Dia Istriku, Bukan Babu

Dia Istriku, Bukan Babu
Bab 22


__ADS_3

Adi terkejut melihat kemarahan kakaknya.


''Benar dugaanku, kalian telah menyiksa Naya selama ini, jangan harap anak kalian bisa enak disini, jika kalian ingin melapor, laporlah sesuka kalian, tapi aku pastikan, kalian akan mendapatkan hukuman atas apa yang sudah kalian lakukan pada Naya!" ucap Lila


''Kau bukan keluarga Naya, jadi jangan sok perduli dengannya, " ucap Bu Sani.


''Kau salah, Naya bagiku sudah seperti adikku, kalian akan menerima balasan atas semua perbuatan kalian, dan semoga saja, Abra tidak akan pernah ingat dengan kalian lagi!" pekik Lila, orang tuanya dan Adi heran dengan apa yang kakaknya katakan, kenapa kakaknya begitu membela Naya, Adi tahu Naya itu wanita yang baik, bahkan dirinya sangat menghormati Naya jika bertemu dijalan, banyak. pemuda tydak berani menggodanya meskipun ia di tingal. merantau oleh sang suami.


Teman Adi pernah menggoda Naya, Namun Naya tidak pernah menggubria mereka.


"Sekarang, jika kau ingin bawa putrimu, bawa dia, tapi aku akan pastikan tidak akan ada seorangpun yang akan mau menjadikan ia menantu!" ancam Lila, Fitri yang mendengar itu menjadi sangat terkejut, Kenapa semua tak sesuai yang ia rencanakan, Bukankah mereka akan ketakutan dengan ancaman ibunya? tapi kenapa sekarang malah Lila yang mengancam ibunya. Terkadang manusia hanya bisa merencanakan tapi Tuhan jugalah yang akan menentukan hasilnya, dan saat ini kata-kata itulah yang tepat untuk Fitri dan Bu Sani.


''Di mana putriku, Aku ingin menemuinya, Kalian tidak memiliki hati telah menyiksa putriku sampai sebegitunya,'' ucap Bu Sani seraya nyelonong masuk mencari kata Fitri, sedangakan Adi, Lila dan kedua orang tuanya kini memilih duduk.


Mereka semua langsung menetap Lila.


''Ada apa, kenapa kalian menatapku seperti ini, Apa karena Naya? Ayolah ma... Mama masih ingat beberapa bulan yang lalu, mungkin sudah satu tahun, aku kecelakaan, dan yang membantuku adalah Naya, Naya memopohku hingga ke sebuah klinik, kebetulan tempatnya gak begitu jauh, tapi di klinik di sarankan untuk dj bawa kerumah sakit, Naya membawaku tanpa menghubungi kalian, di sana ternyata aku harus menerima donor darah, dan lagi - lagi, Naya yang mendonorkan darahnya untukku, aku hanya berhutang budi padanya, dan aku sangat sedih ketika mendengar cerita tentangnya, '' ucap Lila.


'' Karena itulah kakak tidak pernah menyukai Fitri selama ini,'' ucap adik Seraya menatap kakaknya, bila menganggukkan kepalanya tangannya masih mengepal menaruh dendam pada Fitri dan ibunya.

__ADS_1


''Selama ini aku memang diam kau bertunangan dengannya, aku menunggu di mana dia menjadi istrimu dan aku akan menumpahkan semua kekesalanku padanya dan aku sudah mewujudkan itu meskipun hanya 2 hari ini, tapi melihat apanya semakin hari pembuat rasa sakit semakin aku rasakan, dan sekarang dia membuat drama seolah kau menyiksanya dengan begitu sangat, dasar orang-orang licik!'' umpat Lila.


Adi berfikir, memang benar ia memukul istrinya, tapi tidak sampai separah yang keluarganya katakan, Adi bangkit dari duduknya dan langsung menuju ke kamarnya dimana sang istri sudah terlihat menangis di pangkuan sang ibu.


''Apa yang kau inginkan? Kau memang licik Fitri,'' ucap Adi.


''Kau yang jahat, Mas. Kaum yang menyiksaku dan kau yang mengatakan aku licik, apa kau masih punya otak?'' tanya Fitri.


''Benarkah, aku memukulmu sebelah sini, tapi kenapa disini yang memar, aku memukul pipimu kenapa jidatmu yang terluka, apakah kau ingin menipuku? "ucap Adi.


...----------------...


