
Aku memandang wajah tampan Gibran saat dirinya masih tertidur pulas. Aku tersenyum simpul mengingat apa yang kami lakukan semalam. Benar-benar ganas hahaha
"Eh.."
Aku terkejut dengan tangan yang tiba-tiba memelukku.
"Suamimu ini memang tampan, tapi gak perlu dilihat seperti itu," ucap Gibran dengan suara khas bangun tidur.
Aku mengangguk, berniat ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku.
"5 Menit lagi!" Gibran benar-benar tidak mengizinkanku untuk pergi kemanapun selain dalam dekapannya. Kan lama-lama juga engap.
"Kak, sudah pagi loh, apa kita gak harus ke kantor?"
"Pengantin baru mana ada yang bekerja di luar rumah, mereka hanya bekerja di dalam kamar," jawabnya dengan mata yang masih terpejam.
Aku hanya menghela nafas dengan sabar menunggu sampai Gibran benar-benar melepaskan pelukannya.
Tetapi aku bahagia dengan semua perlakuan Gibran padanya. Terkesan romantis.
Perempuan mana sih? Yang tidak menginginkan keromantisan bersama pasangan.
Menjadi romantis kepada pasangan tak selalu mengenai hal-hal yang besar, tapi justru hal kecil dan sederhana yang membuatnya lebih bermakna.
Ketika sudah menjadi suami istri, banyak pasangan yang lupa untuk tetap romantis kepada satu sama lain. Akhirnya, banyak yang merasa kurang dihargai oleh pasangannya sehingga hubungan tersebut menjadi tidak sehat.
Menjadi romantis seharusnya tidak rumit. Mungkin sesekali pasangan akan menyukai hal romantis yang ‘berlebihan’, misalnya buket bunga raksasa, pernyataan cinta di depan publik lalu viral di media sosial, dan lain sebagainya.
Namun terkadang, tindakan romantis terbaik adalah yang sederhana seperti ucapan selamat pagi dan pelukan mesra.
***
Setengah jam kemudian, Gibran baru benar-benar terbangun dari tidurnya. Aku menggerutu kesal berbaring di tempat tidur tanpa melakukan apapun karena pelukan Gibran itu begitu erat.
"Jangan manyun gitu, jelek!"
"Abisnya ngeselin, kan capek gak gerak. Kakak pikir aku ini apa, guling?"
Gibran terkekeh mendengar ocehanku. Dia mencium bibirku berharap aku tidak lagi kesal padanya. Kalau sudah begini, ah..mana bisa aku marah.
Setelah mandi, aku dan Gibran turun untuk sarapan.
"Pengantin baru, baru turun," goda Mama.
"Mama kayak gak pernah muda aja," jawab Gibran sambil menarik kursinya.
Kami berlima menikmati sarapan dengan santainya. Setelah sarapan selesai, aku dan Gibran akan mengantarkan Ayah pulang.
"Apa gak sebaiknya diantar sampai rumah Yah?"
"Tidak usah, Ayah naik travel aja. Gibran, Ayah titip Farah, jaga dia!"
"Baik yah."
Ayah tidak mau kami antar sampai ke rumah. Dia hanya mau diantar sampai ke pangkalan travel yang menuju ke kampung halamanku.
__ADS_1
Terlalu berharu biru perpisahanku dengan Ayah, hingga tangis berderai dipelukan cinta pertamaku.
Sedih rasanya, tetapi Ayah pasti jauh lebih sedih. Ayah hanya punya aku, tetapi sekarang ia harus menyerahkanku pada Gibran, seseorang yang sudah menjadi suamiku.
"Jangan menangis, aku janji, kita akan lebih sering mengunjungi Ayah," Gibran memelukku berusaha menenangkanku.
Setelah mengantar Ayah, aku dan Gibran memutuskan untuk pulang ke rumah.
Selama satu minggu aku dan Gibran mengambil cuti. Tapi selama itu, kami hanya menghabiskan waktu di rumah. Mama mertuaku meminta kami untuk pergi berbulan madu, tapi mengingat kerjaan kantor yang menumpuk, kami menolaknya dan akan memikirkan itu lain waktu.
***
Seperti biasa, aku dan Gibran berangkat ke kantor bersama. Selama beberapa hari aku sakit dan izin tidak masuk kantor.
