
Ya Allah, ternyata bukan hanya suamiku yang menginginkan Riana tinggal di rumah ini, tetapi Mama Rani juga. Ingin rasanya hati berkata tidak, tapi siapa aku? Bahkan statusku yang sebagai istri Gibran tidak mampu menghalangi apa yang menjadi keputusan mereka.
Aku menunduk mendengar perkataan Mertuaku, dengan sesekali aku menyeka air mata yang berjatuhan.
Sesama perempuan, apa kalian tidak mengerti gimana perasaanku yang harus berbagi suami dengan sahabatku sendiri?
"Mama pergi dulu," ucapnya sebelum ia melangkah keluar dari kamar.
Hati dan tubuhku begitu lelah, saking lelahnya tanpa sadar aku tertidur dengan posisi setengah duduk.
***
Aku bangun lebih awal, aku tidak melihat keberadaan Gibran di kamar. Sudah pasti dia tidur dengan siluman ular itu. Aku tidak perduli, dengan cepat aku membersihkan diriku, sebelum akhirnya pergi ke kantor.
"Kenapa pagi sekali lo ke kantor?" Suara rubah itu terdengar saat aku tengah melahap sepotong sandwich yang kubuat sendiri.
"Ah, gue tau, lo pasti gak tahan kan lihat gue bermesraan dengan Gibran? Makanya lo coba buat ngehindar, iya kan?"
"Bukan urusanmu!"
"Ck,ck,ck..Farah Farah, lo gak bisa nipu gue. Asal lo tau, gue gak bakal ngizinin Gibran buat deket sama lo. Ya, secara lo tau kan, gue ini lagi hamil anaknya Gibran. Kayaknya keluarga ini gak butuh lo lagi deh," ucapnya dengan bangga dan tersenyum sinis.
Aku mengepalkan tanganku, ingin rasanya aku menampar rubah itu. Biar dia sadar akan posisinya. Suami hasil ngerebut aja bangga, cih, dasar gak punya malu.
Aku tidak menanggapi ucapannya, setelah sarapanku habis, aku bergegas menuju kantor dengan memesan taksi.
"Hallo kak Dim, bisa ke kantor sekarang?"
"Bisa bu."
"Baik, kutunggu kak Dim di kantor," aku mematikan panggilan telfonku.
Sebenarnya aku kasihan dengan pria kaku ini. Tapi mau bagaimana lagi, dengan cara ini aku bisa membuat Gibran tersadar.
Bahkan aku sudah berterus terang dengan Dimas akan tujuanku, tanpa keberatan dia pun mau membantuku.
Aku begitu terkejut saat sudah sampai di kantor, ku lihat Dimas sudah berdiri di depan pintu masuk menungguku.
__ADS_1
"Kak Dim, bagaimana bisa kak Dim sampai duluan?"
"Ibu jangan meragukan kecepatan saya membawa mobil," ucapnya tersenyum tipis.
"Kak Dim, jangan panggil aku Ibu ya! Panggil nama aja," kataku membuatnya mengangguk.
Seperti biasa, begitu sampai kantor aku langsung memulai pekerjaanku dan Dimas menemaniku. Namun sebelum itu, ia membuatkanku sacangkir kopi lebih dulu.
Hingga tepat di jam 7 pagi, semua karyawan sudah berdatangan dan memenuhi ruangan divisi pemasaran.
"Farah!"
Suara menggelegar memenuhi ruangan. Aku tidak menanggapinya.
Gibran menarik tanganku hingga membuatku berdiri.
Plak...
Gibran menamparku, aku mengepalkan tanganku dan menarik tangan Riana hingga membuatnya beranjak dari duduknya. Kebetulan kubikelku dan Riana bersebelahan.
Plak...
"Kenapa menampar Riana?"
"Dan kak Gib sendiri kenapa menamparku?" Aku balik bertanya. Aku tidak ingin menjadi lemah karena cinta. Jangan kalian pikir hatiku sakit, terus aku akan diam saja. Oh tidak!!
Aku akan melakukan apa yang membuat hatiku puas dan merasa lebih baik hanya dengan caraku sendiri.
"Karna kamu sudah keterlaluan. Berangkat ke kantor lebih awal dengan niat bisa berdua-duaan dengan sekertarisku, iya? Istri macam apa kamu, Farah?"
Semua karyawan terdengar tengah berbisik-bisik satu sama lain. Mungkin mereka pikir apa yang dikatakan Gibran adalah benar karena aku datang lebih awal bersama Dimas.
"Dan kamu Dimas, kamu saya pec...
"Stop! Jangan pernah berani untuk memecat Dimas dari perusahaan ini!"
"Kenapa?" Biar kalian bisa bebas berdua-duaan di kantor, begitu maksudmu Farah?"
__ADS_1
"Ck, kenapa kak Gib harus cemburu dengan Dimas? Bahkan kami tidak memiliki hubungan apapun, kalopun ada itu bukan urusanmu!"
"Karna kamu adalah istriku, jadi jelas yang menyangkut dirimu masih ada urusannya denganku."
"Oh ya? Lalu gimana dengan hubungan gelapmu dengan wanita ular berkedok sahabat? Kalian menjalin hubungan terlarang di belakangku, dan diam-diam menikah tanpa sepengetahuanku sampai Riana hamil, apa itu juga bukan urusanku?"
"Wah Ri, gak nyangka gue lo jadi pelakor sahabat sendiri. Wanita murahan lo Ri, gak tau diri," ucap Karyawan memberanikan diri menghina Riana.
"Iya bener, gak tau diuntung lo. Udah dibaik-baikin lo malah nikung. Gak tau diri lo Ri jadi sahabat."
"Aduh Ri-Ri, kok bisa sih lo jadi ***** dadakan gini, ck ck, gak nyangka gue. Ya gak temen-temen?"
"Iya tuh bener!"
"Iya, iya.." Suara riuh memaki Riana yang memang sangat salah.
Riana terlihat memanas, ia mengepalkan tangannya kemudian menyambar tasnya dan berlalu pergi.
"Huuuu, pelacur lo.."
"***** dadakan lo Ri.."
"Perempuan gak tau diri.."
Sorakan masih terdengar saat Riana melewati mereka.
"Diammm!! Jangan ada yang berani menghina Riana, karena secara tidak langsung dia juga bos kalian," bentak Gibran.
"Bos kita cuma pak Gibran dan Ibu Farah pak, selain dari itu bukan bos kami, ya gak temen-temen?"
"Iya pak betul!"
Aku bersyukur banyak yang membelaku dalam masalah ini. Gibran dibuat mati kutu harus melawan banyak mulut. Walau bagaimanapun ia sadar bahwa dirinya memang salah.
"Farah, tolonglah mengerti posisiku saat ini!"
"Kak Gibran yang harusnya mengerti posisiku. Aku sebagai istri menentang poligami, tapi dengan keras pula kak Gib menginginkannya. Jadi jangan salahkan aku jika aku tidak lagi perduli, masih beruntung aku gak minta cerai, iyakan? Kalo sampe kita cerai, kakak pasti tau apa yang terjadi, kamu ataupun Riana gak akan mendapatkan satu senpun warisan keluarga Fernanda."
__ADS_1
TBC.