
Ayah yang tiba-tiba memintaku untuk segera menikah membuatku sesak bernafas seketika. Meskipun aku tidak lagi percaya apa itu cinta, tapi hati kecil tetap yakin kalau Dimas bukan seperti Gibran, mantan suamiku.
Aku sudah memberitahu semua permintaan Ayah pada Dimas. Entah apa yang dirasakan pria setengah dingin itu, tapi yang jelas, melihat sikap Dimas sepertinya hal ini sangat amat membuatnya bahagia.
Hari ini, Dimas mengajakku tanpa aku tau dia akan membawaku kemana.
"Nanti juga tau."
Hanya itu kata-katanya saat aku tanyai tentang ajakannya itu.
Mobil Dimas melesat jauh mulai menyusuri setiap jalan yang cukup ramai. Tidak ada banyak percakapan antara aku dan Dimas selama di dalam mobil.
Hemmmm...
"Apa?" Tanyaku mendengar deheman Dimas dengan matanya yang masih fokus menyetir.
"Apa kamu yakin mau menikah denganku, Farah?"
Aku terdiam sejenak mendengar pertanyaan Dimas.
"Jangan memaksakan diri untuk menerimaku, Farah. Aku tidak ingin menjadikanmu istri karena keterpaksaan salah satu diantara kita. Mumpung masih ada waktu, pikirkanlah lagi."
"Gak Kak Dim, aku siap jadi istrimu! Dan itu bukan karna rasa terpaksa. Semuanya murni atas pilihan dan keputusanku sendiri."
"Apa kamu yakin?"
"Ya awalnya sih Ayah yang minta buat aku nikah lagi, jujur aku belum siap. Rasa trauma memiliki suami seperti kak Gibran membuatku takut untuk membina kembali pernikahan, kak Dimas. Tapi kali ini aku serius, murni keputusanku sendiri untuk menerimamu."
Aku hanya berharap, semoga pernikahanku yang kedua kalinya ini adalah yang terakhir sepanjang hidupku.
Semoga Dimas jauh lebih baik dari Gibran.
"Kita kesini?" Ucapku setelah Dimas memarkirkan mobilnya di depan toko perhiasan.
Dimas mengangguk,"Ayo!"
Aku mengikuti Dimas yang melangkah lebih dulu.
"Pilihkan yang paling terbaik di toko ini Mbak!" Dimas sok iyes nih, minta cincin yang terbaik katanya.
"Kak Dim, jangan yang mahal-mahal," aku berbisik di telinga Dimas dengan suara lirih.
Tapi pria kaku itu tidak meresponku, mendengarkanpun tidak sepertinya. Aku cukup dibuat kesal dengan tingkahnya.
"Menurutmu ini gimana?" Dimas memperlihatkan sepasang cincin mewah padaku.
Aku dibuat takjub dengan berlian di atas cincin itu. Benar-benar sangat mewah dan tampil cantik di jari manisku.
"Bagus kak, bagus banget," ucapku penuh senyum.
"Saya mau ini Mbak!"
__ADS_1
Tanpa bernegosiasi lagi, Dimas langsung memerintahkan karyawan di sana untuk segera membuat nota pembayaran.
Kami tidak langsung pulang setelah dari toko perhiasan, mendadak mataku berbinar melihat penjual es cream.
"Mau es cream?" Sumpah ya, tingkat kepekaannya Dimas sebagai lelaki tentu ada di atas rata-rata. Dia langsung bertanya setelah memperhatikan arah penglihatanku.
"Mau kak, mau.."
Dimas tersenyum simpul sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkahku yang tak jauh berbeda seperti anak kecil saat melihat es cream yang menjadi favoritnya.
Aku dan Dimas duduk di pinggir jalan menikmati es cream yang super lezat rasanya.
"Enak kan kak? Rasanya gak kalah sama es cream bintang 5 hehe."
Dimas hanya mengangguk menanggapi pernyataanku.
***
Sementara di tempat lain, Gibran benar-benar dibuat tak berdaya dengan permainan Yolanda yang tak kunjung lelah itu. Mungkin Yolanda sudah mempersiapkan segalanya dengan matang demi bisa menjerat pria incarannya sejak mereka sekolah SMA dulu.
Dan Riana malah dibuat kesal karena pesan tak telfonnya tak kunjung mendapat jawaban dari Gibran, dan tidak aktif. Bahkan setelah semalaman Gibran tidak pulang, sampai saat ini nomor ponselnya masih susah dihubungi.
Arghh...
"Kemana sih kamu Mas?"
Suara ketukan pintu tak berapa lama tersengar oleh Riana. Buru-buru ia membukanya.
"Aku capek Ri," Gibran malah meninggalkannya begitu saja.
"Mas Gibran kenapa sih? Ada sesuatu yang dia sembunyiin dari aku, ya aku yakin itu. Tapi apa?"
