
''Ibu mau menyusul Abra ke kota, Ibu dengar sekarang kehidupan Abra susah semakin baik,'' ucap Ibu Sani
''apakah Abra akan menerima Ibu, Ibu tahu sendiri bagaimana perlakuan Ibu. pada Naya saat acara itu, '' ucap Ayahnya Abra
''Abra anakku, dia akan luluh padaku, aku yang hamil dia selama 9 bulan lebih, jadi Ihu yakin.... Abra tudak akan tega sama Ibu, '' ucap Ibu Sani
''Rara ikut, Rara mau kuliah di kota saja, Bu'' ucap Rara yang baru saja datang dari sekolahnya.
''Kuliah di kota, sekolah disini saja kau tidak becus, '' ucap ayahnya Rara.
''Kalau di kota, Rara janji akan rajin, Yah, " Ucap Rara.
''Aku akan bicara sama kak Abra, aku yakin kak Abra akan setuju kalau Rara kuliah di kota, '' ucap Rara yang berlalu dari hadapan ayah dan ibunya.
''Memangnya ayah gak mau ikut nyusul Abra?'' tanya sang ibu.
''Bu lalu disini yang nemenin Fitri itu siapa? Apakah ibu tega membiarkan dia sendirian disini?'' tabya ayahnya Fitri membuat Bu Shani terdiam. Benar juga apa kata suaminya.
''Lalu bagaimana yah?'' tanya Bu Sani.
''Kita disini saja jika Rara ingin ke Jakarta biarkan saja, ada Abra yang akan menjaganya, can itu kalau Abra bersedia, apalagi Abra juga melihat bagaiaman sikap Rara pada Naya, ''icap ayahnya mengingatkan akan sikap mereka.
''Aku heran Kenapa Abra begitu mencintai Naya ya, Pak? Padahal Naya gak cantik-cantik amat, '' ucap Ibunya Abra.
''Katanya siapa? Bahkan Fitri takut kalah saing dengan kecantikan Naya, Bu. Ihh saja yang selalu mengatakan kalau Fitri yang cantik, '' ucap suaminya Sani membuat Bu Sani langsung memukul suaminya.
...----------------...
''Assalamualaikum, ' Maaf Jessy telat, Ibu, Ayah, Kakak semua, '' ucap Jessy yang kini tengah duduk di antara Abra dan kakak laki-lakinya yaitu Arjuna biasa di panggil Juna.
''Darimana saja, Jes?'' tanya sang ibu.
''Masih mampir ke kantor, Bu, '' Jawab Jessy seraya membuka piringnya dan mengisinya dengan nasi serta lauknya.
__ADS_1
''Ka Juna kenapa? Apa ada masalah, kenapa wajahnya kusut begitu?'' tanya Jessy
''Entahlah, dari tadi hanya diam, '' sahit ibunya.
''Tidak ada apa-apa, hanya kepikiran dengan pekerjaan yang kakak tinggal, itu saja, '- ucao bohong Juna dengan sesekali ia melihat kearah Naya.
''Bang, Naya mau ke toilet,'' bisik Naya.
''Mau abang antar?'' tanya Abra.
''Gak usah, abang disini saja, dimana toiletnya?'' bisik lagi Naya.
''Kau lurus saja kesana, nanti belok kiri, lalu ke kanan sedikit, disana toilet wanita, '' ucap Abra seraya tersenyum pada Naya.
''Baiklah, kalau begitu Naya pergi dulu ya, bang, '' ucap Naya seraya berdiri, lalu tersenyum pada ibunya Jessy yang melihat kearahnya.
Bersamaan dengan itu, sering ponsel Juna berbunyi awalnya Juna abaikan, namun panggilan kedua kalinya ia angkat.
''Ibu, Aayh, Abra, aku angkat telepon dulu, ya'' ucao Juna setaya pergi ke arah uang berlawanan dengan Naya. Namun siapa sangka panggilan itu cepat selesai dan Juna menggunakan kesempatan itu untuk menemui Naya.
...----------------...
'Duapa mereka? Mengapa terlihat begitu akrab dengan Abra? Dan siapa wanita yang ada di dekat Abra? Kenapa ia terlihat begitu dekat dengannya?'' Tanya Sinta pada diri sendiri.
Ya, Kini Sinta dan temannya makan dj restoran tempat Abra bekerja, mereka juga melihat Abra yang sedang melakukan makan bersama beberapa orang.
