Di Ujung Talak

Di Ujung Talak
Cemburu


__ADS_3

"Mengalah untuk kebaikan dan menghindari pertengkaran akan jauh lebih baik dari pada saling mengolok dan ngotot untuk ingin menang sendiri."


"Kita sering melihat sesuatu itu lebih berharga, saat kita mengetahui ia sudah hilang dan dimiliki oleh orang lain."


"Jangan terlalu senang mempermainkan hati yang benar-benar jatuh cinta kepadamu karena suatu saat nanti setelah ia memutuskan untuk pergi, kamu akan menyesalkan hal itu."


"Nanti kamu akan sangat merindukan sesuatu hal yang kamu rasakan saat ini, ketika kamu kehilangan momen tersebut."


"Siapa yang bermain-main dengan umurnya maka dia akan menyia-nyiakan hari-hari yang seharusnya digunakan untuk menanam sebuah kebaikan."


"Apabila sebuah penyesalah merupakan sebuah pengalaman, maka hikmah adalah sebuah hal besar yang terkandung di dalamnya."


"Menuruti emosi dan hawa nafsu hanya akan merugikan, dan penyesalan adalah hadiah yang pasti akan diterima."


"Manusia diberikan kemampuan untuk memilih, tentukan pilihan dengan hati dan logika, kemudian jalani tanpa ada rasa penyesalan."


"Ketika kamu menaruh harapanmu kepada Allah, kamu tak akan pernah dikecewakan. Yakin dan percayalah pada-Nya."


"Setiap rangkaian cerita itu pasti ada penyesalan, di situlah kita bisa ambil maknanya arti sebuah kehidupan."


"Penyesalah tanpa adanya tindakan hanya akan membuatmu lebih bertambah menyesal."


"Terlalu menyesali hanya akan membuat kita lupa untuk bersiap memperbaiki."


"Tak perduli seberapa besar penyesalanku, aku tak akan bisa mengembalikan waktu."


"Akan menjadi penyesalanku sepanjang hidup, jika senyum bahagia ibu tidak terwujud."


"Rindu ialah kamu, segala sesuatu yang tak akan pernah menjadi penyesalanku."


"Kelalaian hanya akan menyebabkan sebuah penyesalan di hari esok karena waktu yang telah berlalu tidak akan kembali lagi."


"Sejumlah dengan tetes air matamu, berkali-kali lipat penyesalanku."


"Penyesalanku adalah pernah hadir ke dalam kehidupanmu dan menghancurkan kesempurnaanmu."


"Ada kalanya luka yang kau sematkan membuat penyesalanku terselamatkan, pada barisan doa doaku, bahagia untukmu kusempatkan."


"Jangan sesali apa pun yang terjadi, semuanya pasti ada alasan, jangan kamu biarkan hidup ini penuh dengan penyesalan."


"Hargai waktumu dan jangan pernah menyepelekan setiap ada kesempatan karena penyesalan akan datang belakangan."


"Ikhlaskan semua yang telah pergi dari hidupmu karena suatu penyesalan tidak dapat untuk membawanya lagi kepadamu."

__ADS_1


"Ada rasa menyesal boleh saja, tapi semua itu tidak boleh menghambat lajumu untuk masa depan. Jadikan rasa sesal tersebut sebagai rambu-rambu kehidupan."


"Bicaralah saat kamu marah dan kamu akan membuat pidato terbaik yang akan kamu sesali."


"Satu di antara penyesalan terbesar dalam hidup adalah menjadi apa yang orang lain inginkan, bukannya menjadi diri sendiri."


"Lebih baik melihat ke depan dan mempersiapkan diri daripada melihat ke belakang dan menyesal."


"Kita semua pasti menderita satu di antara dari dua hal: rasa sakit karena disiplin atau rasa sakit karena penyesalan atau kekecewaan."


"Tidak ada orang yang memberikan yang terbaik dari darinya menyesali itu."


"Suatu hari, mungkin, kamu akan melihat sendiri bahwa penyesalan sama sekali tidak ada apa-apanya. Nilainya terletak pada bagaimana mereka dijawab."


"Penyesalanku adalah menyia-nyiakan perasaanmu yang begitu tulus untukku."


"Karena penyesalanku bukan yang terakhir, semua membisu dengan akhir yang berbeda."


"Di antara mimpi-mimpi esok dan penyesalan tentang hari-hari kematian ada kesempatan di hari ini."


