Di Ujung Talak

Di Ujung Talak
Curiga


__ADS_3

"Kan aku cuma nanya Ri, kenapa sewot gitu sih? Apa ada sesuatu yang kamu sembunyiin dari aku?"


"Sesuatu apa? Ya gak adalah. Udah ah, gue mau lanjut kerja."


Semenjak saat itu, aku selalu merasakan kejanggalan pada Riana. Entah apa yang sedang dia sembunyikan dariku, tetapi yang jelas pasti ada sesuatu yang tidak aku tahu.


Riana tampak bersikap tak biasa dari biasanya. Dia seperti menghindariku. Bahkan sikapnya tidak lagi sehangat layaknya sahabat. Sikap Riana berubah mendadak. Tapi karena apa?


"Kak Gib!"


"Hem.."


"Riana kenapa ya kak? Kenapa dia kayak ngehindar gitu dari aku. Perasaan selama ini kami gak ada masalah apapun deh. Tapi sikapnya berubah."


Gibran tak menanggapi curhatanku, dia terlalu fokus dengan ponselnya.


"Kak..!" Panggilku lagi yang tak mendapat respon dari Gibran.


"Jangan main ponsel terus dong, kan aku lagi galau, kasih solusi kek," gerutuku.


"Aku gak tau, ya mungkin Riana itu lagi banyak pikiran, jadi moodnya berubah-ubah. Bisa jadi kan?"


Setelah mencerna perkataan Gibran, aku sedikit mempercayainya. Tetapi jawabannya tidak membuat hatiku merasa puas.


Gibran yang tengah asyik bermain ponsel seketika tersenyum sendiri seolah ada sesuatu yang membuatnya bahagia dari ponsel itu.


"Kak Gib, ayo tidur, ini sudah malem loh."


"Iya."


Gibran tidur membelakangiku, sepertinya ia masih fokus dengan ponselnya.


'Chatting sama siapa sih dia? Jadi curiga' Bathinku penasaran.


Aku terbangun dari tidurku mendengar getaran ponsel. Ku lihat jam di nakas menunjukkan jarum pendeknya di angka 1 dini hari.


Rupanya ponsel milik Gibran. Tetapi hatiku begitu tergerak untuk membukanya. Aku melihat Gibran tidur begitu pulasnya, dan ini menjadi kesempatanku untuk mengetahui apa yang membuatnya sebahagia itu sampai senyum-senyum sendiri.


Perlahan aku mengambil ponsel milik Gibran yang ada di atas nakas. Aku memencet tombol on/of untuk bisa melihat apa yang membuatku penasaran.


WhatsApp adalah menu pertama yang menjadi tujuanku. Nomor dengan nama tukang air itu terlihat mengirimkannya pesan.


Mas, aku gak bisa tidur


Hanya satu kalimat itu yang aku temukan dari nomor yang bernama tukang air. Apakah chat sebelumnya sudah di hapus?

__ADS_1


Nomor siapa itu? Kenapa chatnya seperti seseorang yang sudah sangat akrab.


Aku bertanya-tanya dalam hati, siapa pemilik yang sebenarnya. Karena aku yakin, Gibran dengan sengaja menamai nomor itu dengan tukang air supaya aku tidak mencurigainya.


Rupanya kau mulai bermain api denganku Gibran. Aku mengingat waktu 5 bulan lalu saat aku menikah dengan Gibran. Dengan yakin dan percayanya Ayah kepada Gibran yang sudah pasti akan selalu membuatku bahagia tanpa ada kata melukai. Tapi sekarang kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Gibran mulai berani bermain serong, dan sepertinya sudah banyak hal yang dia sembunyikan dariku.


Aku tidak bisa tidur semalaman memikirkan rasa penasaranku dengan chat mesra seseorang pada Gibran.


Aku akan menunggu Gibran bangun dan menanyakan ini padanya.


Jam 6 pagi, aku masih enggan beranjak dari ranjang. Setelah beberapa menit lagi aku menunggu, yang ditunggu-tunggu akhirnya bangun juga.


"Kok gak bangunin aku? Udah siang ya?"


"Iya."


"Aku mandi duluan," ucapnya langsung pergi dari hadapanku.


Melihat Gibran keluar dari kamar mandi, aku langsung menghampirinya dengan tatapan penuh tanya.


"Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?"


"Apa ada yang kakak sembunyiin dari aku?"