Kebetulan Sinta baru sampai ketika Naya sudah pergi ke kamar mandi.
''Apakah kau akan menjadi penguntit seperti ini?'' tanya sahabat Sinta
''Apakah kau mengenal wanita itu?'' tanya Sinta
''Tidak, dan aku tidak kenal dengan dia, '' ucap sahabat Sinta.
__ADS_1
''Aku serius, Wajahnya seperti sangat familiar bagiku, tapi siapa ya?' gumam Sinta
''Permisi Nona, kalian. mau pesan apa?'' tabha seorang pelayanan yang tadi mereka panggil.
''Ah, iya. Ini mbak, kamibpesan yang ini, yang ini dan yang ini dan minumannya jus jeruk sama jus strawberry, '' ucap sahabat Sinta. Sedangkan Sinta fokus emantao Abra dan wanita yanga da fi dekatnya, mereka terlihat begitu bahagia melepas tawanya. Tiba-tiba Sinta memiliki ide, ia mengambil gambar Abra dan wanita itu, Sinta akan menggunakan gambar itu untuk menyerang Naya.
''Sinta, Woy.... udah, kok sampai segitunya mandangin Abra, '' ucap Ayu sahabat Sinta.
''Lihatlah, Ay! Dia sangat tampan, ketampanannya itu loh beda dengan orang kota, setiap aku lihat Abra, radanaha hatiku ini tenang, damai bahkan semua kesedihan dan kesepianku terobati, hanya dengan mandang wajahnya loh, Ay, '' ucap Sinta dengan mata terus tertuju pada Abra.
''tapi Abra milik wanita lain, Sinta. Dia sudah beristri, setampan-tamlannya seorang laki-laki kalau sudah menjadi milik wanita lain, kita tidak boleh menggodanya ataupun tergoda olehnyaolehnya, kau ingat apa kata artis yang baru tersandung kasus itu. Pelakor itu tidak perlu cantik, cukup modal gak tahu diri aja udah cukup, kamu mau di cap pelakor? Kalau aku mah ogah, bahagia gak dapat sengsara yang dapat, '' ucap Ayu seraya menyeruput minumannya yang sudah datang.
Sejenak Sinta terdiam, ia memikirkan apa yang sahabatnya katakan. Ayu memang wanita yang bar-bar, tapi jika masalah hati, Ayu memang jagonya.
Seorang wanita seharusnya mengerti akan perasaan wanita lain. Lalu bagaimana mereka tega mengambil kekasih ataupun suami wanita lain? Apakah mereka tidak berfikir jika posisi istri sah-nya akan menjadi tempat kita suatu saat nanti.
Apalagi jamannya seperti sekarang, kadang yang salah yang di bela yang brantem malah dihujat. Seperti kata pepatah, kesalahan orang lain meskipun hanya sekecil biji kacang, orang lain akan tampak, Sedangkan keslahan orang lain meskipun sebesar gunung dan seluas lautan, kita tetap tidak akan menyadarinya. Karena begitulah sejatinya manusia.
''Kak, Naya kok lama ya?. tanya Jessy
''Kau benar, Kakak susul dia saja ya.... kalian nikmatilah hidangannya dengan baik, '' ucap Abra.
"Gak usah di susul, bentar lagi mereka pasti akan kembali, " Ucap ibunyaJessy.
"Kak Juna juga, dia kemana? Apakah masih belum selesai dengan urusannya" ucap Jessy.
"Sudah, kau tahu sendiri kan bagaimana kalau kakakmu bicara, " ucap Ayahnya Juna dan Jessy.
Merekapun saling bercerita satu sama lain. Perlu di ingat dan harus digaris bawahi, semenjak yang di rencanakan sudah ada dalam benaknya,
...----------------...
''Apa-apaan ini! jadi ini alasanmu menghilang selama ini?'
__ADS_1
Ucapan dan tindakan bagaikan petir disiang bolong, Naya terkejut dengan apa yang pria di hadapannya saat ini? Naya begitu syok sehingga tatapan keduanya kini saling bertemu.
Rasa takut menjalar di fikiran Naya,ia berusaha melepaskan diri dari cengkraman pria yang ada di hadapannya saat ini. Namun lagi dan lagi, Naya tidak bisa melawan kekuatannya.