
Abra adalah auami yang selalu peka dengan apa yang terjadi pada istrinya, sekecil appaun perubahan pada Naya, Abra pasti bisa merasakannya.
''Sayang, abang kelar dulu ya,'' ucap Abra pada sang istri
''Hati-hati ya bang,'' ucap Naya seraya mencium punggung tangan Abra
''Pasti, mau ku bawakan oleh-oleh apa?'' tanya Abra
''Tidak usah bang, Naya mau masak nanti,'' ucap Naya yang mengantarkan Abra hingga keluar dari rumah.
Mulai dari kemaren ikiran Naya masih teringat akan tuduhan Juna, hari ini Abra ingin memastikan itu pada Juna, siapa Zaneeta yang ia maksud? Benarkah wajah mereka begitu mirip, ataukah hanya mirip sekilas saja.
*****
''Apa! Kau diceraikan oleh Adi? Fitri ... Gak bisa gini dong, pernikahanmu baru saja d lakukan , belum sampai dua bulan dan kau sudah di ceraikan oleh suamimu itu, Ibu tidak teima, akan ibu datangi keluarga suamimu,'' ucap kesal ibu Sani.
''Percuma Bu, Fitri sudah menandatangani surat perceraian itu, mas Adi menggunakan vidio itu untuk mengancamku,'' ucap Fitri yag kini masuk kedalam rumahnya denan tasa besar yang ada di tangannya.
Tentu kepulangan Fitri sudah menjao buah bibir para tetangga, namun Fitri dan ibunya sama, kebal akan omongan orang dan tentunya tidak ada rasa malu.
''Lalu, apa yang keluarga itu berikan padamu, setidaknya kaumendapatkan sedikit kekayaan mereka,'' ucap Bu Sani seraya duduk di hadapan Fitri yang hanya terhalanag meja.
''Apa, Bu? Gak ada yang mereka berikan pada Fitri, bahkan cincin pernikahan saja mereka ambil,'' ucap Fitri yang semakin membuat Bu Sani naik darah.
__ADS_1
''Ini tidak bisa di biarkan Fit,akan ibu datangi mertuamu, enak saja ... anakku sdah d rusak malah gak dapat apa-apa,'' celoteh Bu Sani seraya keluar lalu mengeluarkan motornya dan langsung tancap gas kerumah mantan besannya, sedangkan Fitri merasa lelah tdak ingin lagi berdebat dengan mereka.
Masih teringat jelas semua yang Adi katakan padanya, jika ia bertahan dengannya maka hanya sakit hati dan penderotaan yang akan ia terimakarena mulai beberapa hari yang lalu, Adi juga sudah tidak tinggal sekamr denan Fitri.
''Huffftttt ... Fitri, janga berlarut-lart sedihnya,toh rang kaya bukan hanya dia saja, kaya tapi pelit untuk apa? Sekarang kau bangkit dan buktikan pada mantan suamimu itu, jika kau bisa mendapakan yang jauh lebih tampan dan kaya dari pada dirnya, atau kau bisa buktikan kau dengan kesuksesanmu, tapi apa keahaianku yang akan membuatku sukses, aku tidak punya keahlian apapun,'' gerutu Fitri yang kini sudah merebahkan tubuhnya diatas kasur.
******
''Kalian beraninya main keroyokan, kenapa .... Apakah kalian merasa kalah saing denganku, sehingga kalian melakukan ini padaku? ''
''Kau jangan sok berani disini, kami pastikan kau akan mati perlahan disini, mungkin saat ini nkami masih punya hati untuk memberi kau makan, tapi di saat semua sudah kami selesaikan, kau tidak akan lag kami butuhkan.''
Ya, ada seorang wanita yang di ikat diatas kursi, dan beberaa wanita lagi menatapnya dengan penuh kebencian.
Wanita yang di ikat itu menatap mereka dengan penuh dendam yang mendalam.
''Hahahahah, kau jangan sombong dulu, hanya butuh beberapa hari lagi, maka kau akan kami lenyapkan di rumah busuk ini, berusahalah untuk bebas, karena itu tidak akan mungkin bisa,'' ucap mereka semua dengan tawa yang lantang.
