sebuah belati tajam menusuk hatiku hingga lukanya sulit disembuhkan. Jikapun sembuh, luka itu ada meninggalkan bekasnya selama aku hidup.
Aku sudah mengikhlaskanmu Gibran, maka tetaplah bahagia dengan Riana. Aku? Tidak perlu kau pikirkan, aku sudah nyaman dengan hidupku yang seperti ini.
Dihadapkan dengan keadaan harus merelakan orang yang disayang memang terasa sulit. Sebab ada sejumlah faktor yang tidak memungkinkan aku bersama dengannya. Alhasil sebuah kata-kata mengikhlaskan orang yang kita sayang dapat mewakili perasaan hati yang tengah galau, sedih, ataupun pasrah dengan keadaan.
Mengikhlaskan orang yang kita sayang memang terasa sangat sulit dan terkadang sakit. Terlebih jika kalian tidak dapat bersama karena beragam alasan tertentu. Misalnya saja karena perbedaan, tidak direstui ataupun masalah lainnya yang akhirnya membuat kalian memutuskan pergi ke jalan masing-masing.
Meski berusaha mengikhlaskan orang yang kita sayang tetap saja rasanya mungkin masih sangat sulit melupakannya. Apalagi jika kalian telah mengukir banyak kenangan manis yang begitu membekas di hati dan pikiran. Sehingga untuk benar-benar melupakannya ataupun mengikhlaskannya butuh waktu yang cukup lama.
Hidup juga tentang meninggalkan entah kamu atau aku yang terlebih dulu pergi tenang sayang, karena inipun bagian dari belajar merelakan.
Ketika kamu sudah bisa merelakan segala sesuatu yang kamu senangi, di situlah kamu sudah belajar ikhlas.
Terkadang, hal terbaik yang bisa kamu lakukan untuk seseorang yang kamu cintai adalah melepaskannya. Bebaskan ia. Doakan kebahagiaan untuknya dan bebaskan ia. Bebaskan dirimu, Gibran.
Tuhan menempatkan seseorang di hidupmu karena sebuah alasan. Dan jika kamu kehilangannya maka itu karena sebuah alasan yang lebih baik.
Dan aku, aku sudah mengikhlaskanmu untuk hidup dengan sahabatku, Riana.
__ADS_1
TBC.