"Jangan izinkan penyesalan masa lalu Anda melemahkan kehidupan Anda hari ini."


"Penyesalan hari ini mungkin akan sedikit mengurangi masalah ke depan, namun akan lebih banyak membuat masalah untuk hari ini."


Tok..


Tok..


"Masuk!"


Aku melangkah masuk ke dalam untuk memberikan beberapa lembar berkas yang harus Gibran tandatangani.


"Bapak perlu tanda tangan untuk berkas ini!" Ucapku profesional menyodorkan berkas itu


Gibran menatapku dengan tatapan penuh harap. Aku memalingkan wajahku ke arah lain tidak ingin berdrama di sana, aku berniat pergi dari hadapan Gibran.


"Tunggu!"


"Kenapa terburu-buru? Berkas ini harus kita serahkan langsung ke pada klien."


"Kita? Maksud bapak?"


"Ya, saya dan kamu akan pergi menemui klien penting, dan ini tidak boleh terlambat. Ayo cepatlah!"

__ADS_1


Apa-apaan ini, dia dengan seenak jidatnya memintaku untuk menemaninya bertemu klien penting. Untuk apa punya sekertaris kalau gitu, atau paling gak, mintalah Riana menemanimu wahai manusia tak punya hati.


Aku menghentakkan kakiku dengan kesal karena tidak sempat menolak permintaan Gibran, dia malah nyelonong gitu aja berjalan lebih dulu.


"Mau kemana lo?" Tanya Riana saat melihatku mengambil tas.


"Bertemu Klien penting."


"Dengan suami gue?"


"Denger ya Ri, kalo boleh milih aku juga ogah nemenin suami kamu itu. Lagian buat apa ada kak Dimas, memang seharusnya tugas sekertaris kan? Kita cuma divisi pemasaran produk. Aku permisi!"


Aku meninggalkan Riana begitu saja. Mungkin seperti inilah awalnya sampai kalian berselingkuh di belakangku, dulu. Tapi sudahlah, aku tidak ingin mengingat masa menyakitkan itu, biarlah semuanya kujadikan pelajaran hidup. Adek, cinta tak selamanya indah dek. Begitulah kata-kata yang tengah viral di sosmed.


Lagi-lagi satu mobil dengan Gibran membuatku merasa jengah. Aku memilih bermain ponsel dan mengirimi kak Dimas pesan.


Kak Dimas


Kak Dim, jangan makan siang duluan sebelum aku kembali


Dimas yang saat ini berada di ruangannya seketika memeriksa ponselnya setelah nada pesan berbunyi.


Dimas tersenyum dan mulai membalas pesanku.


Farah..


Apa kamu mau saya mati kelaparan?


Aku terkikik geli membaca balasan pesan dari Dimas. Gibran melihatku senyum-senyum sendiri dengan ponsel.


"Hidupmu jauh lebih bahagia ya sekarang, setelah lepas dariku." Kata-katanya terdengar menyedihkan memang, tapi benar kok.


"Hmm, karna aku tidak ingin kecewa untuk yang kedua kalinya. Lagi pula aku sudah nyaman hidup hanya dengan Ayah."


"Dan juga Dimas!" Tiba-tiba Gibran melanjutkannya sendiri.


"Mungkin tidak sekarang, tapi kupastikan apa yang kamu katakan adalah kebenaran kak Gib. Lagi pula selain tampan, kak Dimas baik. Kepekaannya terhadap perempuan cukup sempurna. Hanya sangat disayangkan sikapnya yang terlalu kaku, tapi bagiku tidak masalah, asal SETIA." Aku menekan kata terakhirku yang rupanya membuat Gibran tersindir.


Jika saja kamu tak berulah, mungkin saja saat ini aku masih bisa duduk di dekatmu dan tanganmu yang selalu menggenggam tanganku meskipun tengah menyetir. Tapi sekarang aku tau posisiku, hanya sebatas bos dan karyawan, karena kita tak lain adalah mantan istri dan suami.


Aku kembali melanjutkan berbalas pesan dengan Dimas. Mendengar Gibran berdehem berkali-kali, aku semakin tidak perduli, hingga ia sesekali dengan sengaja membunyikan klaksonnya.


Jangan pernah cemburu, karena kepergianku adalah keinginanmu yang tak pernah kamu sadari secara lansung. Karena tidak semua wanita bisa hidup dalam satu raga tapi dua cinta.

__ADS_1


TBC


__ADS_2