Gibran tertidur tanpa mandi, keadaannya yang lusuh membuat Riana semakin curiga dengan sesuatu yang sedang suaminya sembunyikan.
Melihat ponsel Gibran berada di atas nakas, Riana langsung mengambil dan berniat memeriksanya.
Riana menghidupkan ponsel milik Gibran yang dalam keadaan mati daya. Ia mencari-cari sesuatu mencurigakan disana. Mulai dari chat WhatsApp, pesan bahkan panggilan telfon serta kontaknya.
"Gak ada apa-apa? Mungkin aku aja yang negatif mulu, Mas Gibran mana mungkin selingkuhin aku, secarakan dia cintanya sama aku," ucapnya percaya diri.
Riana kembali meletakan ponsel milih Gibran, namun saat ia hendak meninggalkannya, ada suara pesan masuk dari ponsel milik Gibran.
Betapa terkejutnya ia setelah mendapati pesan dari nomor tanpa nama itu.
"Itu artinya semalam Mas Gibran...tega kamu mas, kamu tega selingkuhin aku."
Riana menangis sejadi-jadinya setelah melihat foto Gibran tengah tidur dengan perempuan lain.
Sudah sekitar 3 jam Gibran tidur namun belum ada tanda-tanda dia akan bangun. Sementara Riana masih terisak kecil.
Pada akhirnya tidur Gibran terusik mendengar suara isak tangis Riana.
__ADS_1
"Kamu kenapa Ri?"
Plak...
Tak butuh waktu lama, Riana langsung menampar suaminya.
"Menjijikkan kamu Mas, rupanya ini alesanmu kenapa gak pulang? Tidur dengan wanita di luar sana, siapa wanita itu mas, siapa?"
Gibran terbengong dengan kemarahan Riana yang sudah tahu tentang dirinya.
"Gak seperti yang kamu bayangin Ri, aku dijebak, bukan selingkuh."
"Gak usah ngeles kamu mas, katakan siapa wanita itu mas, siapa?"
"Dia teman SMA ku dulu, sama seperti Farah," jawabnya.
"Astaga, bajingan kamu mas, tega kamu sama aku."
"Ri aku mohon dengerin dulu!"
"Aku nyesel nikah sama kamu mas. Nyesel udah rebut kamu dari Farah, sahabat aku. Gak perlu minta maaf mas, aku sadar semua ini juga karna salahku, berawal dari kesalahan kita yang sudah menyakiti Farah, mungkin ini balasannya Mas. Ceraikan aku Mas Gib!"
"Ri-Ri, kamu gak bisa gitu dong, aku gak mau cerai dari kamu Ri. Please maafin aku! Aku janji gak akan ngulangin lagi Ri, please!"
"Aku gak sanggup kalau suatu saat wanita datang dan mengaku hamil anak kamu Mas. Aku gak bisa menerimanya. Jadi sebelum semua itu terjadi, ceraikan aku mas! Biarkan aku kembali bebas."
Apa dikata, semua perbuatan pasti menuaikan hasil. Saat ini, Riana dan Gibran tengah merasakan bagaimana perbuatan mereka yang telah menyakitiku.
Gibran pada akhirnya menceraikan Riana, dan saat ini Riana bukan lagi siapa-siapa untuk Gibran dan keluarganya.
"Sahabat, hanya satu kata tapi ribuan makna. Namun karena keegoisanku, aku meleburkan ribuan makna itu. Jika masih bisa, tolong maafkanlah aku!" Riana Wijaya.
Riana baru menyadari setelah kehilangan semuanya. Justru disaat-saat seperti ini seharusnya ada seseorang yang menguatkannya, yaitu sahabat.
Aku tidak membencimu Riana, tapi untuk kembali dekat denganmu, maaf, aku tidak lagi bisa. Semuanya cukup kujadikan pelajaran.
****
Seminggu setelahnya, pesta pernikahanku dengan Dimas berlangsung meriah. Riana dan Gibran terlihat hadir, bahkan Yolanda juga ikut menghadirinya.
"Selamat Farah, dan maafkan aku hiks.." Riana memeluk sambil menangis.
"Sudahlah Ri, semuanya sudah berlalu, gak perlu minta maaf, aku sudah memaafkanmu."
Aku bahagia sekali, semuanya berjalan dengan baik-baik saja, meskipun Gibran menatapku dengan tatapan masih cintanya, tapi rasa ibaku bukan untuknya, melainkan Riana. Aku mengetahui banyak tentang Gibran, Ayu, dan Yolanda. Maka tidak heran kalau Yolanda mengambil kesempatan ini untuk memikat Gibran.
Aku tidak lagi perduli itu, mereka bukan lagi urusanku.
Saat ini hidupku adalah Ayah dan suamiku, Dimas. Mereka hanya masalaluku, termasuk Gibran yang kuanggap cinta pertamaku dalam diam.
Semoga kalian bahagia, dan hidupku jauh lebih bahagia.
__ADS_1
END