Di Ujung Talak

Di Ujung Talak
Club


__ADS_3

Ini karma atau bukan, entahlah. Tapi yang pasti, pernikahan Riana dan Gibran seolah tengah diterjang badai. Sikap Gibran yang selalu dianggap tak perduli oleh Riana itu membuat mereka bertengkar setiap harinya.


...Setelah kemarin Gibran sempat memintaku untuk menemui klien bersamanya, Riana tidak akan tinggal diam. Diam-diam dia mengikutinya,e5 kami dan sempat membuat keributan di acara pertemuan penting itu. Alih-alih, sikap Riana membuat Gibran murka....


"Mas, kok diem terus sih?" Riana merasa sangat diabaikan oleh suaminya.


Gibran tidak menanggapi, ia masih fokus dengan sarapannya yang belum habis. Mama Rita dan Papa Danu hanya bisa menghela nafas dengan sabar melihat rumahtangga anaknya yang seperti berada di ujung tanduk.


"Mas...!"Bentak Riana.


"Bisa diem gak? Dari pada kamu terus marah-marah gak jelas, duduk diam, habiskan sarapanmu, itu lebih baik!" Gibran pergi meninggalkan mereka setelah mengatakan beberapa patah kata pada Riana.


"Ri, Mama bener-bener capek ngeliat kamu sama Gibran terus-terusan berantem. Apa gak bisa, sehariii aja akur damai gitu. Kepala Mama udah mau pecah dengernya. Kamu sebagai istri jangan mentingin diri sendiri cuma karna Gibran gak perhatian lagi. Berpikir positif aja, mungkin dia lagi banyak kerjaan sampe dia setres gitu," Mama Rita menegur Riana.


"Mama ngomong gitu karna Mama gak tau Mas Gibran itu di kantor gimana. Asal Mama tau, dia berusaha mendekati Farah, ya jelas dong kalo aku marah."


"Begitu juga yang Farah rasakan dulu saat tau suami dan sahabatnya menjalin hubungan diam-diam," sahut Papa Danu membuat Riana mengepalkan tangannya.


Riana tahu, cuma Papa Danu yang masih tidak terima kehadirannya di rumah ini. Bahkan sampai detik ini, Papa Danu tidak pernah sekalipun mengajaknya bicara.

__ADS_1


"Aku tau Papa masih tidak menerimaku, tapi gak perlu membahas masa lalu yang sudah lama kukubur dalam-dalam."


"Sedalam apapun itu, tidak akan pernah dilupakan begitu saja, terutama Gibran. Ya seperti yang kamu bilang tadi, dia berusaha mendekati Farah, karna itu artinya Gibran menyesal telah menyia-nyiakan Farah," lanjut Papa Danu.


Riana terlihat sangat kesal dengan Papa Danu yang berani mentelak kata-katanya. Ia pergi meninggalkan meja makan.


"Pa, kenapa harus bahas masa lalu sih?"


"Biar perempuan itu tau, apa yang dulu Farah rasakan jauh lebih buruk dari apa yang dirasakannya. Tapi Farah tidak pernah mengeluh sedikitpun bukan? Papa sangat bangga sama Farah, termasuk juga pak Hanan yang berhasil mendidik anaknya dengan baik."


Mama Rita seperti kehabisan kata-kata setelah mendengar ucapan suaminya. Selama ini aku memang gak pernah secara berlebihan mengeluh akan perasaanku pada siapapun, termasuk mereka.


Satu bulan berlalu, dan selama itu, Gibran benar-benar berubah. Kebiasaannya yang sangat tidak ingin membuang waktu tapi nyatanya sekarang ia jarang terlihat di kantor.


Kabar yang pernah aku dengar, Gibran selalu mendatangi sebuah club yang sekarang sudah menjadi kebiasaan barunya.


"Farah, kau cantik sekali, aku sangat merindukanmu! Jangan tinggalkan aku, Farah, aku sangat mencintaimu." Racauan Gibran saat mabuk selalu menyebut namaku.


"Aku disini, tampan," menarik tangan Gibran dengan lembut dengan senyum seringainya.

__ADS_1


"Farah, Farah aku sangat merindukanmu!"


"Aku juga sangat merindukanmu, Gibran Fernanda." Membelai wajah Gibran dengan intens.


Cup..


Ia mencium bibir pria itu. Gibran membalasnya, bahkan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang sangat ia rindukan sejak lama.


Gibran menarik tubuhnya dalam dekapan, tangannya mulai nakal mencari sesuatu yang tersembunyi.


"Lakukanlah Gibran, aku milikmu!"


Mendengar bisikan itu, Gibran semakin bersemangat melampiaskan hasrat terpendamnya. Pasalnya, selama satu bulan belakangan ini, Gibran begitu enggan menyentuh Riana. Yang ada dalam bayangan dan pikirannya hanya-lah Farah.


"Ah...Gibran, permainanmu sangat ganas. Hmmphhhh..uh..."


"Terimakasih sayang, aku sangat puas!!"


????

__ADS_1


TBC.


__ADS_2