"Kak, itu kayaknya Riana deh," kataku melihat seseorang yang tengah berdiri di trotoar.
"Iya itu Riana."
Gibran menepikan mobilnya menghampiri Riana.
"Ria..."
"Hei, Rah."
"Kamu ngapain disini?"
"Ah, iya gue lagi nunggu taksi. Mobil gue mogok di bengkel itu," ucapnya sambil melirik bengkel yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Bareng kami aja. Gak papa kan kak, Riana ikut kita?" Gibran terlihat mengangguk. Dan akhirnya kami bertiga berangkat ke kantor bersama.
***
"Farah, kamu tidak menunda kehamilan kan? Mama sangat berharap kalian segera memberikan kami cucu."
Kata-katanya berhasil mengusik pikiranku. Aku memang tidak sedang menunda kehamilan, tetapi jika yang maha kuasa belum memberi, aku bisa apa?
"Ngelamun lo?"
"Eh, ngagetin aja."
"Abisnya lo dari tadi bengong mulu, kesambet loh ntar."
"Aku kepikiran kata-kata Mama Rani, Ri. Dia kelihatannya pengen banget aku cepet hamil. Tapi mau gimana lagi, kalo Allah aja belum mempercayai kami, terus aku harus gimana?"
"Ya sabar dulu, lagian juga kalian nikahkan baru 5 bulan."
Ting...
Suara pesan di ponsel Riana menghentikan obrolan kami. Riana terlihat bahagia dengan pesan yang dibacanya itu. Terlihat dari ekspresi wajahnya yang begitu sumringah dan senyum-senyum sendiri.
"Ehemm, pesan dari siapa sih?" Tanyaku penasaran.
"Eh, itu, emm ada deh pokoknya."
"Pasti pacar kamu kan?"
__ADS_1
"Eh, i-iya pacar."
"Gak usah gugup gitu kali Ri, kayak kepergok selingkuh aja hihihi," ledekku.
Tetapi Riana terdiam, dengan ekspresi datar. Apa ada yang salah dari ucapanku?
"Ri..!"
"Eh, iya."
"Kok malah kamu yang bengong, apa ada masalah?"
"Gak ada kok, cuma sedikit pusing aja." Aku mengangguk percaya.
Saat jam makan siang, aku selalu menghampiri Gibran untuk makan siang bersama.
Setelah itu dilanjutkan dengan istirahat sebentar di kamar yang ada di ruangan tersembunyi.
"Bu Farah!"
Aku menoleh ke sumber suara.
"Pak Gibran tidak ada di ruangannya," ucap Dimas, sekertaris Gibran.
"Kemana?"
"Ada meeting penting dengan klien di luar, mungkin sekalian makan siang bersama."
'Gak biasanya kak Gib gak bilang sama aku' bathinku merasa heran.
"Ya udah terimakasih," aku berlalu pergi kembali ke kubikelku.
Ku lihat juga Riana tidak ada di mejanya. Ah, mungkin tengah makan siang. Aku memesan makanan online dan menunggu di ruangan Gibran.
Tak lama kemudian, benar saja Dimas mengantarkan pesenanku.
"Terimakasih." Seperti biasa, sekertaris Gibran yang kaku itu hanya menanggapi dengan anggukan kepala.
Satu jam berlalu, sudah seharusnya Gibran kembali ke kantor. Bahkan Riana, sahabatnya, pergi entah kemana.
Selang beberapa menit, Riana kembali dengan beberapa belanjaan di tangannya. Apakah Riana pergi ngemall? Tapi kenapa bisa? Padahal jam makan siang hanya satu jam, mengingat tidak ada mall yang dekat dengan kantor, seharusnya Riana tidak akan sempat untuk berbelanja.
"Kamu dari mana Ri?"
"Beli sepatu nih, sepatu gue udah mulai rusak."
"Di mall?"
"Iya."
"Kok sempet sih ke mall, padahal gak ada mall deket loh Ri," tanyaku heran.
"Emmm, gue nitip temen yang kebetulan lagi ada di mall terus nganterin deh kesini."
"Terus kamu tadi pergi kemana?"
__ADS_1
"Lo itu kenapa sih Rah? Gue mau kemana pun ya terserah gue dong, emang harus banget gue ngomong sama lo, gak kan?"
TBC.