Dia Istriku, Bukan Babu

Dia Istriku, Bukan Babu
Bab 25


__ADS_3

Matahari kian bersinar seakan menyengat, Panasnya begitu tak terhingga namun ... jauh lebih panas hati yang Sinta rasakan. Ia terlihat terus gelisah apalagi beberapa hari ini tidak ada kabar dari Abra, Abra seolah menutup diri dari Sinta.


''Percuma papa, Abra sudah bukan lagi bawahan papa, dia sudah berhenti dari perusahaan, Pa!'' ucap Sinta dengan begitu kesal, Papanya Sinta begitu terkejut karena tidak ada laporan apapun dari orang perusahaan.


''Sejak kapan, dan siapa yang mengatakan itu padamu?'' tanya papanya Sinta


''Sudah tiga hari yang lalu, pa. Tepatnya sejak kita pergi liburan dan Abra mengundurkan diri dari perusahaan, dan apakah papa tahu ... Bahkan, Abra tidak membalas satu-pun pesanku, benar-benar menyebalkan,'' ucap Sinta


''Aku heran, apa lebihnya wanita itu,pa. Sampai Abra begitu mencintainya, jauh lebih cantik aku, kaya ... aku jauh lebih kaya, pintar ... aku jauh lebih pintar, dan aku lebih segala-galanya dari pada wanta itu,'''ucap Sinta mengeluh pada papanya.


''Mungkin takdir masih ingin bermain dan ingin menguji kesabaran dan usahamu, Papa hanya ingin mengatakan, Kau adalah segalanya bagi Papa, jadi.... Papa akan usahakan yang terbaik untukmu, ''ucap Papanya Sinta setaya mengelus rambut putrinya yang kini bersandar di dadanya.


Disisi lain, Naya kini mulai disibukkan dengan adanya beberapa pekerja yang datang untuk membuatkan kebun kecil diatas balkon. Tiba-tiba dering ponsel Naya berbunyi.

__ADS_1


''Ibu?'' gumam Naya, Suaminya memang tidak ingin Naya putus silaturahmi dengan orang tuanya, terlepas bagaimana sikap ibu tiri inya itu namun ada ayah yang harus Naya dengar kabarnya.


''Assalamu'alaikum, Bu,'' ucap Naya.


''Waalaikumsalam, Naya, Ibu langsung saja ya.... kamu ada pegangan uang gak? gak banyak cuma 500 ribu, kalau ada kamu transfer segera ya, '' ucap Ibu tirinya Naya, Naya bingung, Naya memang ada uang tapi itu untuk kebutuhan dia juga, dan ia juga harus minta izin pada suaminya, Meskipun ia tahu sang suami sudah memasrahkan semua uang itu padanya tapi Naya tidak enak hati.


''Naya izin Bang Abra dulu ya, Bu?''


''Loh, Kenapa harus izin, uang dia uangmu juga!'' ucap sang ibu.


''Naya, kau masih punya tanggung jawab untuk bapakmu, jadi kirim sekarang! Kalau masih nunggu Abra, kelamaan, '' ucap Ibunya Naya.


''Bu, Bang Abra yang bisa kirim uang, Naya belum tahu caranya buat kirim uang, '' ucap Naya.

__ADS_1


''Dasar gobl*ok kamu, Sekarang udah modern, bisa kirim lewat hp, mana mungkin kamu gak tahu, buang-buang waktu ibu saja, ya sudahlah ibu langsung telepon menantu ibu saja, bicara denganmu hanya bikin ibu stress, dasar oon!'' umpat ibu tirinya Naya. Setelah itu Ibu tirinya Naya langsung mematikan ponselnya.


Naya hanya bisa mengelus dada, Ia mengerti sejarang uang yang bisa membuat hati seseorang melunak, dan itu sudah berlaku untuk Naya.


----------------


''Pak, ini adalah laporan pendapatan dan pengeluaran bulan kemaren yang bapak minta tadi, '' ucap seorang wanita yang kini berdiri tepat di depan meja Abra.


''Kau letakkan saja nanti aku akan memeriksanya, ''ucap Abra tanpa mengangkat kepalanya, Ia sibuk mempelajari beberapa hal tentang restoran yang saat ini menjadi tanggung jawabnya.


'Sulit banget sih mencari perhatiannya?' bathin wanita itu.


''Apakah masih ada yang lain?'' tanya Abra seraya melihat kearah wanita itu, Detak jantung karyawan itu langsung berpacu dengan cepat ketika Abra menatapnya.

__ADS_1


'Benar-benar sangat tampan, ah... rasanya, aku akan tambah semangat bekerja' bathin wanita itu.


''Kalau sudah tidak ada keperluan lagi, silahkan keluar!'' ucap Abra


__ADS_2