''Baiklah, jika aku bebaas, aku hanyaa butuh 7 hari untuk melenyapkan kalian semua, tertawalah kalian sepuasnya, karena aku pasti akan menyobek mulut kalian satu persatu nanti,'' ucap wanita itu dengan tatapan yang tajam.
Di sisi lain Abra sudah sampai di depan kediaman Juna dan Jessy, ia memencet bel rumah itu da kebeula yang membukanya adalah Juna.
''Kau?'' Tanya Juna
__ADS_1
''Ada hal yang ingin aku tanyakan pada kakak, ini masalah istriku, Siapa Zaneeta, apa maksud kakak mengatakan jika dia adalah Zaneeta? Istriku sampai gelisah setiap waktu karena nama itu,'' ucap Abra yang masih berdiri di depan pintu, Juna langsung keluar menuju ke sebuah gazebo yang ada di depan rumahnya, ia tak ingin orang tuanya mendengar tentang apa yang mereka bicarakan, cukup Jessy yang ahu dan kini munkin Abra akan tahu juga.
Di saat mereka sedang duduk di Gazebo, Juna menyerahkan pnselnya yang mana ada gambar Zaneeta yang tersenyum lepas, sama persis dengan senyuman Naya.
Abra sama dengan Jessy tak percaya dengan apa yang ia lihat.
''Tai ini bukan Naya-ku kak, Mungkin iya ... Mereka miri tapi dia bukan Nayaku, kaka bilang kalau Zaneeta menghilang sudah hampir dua bulan, sedangkan istriku selalu ada bersamaku, teatnya itu aku menjemput istriku di kampungku, dia bukan Naya kak, mungkin wajah mereka sama tapi mereka orang yang berbeda,'' ucap Abra seraya menatap terus pada layar ponsel Juna.
''Itu yang ingin aku katakan pada diriku sendiri, Ab. Jika dia bukan Zaneeta lalu dimana Zaneeta searang, aku sudah mencarinya kemana-mana , tapi tidak ada jejak apapun,'' ucap Juna dengan suara yang lemah.
''Bahkan da menitipkan adik-adiknya ke panti asuhan, bukankah dia sengaja ingi pergi? Dengan begini sudah memb8ktikan kalau dia bersalah?'' tanya Juna
''Tunggu kak, kakak yakin jika adik-adiknya itu yang menitipkan ke panti adalah Zaneeta?Bukankah sebelumnya kaka mengatakan jika Zaneeta terssaandung masalah dengan teman kerjanya, Apakah kakak suda menyakan pada ibu panti tentang siapa yang menitipkan mereka? Apakah benar Zaneeta atau ada orang lain?'' tanya Abra yang membuat Juna langsung melihat kearahnya.
''Maksudmu, ini adalah sebuah konspirasi?'' tanya Juna
''Bisa di bilang begitu, tapi bapa salahnya kakakĀ menayakan langsung ke pihak panti,'' ucap Abra.
Pikiran Juna semakin tak karuan dengan alibi yang Abra katakan, kemungkinan itu bisa terjadi.
Hati Abra sedikit merasa tenang setidaknya Naya bukanlah Zaneeta. Juna juga minta maaf karena telah membuat Naya tak nyaman, bentu tubuh njauh lebih berisi Zaeeta, mata juga jauh lebih tajam Zaneeta, hanya wajah mereka yang bagaikan pinang di belah dua, tidak ada celah apapaun untyi membedakan mereka hanya tatapan saja.
''Jika kakak butuh bantuan, aku akan siap membantu kakak,'' ucap Abra seraya menepuk bahu Juna.
__ADS_1
''Aku akan akukan sendiri pencarian ini, dia pasti ketakutan saat ini,'' ucap Juna dengan mata yang berkaca. Di sisi lain, wanitaa yang terikat mencoba melepaskan diri dengan ikatan yang begtu kuat, ahkan pergelangan tangannya membiru karena ikatan itu, amarah sangat memuncak, a tak lagi berusaha melepaskan ikatan tangannya, tai kini ia berusaha melepaskan ikatan kakinya.
'Aku harus bebas, akan aku buat mereka menyesal,'bathin wanita itu dengan mata yang memerah karena manan amarah.