Di Ujung Talak

Di Ujung Talak
Selingkuh


__ADS_3

"Apa?" Aku terkejut bukan main mendengar perkataan waiters itu.


"Iya Bu, Ibu bisa cek sendiri ke dalam!"


"Baik, biar saya saja yang bawa ini Mbak," pintaku.


Aku menuju ke ruang VIP yang Gibran pesan. Namun yang lebih membuatku penasaran, siapa wanita yang mengaku sebagai istri dari suamiku?


Aku melangkahkan kakiku panjang-panjang untuk segera sampai ke ruang VIP yang berada di lantai dua.


Tanpa aba-aba, aku langsung membuka kenop pintu ruangan yang di dalamnya ada suamiku dan perempuan entah siapa aku belum mengetahuinya.


"Kalian?"


Aku benar-benar terkejut melihat suamiku yang tengah bercumbu mesra dengan seorang perempuan yang tak lain ada Riana, sahabatku sendiri. Dan aku tidak menyangka mereka berselingkuh dariku. Hatiku hancur berkeping-keping rasanya. Suami yang paling aku cintai tega mengkhianati ku dengan sahabatku sendiri. Kenapa kalian tega padaku?


"Apa ini yang kakak bilang meeting? Dan kamu Ri, aku bener-bener gak nyangka dengan kamu yang setega itu sama aku. Kalian berdua adalah penghianat berhati dingin. Jadi si tukang air yang selalu chat kamu itu dia kak? Tega kalian, apa salahku sampai kalian, hah? Apa salahku?" Aku menangis tak kuasa melihat suamiku sendiri berselingkuh dengan sahabatku.


"Maafkan aku Rah, selain mencintaimu, aku juga mencintai Riana. Riana yang selalu ada buat aku selama kamu tidak masuk kantor. Kebaikannya membuatku luluh dan perlahan perasaan itu tumbuh dengan sendirinya," jelas Gibran membuat hatiku teriris.


"Dan kamu pasti sengaja mengambil kesempatan ini kan? Iyakan Ri? Diem-diem kamu iri sama aku yang selalu menceritakan gimana romantisnya Kak Gibran. Sampe kamu juga ingin merasakannya dari orang yang sama, kalian gak punya hati, aku benci kalian, aku benci!"


"Baguslah kalo akhirnya lo sadar. Ya, gue emang ngiri sama kebahagiaan lo, apa lagi Gibran ini selain tampan juga dia romantis, wanita mana yang gak pengen miliki dia. Dan asal lo tau, gue sama suami lo udah udah nikah. Jadi bukan cuma lo yang berhak atas dia, tetapi gue juga punya hak yang sama."


Plak...


Tanganku tak terkendali, hingga sebuah tamparan mendarat di pipi Riana.


"Dasar wanita murahan kamu Riana, gak tau diri kamu jadi perempuan, apa sebegitu gak lakunya kamu sampai-sampai harus merebut suamiku, hah?"


"Jaga ucapanmu Farah!" Gibran memarahiku karena perempuan gak tau diri itu.


"Kenapa kak? Memang bener kan apa yang aku bilang, dia itu gak lebih dari perempuan murahan yang gak punya harga diri."


"Cukup Farah, cukup! Aku menikah dengan Riana karena aku mencintainya sama seperti aku mencintaimu. Mulai sekarang, Riana adalah adik madumu, dan kamu harus terima itu!"


Aku tidak menyangka dengan pernikahan yang kuharapkan indah namun ternyata mampu meluluhlantakkan bathinku. Gibran, nama itu selalu terukir dalam hati sejak aku SMA. Pertemuan kami yang tidak sengaja membuat aku yakin bahwa memang dialah jodohku. Pertemuan kami bukan hanya kebetulan, ini adalah takdir yang harus kuterima. Lalu dengan pengkhianatan ini, apakah itu juga takdir?

__ADS_1


Rasa sakit yang Gibran ciptakan, membuatku kehilangan kepercayaan akan cinta.


Seperti pagi ini, aku bangun lebih dulu dari Gibran. Jika biasanya aku dan Gibran akan berangkat ke kantor bersama, kali ini aku lebih memilih untuk memesan taksi. Tidak sanggup aku menatap wajahnya, sayatan luka ini masih terlalu basah untuk tergores kembali.