''Pasti akan menyenangkan jika ada kak Vicky Bu. Kalau begitu kami permisi, Assalamualaikum, '' ucap Abra seraya mengikuti. punggung kedua orang tua Jessy.


Saat ini sopir merekalah yang mengantarkan Abra dan Naya pulang. Awalnya Jessy yang ingin mengantarkan Abra, namun di larang oleh ibu dan ayahnya, karena mereka tahu bahwa Jessie tidak akan langsung pulang setelah mengantarkan Abra dan Naya.


Tidak ada suara yang terdengar dari dalam mobil, Naya juga sudah terlihat begitu lelah, Abra menyandarkan kepala Naya pada dadanya, awalnya Naya menolak karena malu dengan pak sopor, namun Naya mengatakan, jika mereka suami istri, tentu pak sopir faham.


Sinta terlihat begitu gelisah, Entah apa yang ada dalam pikirannya, namun ia tidak bisa memejamkan matanya.

__ADS_1


''Aaaaaa '' Terima Sinta yang langsung bangun dari tidurannya, ia memegnag kepalanya karena merasakan sakit kepala. Ia sangat mengantuk tapi sulit untuk memejamkan matanya.


''Abra, Abra, Abra..... !'' teriak Sinta, Karena do otaknya hanyalah ada nama Abra saja, bayangan senyuman Abra selalu ia ingat, padahal itu bukanlah senyuman untuknya.


''Aku harus cari hiburan, mungkin bisa membuatku tenang, '' hujan Sinta seraya turun tari ranjang tidurnya, Iya pun langsung menuju ke sebuah lemari dan mengambil sebotol bir untuk minum. Sinta akan merasa lebih rileks jika ia sudah meminum-minuman itu. bercerita pada sahabatnya pun sudah percuma, sahabatnya tidak pernah menyetujui niatnya untuk mengambil Abra dari istrinya, walau bagaimanapun mereka adalah wanita, dan sahabatnya Sinta tidak ingin jika Sinta menjadi seorang pelakor. Dengan status yang Sinta miliki tidak sulit untuk Sinta menemukan laki-laki yang jauh lebih baik dari Abra, namun sayangnya cinta itu buta tidak memandang apapun lagi.


Setelah menghabiskan beberapa gelas bir itu, Sinta pun menyandarkan tubuhnya di dinding, Dia duduk di lantai dengan tangan satunya memegang gelas bir dan satunya botol bir. Ia meletakkan kedua bir di tangannya.


Sinta memejamkan matanya dan menengadahkan kepalanya. ''aku tidak suka kalah, Abra, mungkin jika akunyudak bisa memilikimu, berarti tidak akan ada satupun yang bisa memilikimu, '' ucap Sinta lalu ia tak sadarkan diri.


Kesunyina malam dengan semuanya angin yang berdesir, membuat Naya dan Abra menikmatinya, keduanya baru saja menyelesaikan ibadah yang tertunda, saat ini mereka berisik di dekat jendela kamarnya, yang man mereka membiarkan jendela terbuka sehingga angin sepuas apa bisa menerpa dan memberikan kesejukan pada keduanya.


'' Oh iya sayang Apakah saat ini kau masih menggunakan KB?'' tanya Abra. Naya menggelengkan kepalanya Seraya berkata " Tidak Bang, sebentar keguguran itu aku sudah tidak menggunakan KB lagi,'' ucap Naya


'' Abang sangat berharap jika di sini akan segera hadir buah cinta kita,'' ucap Abra.


''Amin, itu juga keinginan Naya, Bang.''


Naya menyandarkan kepalanya, tadi iya merasakan kantuk yang sangat waktu di dalam mobil namun saat ini ia merasa sulit untuk memejamkan matanya. Melihat Naya sudah terlelap dalam tidurnya, Abrar langsung menggendongnya ke atas ranjang, Iya menatap wajah sang istri dengan penuh kekaguman.

__ADS_1


" Aku mencintaimu bukan hanya karena parasmu, tapi karena hatimu, Kau wanita yang paling baik yang pernah aku kenal namun yang paling utama, aku mencintaimu karena Allah, dan aku berharap Allah selalu merestui hubungan kita dan membuat hubungan kita langsung hingga kita menua nanti, aku sudah pernah terpisah denganmu dalam waktu yang lama untuk saat ini aku tidak ingin hal itu terulang lagi, berjanjilah bahwa kau akan selalu berjuang bersamaku,'' gumam Abra seraya terus menatap wajah sang istri.


__ADS_2