Dia Istriku, Bukan Babu

Dia Istriku, Bukan Babu
Bab 36


__ADS_3

Selama dalam perjalanan, Arab dan Juna jarang bicara, mereka sibuk dengan pikiran mereka sendiri.


Juna memperlihatkan beberapa rekan Zaneeta bahkan beberapa musuh Zaneeta.


''Ini adalah teman kerja yang sangat tidak menyukai Zaneeta, Dia akan selalu mencari gara-gara pada Zaneeta, memancing emosi Zaneeta, sehingga Zaneeta melakukan kesalahan, " Ucap Juna.


''Dan yang ini, teman dekat Zaneeta, dia selalu tahu apapun tentang Zaneeta, bahkan tidak ada sesuatu yang Zaneeta sembunyikan darinya, '' Ucap Juna melihat wajahnya dan mendengar apa yang Juna katakan, membuat Abra selalu menatap kearah gambar sahabat Zaneeta.


''Kau kenapa?'' tanya Juna menyadarkan lamunan Abra.


''Tidak, hanya saja... apakah Kakak sudah menanyakan tentang Zaneeta pada sahabatnya?'' tanya Abra.


''Sudah, dia hanya menangis dan menangis, aku jadi tidak tega untuk menanyakan perihal zaneta lagi padanya,'' ucap Juna, pikiran Abra pun melayang ke mana-mana, Entah kenapa Abra ingin sekali menyelidiki sahabat Zaneta itu.

__ADS_1


'' Apakah kakak tahu di mana alamat sahabatnya Zaneta itu?'' tanya Abra pada Juna


'' Tentu aku tahu, alamatnya berada di kontrakan dekat tempat Zaneta bekerja,'' ucap Juna


''Aku akan mulai menyelidiki semua ini dari sahabatnya, Apakah Kakak pernah mendengar pepatah bahwa musuh terbesar kita adalah orang yang paling dekat dengan kita, karena orang yang paling dekat dengan kita lah orang yang paling tahu tentang kita dan kelemahan kita,'' ucap Abra yang mampu membuat Juna langsung menoleh ke arahnya.


'' Maksudmu kamu mencurigai sahabat Zaneta?'' tanya Juna yang mana di balas anggukan kepala oleh Abra. Juna tidak habis pikir dengan pikiran Abra, mengapa ia malah curiga pada sahabatnya Zaneeta Kenapa bukan mencurigai para musuh Zaneta.


''Sahabat Zaneeta, dialah orang yang paling terpukul atas kehilangan Zaneeta. Mana mungkin kamu menuduh dia orang yang telah melakukan semua ini,?'' tanya Juna


...----------------...


''Fitri! sekarang Apa rencanamu?" tanya ayahnya Fitri.

__ADS_1


"Tiidak ada Ayah,'' jawab Fitri Seraya memotong kukunya.


'' Tidakkah! Kau berniat untuk mencari pekerjaan?'' tanya sang ayah lagi.


'' Kenapa? Apakah Ayah ingin menjadikan aku mesin seperti Bang Abra?'' tanya balik Fitri.


''Apa yang kau katakan Fitri! Mana ada Ayah menjadikan Abangmu sebagai ATM untuk ayah, Bukankah itu adalah pekerjaanmu dan juga ibumu? sekarang Abangmu sudah menyadari kesalahan itu dan dia sudah mengurangi jatah bulanan kalian, Ayah hanya berharap kau memiliki pekerjaan sehingga kau bisa memiliki penghasilan untuk mencukupi kebutuhan, gaya hidupmu sangat mewah, Ayah pasti tidak akan sanggup untukmu mencukupi kebutuhan mewahmu itu,'' ucap sang ayah


'' itu karena Ayah tidak becus menjadi kepala rumah tangga, Karena itulah semua yang ada di rumah ini ibu lah yang mengaturnya,'' ucap Fitri dengan Ketus.


'' jaga bicaramu Fitri! Walau bagaimanapun dia adalah ayahmu,'' ucap ibunya Fitri yang tiba-tiba datang dari luar.


'' Ayah memang benar seharusnya kau sekarang bangkit dan mencari pekerjaan, buktikan pada keluarga mantan suamimu itu karena kau bisa bangkit dan sukses, bukan malah lihai-lihai di sini untuk mempergemuk tubuhmu, laki-laki mana yang akan menyukaimu?'' tanya sang Ibu tak kalah sengit dengan apa yang diucapkan oleh Fitri pada ayahnya.

__ADS_1


'' Bu Fitri baru bercerai dengan mas Adi. Berilah waktu untuk Fitri menenangkan diri apakah kalian tidak memiliki empati pada Fitri?'' tanya Fitri pada ibu dan ayahnya.


''Kami bukannya tidak empati padamu Fitri tapi kami ingin memberikan solusi agar kau tidak terpuruk dalam perceraian itu, ketika kamu memiliki pekerjaan maka semua rasa sumpekmu itu akan hilang,'' ucap ayahnya Fitri.


__ADS_2