Dia Istriku, Bukan Babu

Dia Istriku, Bukan Babu
Bab 21


__ADS_3

Setiap sesuatu yang kita lakukan pasti akan dapat balasan, kadang lama kadang ula cepat, apa yang kita tanam itu yang akan kita tuai.


''Bagaimana, Apakah apa berhasil?'' tanya Sinta


''Tidak, ternyata Abra memiliki bokingan seorang polisi, wanita yang papa utus untuk mengusir wanita itu kini sudah di tahan dengan tindakan pencemaran nama baik,'' ucap papanya Sinta.


''Sabarlah, papa masih banyak cara untuk membuat Abra bersamamu,'' ucap papanya Sinta


''Terimaksih ya,pa. Sinta sayang papa,'' ucap Sinta seraya memeluk papanya dengan manja.


Mungkin benar, paqpanya begitu menyayangi Sinta, tapi kasih sayang yang ia berikan itu salah, dan mendukung kesalahan anak itu akan menjadi dampak yang buruk untuk sang anak.


''Sekarang, kau istirahatlah, jangan sampai anak papa yang cantik ini sakit,'' ucap papanya Sinta


''Siap papa, kalau begitu ... Papa juga istirahat, selamat malam papa,'' ucap Sinta seraya mencium pipi papanya lalu segera menuju ke kamarnya, papanya menatap kepergian anaknya, ia measa bahagia setiap melihat senyuman di bibir sang putri.


''Sayang, mas berjanji akan membahagiakan putri kita, mas akan memenuhi permintaanmu untuk mengabulkan setiap keinginan putri kita, termasuk mengambil Abra dari istrinya,'' ucap papanya Sinta seraya menatap gambar mendiang istrinya.


Menyayangi anak memanglah tidak salah, namun caranya yang salah.


*******


''Abra, bagaimana dengan tawaran ayah, Jessy dan kakaknya tidak bisa melanjutkan bisnis ayah, kami berharap kamu mau bekerja di restoran ayah,'' ucap ayahnya Jessy

__ADS_1


''Tapi ayah, Abra bukanlah anak ayah, Abra takut akan menjadi masalah kedepannya, begini saja, Abra akan bekerja di resoran ayah, tapi sebagai karyawan biasa bukan sebagai pemilik seperti yang ayah katakan,'' ucap Abra. Abra memang ingin keluar dari perusahaan Sinta, karena Abra tidak ingin terjadi sesuatu antara istrinya, apalagi Abra tahu jika Sinta adalah wanita yang memilki obsesi yang tinggi, apapun yang ia inginkan harus ia dapatkan, Abra buaknnya gede rasa tapi ia tida ingin ada masalah di kemudian hari dan itu bisa berdampak pada hubungannya dengan sang istri, Terlihat Ayah dan Ibunya Jessy saling melemparkan pandagannya.


Ibunya Jessy menganggukkan kepalanya pada suaminya.


''Baiklah, Abra. Ayah setuju, kau akan bekerja disana sebagai direktur, jadi kau yang akan memimpin disana, dan ayah akan datang memantau, kau tahu sendiri bagaimana kondisi ayah belakanga ini,'' ucap ayahnya Jessy.


''Jangan termakan dengan omngan ayah, kak. Dia hanya berakting agar aku segera menikah, kenapa harus aku yag di desak menikah, kakak yang anak pertama saja belum nikah, iya kan kak Abra, kak Naya?'' tany Jessy seraya menatap kearah Abra dan Naya


'' Kau itu perempuan, kakakmu laki-laki, jadi dia masih mencari, sedangkan kau di cari,'' ucap sang ibu.


''Ibu, Sekarang bukannya jamannya untuk jodoh-jodohan, kak Abra dan kak Naya saja yang dari kampung gak main perjodohan, masa iya aku harus menerima perjodohan,'ucap Jessy


Naya hanya bisa tersenyum merasakan kehangatan dalam keluarga ini, begitu juga dengan Abra, ia tidak menyangka jika ia akan mendapatkan kehangatan dari keluaraga yang bukan keluarganya,sedangkan keluarganya sendiri kini malah seolah memusuhinya.


******


''Hai Ayah, ada apa yah?'' ucap Adi seraya terseyum pada ayahnya, ia duduk di samoing mamanya dan memeluk sang mama dari samping.


''Kau harus minta maaf pada Fitri, kalau tidak kau keluar daari rumah ini,'' ucap sang papa yang mana membuat Adi sangat terkejut, Adi langsung meleaskan pelukannya dari sang mama dan melihat raut wajah mereka bertiga yang terlihat serius.