"Aku istri dari pemilik perusahaan itu, gak akan ada yang memarahiku dengan hanya terlambat 5 menit. Sekarang jawab saja pertanyaanku, apa yang sudah kak Gib sembunyikan?"


"Tidak ada."


"Apa kakak yakin?"


"Aku yakin."


"Lalu siapa tukang air?" Kata-kataku kali ini berhasil membuat Gibran menghentikan aktifitasnya yang tengah memakai baju.


"Apa kamu memeriksa ponselku?"


"Aku istrimu, apa hal sepele seperti memegang ponsel suami itu hal yang dilarang?"


Gibran kalah telak, ia tak bisa lagi menjawab kata-kataku. Dari situ sudah terlihat jelas, kalau Gibran memang menyembunyikan sesuatu.


Aku tidak akan menuduhnya jika saja tidak ada sesuatu yang membuatku curiga. Tetapi Tuhan maha tau, dia akan berpihak pada orang-orang yang selalu jujur. Dan siapapun yang membohonginya, kebohongan itu tidak akan berlangsung lama.


"Tidak ada yang melarang, tapi sebaiknya izin terlebih dulu."


"Hal itu akan aku lakukan jika tidak ada yang mencurigakan. Tapi kakak sudah menciptakan percikan api dalam pernikahan kita."

__ADS_1


"Jangan seudzhon, mungkin dia hanya salah kirim. Aku mencintaimu, dan selamanya akan tetap seperti itu."


Aku tidak menanggapinya dan memilih untuk segera membersihkan diri.


***


Sudah berapa hari ini aku dan Gibran tidak melakukan makan siang bersama, atau hanya sekedar istirahat di kamar tersembunyinya.


Lagi-lagi Gibran selalu meeting dengan klien saat jam makan siang. Namun ada kecurigaan yang semakin menguatkan hatiku. Riana, dia juga selalu menghilang entah kemana saat jam makan siang.


"Ibu mau kemana?" Tanya Dimas padaku saat aku beranjak dengan membawa tas milikku.


"Cuma kak Dimas yang bisa bantu aku kali ini. Tolong, kasih tau dimana tempat suamiku meeting dengan kliennya. Please kak, ini sangat penting, dan aku harus tau dimana tempat itu."


Dimas terdiam. Pasalnya, Gibran sudah memerintahkan dirinya supaya Farah tidak pergi kemanapun saat jam makan siang. Bahkan dia sendiri tidak mengerti dengan alasannya.


"Please kak Dim, aku mohon! Ini sangat penting," aku terus memohon pada sekertaris suamiku itu supaya dia mau menunjukkan dimana tempat Gibran melakukan meeting-nya.


Dimas merasa tidak tega dengan istri bosnya itu. Ia mengangguk dan mengantarkan Farah ke tempat yang pernah Gibran katakan.


Hanya memakan waktu setengah jam untuk sampai di tempat itu. Mobil Dimas kini sudah berhenti tepat di pelataran sebuah kafe yang begitu ramai pengunjungnya.


Aku segera turun dari mobil, dan membiarkan Dimas mengikutiku dari belakang.


Aku mencari-cari keberadaan suamiku di sana. Namun sayangnya aku tidak menemukan Gibran yang tengah meeting dengan kliennya.


"Kak Gibran gak ada disini kak Dim. Apa benar ini tempatnya?"


"Benar Bu, pak Gibran selalu bilang tempat ini saat akan meeting di luar kantor," jawab Dimas dengan yakin.


Kemana kak Gibran? Saat aku ingin melangkah keluar kafe, tidak sengaja aku mendengar obrolan para waiters yang akan mengantarkan pesanan pengunjung.


"Antarkan ke ruang VIP, atas nama Gibran," Ucap waiters itu ke waiters lainnya.


"Permisi Mbak, tadi saya tidak sengaja dengar kalo Mbak bilang ruang VIP atas nama Gibran. Apa beliau Gibran yang ini?" Aku menunjukkan foto Gibran dari ponselku.


"Iya Bu benar, dia orangnya. Ibu siapa?"


"Saya istrinya, boleh biar saja yang mengantarkan pesanannya ke suami saya?!"


"Istri? Tapi dia selalu datang kesini dengan perempuan, yang katanya istrinya Bu."


"Apa?"


TBC.

__ADS_1


__ADS_2