Saat Gibran bangun, ia cukup panik yang tak melihat keberadaanku.


"Mama liat Farah gak?"


"Loh, bukannya Farah sudah ke kantor?"


"Ke kantor? Sepagi ini?"


"Iya dia bilang sama Mama gitu."


'Kenapa Farah pagi-pagi sekali ke kantor?' Bathin Gibran bertanya-tanya.


Ting...


Suara pesan masuk di ponselku mulai terdengar. Aku merogoh tasku dan memeriksa ponsel melihat siapa yang mengirimiku pesan.


Sayang, kamu dimana?


Aku hanya membacanya, tetapi tidak membalasnya. Air mataku lolos begitu saja mengingat perselingkuhan Gibran dengan Riana. Aku manusia biasa, hatiku tidak cukup mampu menerima luka ini. Terlalu perih untuk dirasakan, aku memilih untuk tidak perduli dan berharap dengan ini rasa perih itu tidak begitu terasa.


Setelah membayar taksi, aku langsung masuk ke dalam kantor. Suasana di kantor masih terlalu sepi di jam yang terlalu pagi ini. Hanya ada sekuriti yang selalu datang lebih awal.


"Pagi Bu, kenapa datang pagi sekali Bu Farah?"


"Ah, iya pak ada pekerjaan yang harus saya selesaikan. Mari pak!" Aku berlalu masuk meninggalkan sekuriti yang menyapaku.


Aku meletakkan tasku di atas meja, dan mulai menyalakan komputer. Aku ingin menyibukan diriku untuk melupakan sejenak masalah hati.


Jari-jemariku mulai menekan deretan keyboard dengan sesekali memainkan mouse-nya.


Karyawan satu persatu berdatangan, termasuk Dimas.


"Apa Ibu datang lebih awal hari ini?"

__ADS_1


"Iya kak Dim," aku hanya menjawab seperlunya.


Dimas mengangguk, dia memahami bagaimana perasaanku setelah tau kebenaran suami dan sahabatku. Dia pergi meninggalkanku, namun tak selang berapa lama, dia kembali dengan membawakan secangkir kopi untukku.


"Biar gak ngantuk, Bu," katanya sambil meletakan kopi itu di mejaku.


"Terimakasih kak Dim, oh ya, jam makan siang nanti jangan kemana-mana," pintaku pada Dimas.


Dimas mengeryitkan dahinya,"Kenapa Bu?"


"Temani aku!"


"Tapi Bu..


"Kak Dimas!" Ucapku sedikit menekan.


"Baik Bu."


Karena sudah pasti, setiap jam makan siang suamiku dan selingkuhannya akan pergi makan siang bersama di luar kantor. Seperti sebelumnya.


Riana yang baru datang langsung meletakan tasnya di meja dan sempat melirik ke arahku.


Dia tidak menyapaku lagi dan akupun tidak ingin berbicara dengannya. Aku masa bodo dengan keadaan sekitar, fokusku hanya dipekerjakan yang saat ini aku kerjakan.


"Sayang, kenapa pesanku cuma dibaca tapi gak dibales?" Gibran tiba-tiba menghampiriku.


Aku tidak menanggapinya, seakan tuli aku mengabaikan pertanyaan suamiku.


Aku beranjak dan pergi ke arah pantry, kembali membuat secangkir kopi untuk menghilangkan rasa kantukku. Gibran benar-benar merasa jengkel karena aku diamkan. Dia menarik tanganku dan membawanya masuk ke ruangannya.


"Kenapa cuma diem aja? Aku tanya Farah Mesya, kenapa pesanku tidak kamu balas?"


"Gak penting!"


"Gak penting kamu bilang? Aku suamimu, wajar saja aku khawatir melihat istriku tidak ada di kamar di pagi buta begini."


"Dan aku istrimu Kak Gibran, tapi dengan tega kamu menyakiti hatiku, membuatnya terluka, dan kamu membiarkan luka itu untuk terus selalu basah. Aku punya hati kak, apa kamu pikir aku sanggup berbagi suami dengan sahabatku sendiri? Apa kamu pikir aku bisa menerimanya? Sulit kak, bahkan sangat sulit atau memang tidak bisa. Hatiku tidak sekuat itu sampai harus menerima semuanya dengan cepat."

__ADS_1


__ADS_2