''Ada apa ini, Ma? Kenapa kalian serius begitu, dan untuk apa aku minta maaf pada wanita sialan itu,'' ucap Adi


''Tutup mulutmu, Adi! sekarang minta maaf, buatlah istrimu itu tidak mlakuka hal yang bodoh yang malah akan membuat reputasi keluarga kita hancur,'' bentak sang papa.

__ADS_1


''Apa yang papa katakan, Adi tidak mengerti?'' tanya Adi


''Istrimu akan melaporkanmu ke polisi ats kekerasan dalam rumah tangga, nak. Kau tahu memar dan luka di sekujur tubuhnya sangatlah parah, kau suda ketrlalun dalam membimbing dia, Nak,'' ucap mamanya Adi.


Itu bukan membimbing namanya jeng, tapi menyiksa,'' ucap tiba-tiba Bu Sani dari arah pintu ruang tamu, tentu meeka semua sangat terkejut. Bu Sani melangkah dengan sangat percaya diri sekali, ia mendekati mereka dengan wajah yang penuh amarah.


''Apa kau fukir, kami adalah orang-orang bodoh yang bisa kau bodohi, Adi? Kau meminta uang 10 juta sebagai uang jaminan pernkahan yang seharusnya itu tidak ada dengan tujuan menipu kami, ingat ... kami ada rekamanmu saat bicara dengan Fitri, da sekarang kalian menambah siksaan pada anakku, kira-kira apa yang akan terjadi jika semua bukti dan bahka luka pada tubuh anakku yang antik itu sampai ada yang tahu?'' tanya Bu Sani dengan nada mengancam.


''Jeng, mari kita bicarakan dengan baik-baik, Ini kesala fahaman,'' ucap mamanya Adi.


''Salah faham katamu, bahkan anakku di jambak oleh iparnya apakah itu juga slaah faham!'' teriak Bu Sani yang begitumarah ketika Fitri menghubunginya dan menceritakan semuanya, bahkan Fitri dan Bu Sani memilki rencana untuk menguras semua harta mereka. Ya ... orang jahat dan serakah akan tetap jahat dan serakah seperti yang di lakukan olleh Bu Sani dan Fitri serta Rara.


''Pa, Ma, aku memang memukul Fitri, tapi gak sampai parah begitu,ercayalah pa, ma,'' ucap Adi


''Tapi keyataannya lka Fitri sangat parah, Adi, bahkan bibir Fitri sampai sobek karena pukulanmu, tangannya lebam semua, kakinya juga, papa benar-benar tidak mengerti dengan apa yang ada dalam fikiranmu, Adi, Bukankah kalian pacaran? Tapi kenapa jadi seperti ini ...?'' ucap papanya Adi yang merasa pusing dengan nmasallah in, baru saja mereka menikkah tapi sudah terjadi masalah seperti ini.


''Pa, aku memang menampar pipI Fitri, itu karena dia cerewet, pa. Fitri pembangkan, makanya aku gak betah di sini karena sikpanya,'' ucap Adi


''Apa kau bilang, anakku pembankang, bahkan kalian menjadikan dia babu gratisan disini,'' ucap Bu Sani


''Bukankah itu ddikanmu Bu, Kau melakukan itu pada Naya, dan aku menitu apa yang kau lakukan padanya, bukankah ka yang mengatakan jika itu adalah tugas menantu, dan aku disini menerapkan apa yang kau jarakan pada Naya,'' ucap Adi seraya terseyum sinis pada mertuanya, sedangkan Ftri seang eak-enakan maan anggur dan jeruk di kamarnya, iaa mengira bisa menang sekarang dan rencananya bisa berhasil.


''Baiklah, aku akan membayar 10 juta itu, oke tidak apa-apa, aku juga akan minta maaf pada Fitri dan siap di penjara, tapi aku juga akan memberikan vidio ini pada polisi dan Abra, bagaimana, Bu?'' ucap Adi seraya memutar sebuah rekaman dimana Bu Sani da Fitri sedang menyiksa Naya, bahkan ketika Naya mengalami keguguran, Adi memiliki rekaman dimana Fitri-lah yang mendorongnya hingga terjauh dan darah segar mengalir.

__ADS_1


Bu Sani dan yang lainnya sangat terkejut, apalagi kakak Adi.


''Kurang ajar kalian, ternyata benar ya ... Naya tidak bahagia bersama kalian!'' teriak kakaknya Adi yang memang sering mendengar tentang kejahatan mereka pada Naya, karena itulah kakaknya Adi ingin memberi pelajaran pada Fitri, namun ... Mereka tidak menyangka jika mereka sampai setega itu pada Naya.


__ADS_2