Dia Istriku, Bukan Babu

Dia Istriku, Bukan Babu
Bab 34


__ADS_3

''Bu, Sudah gak usah minta uang sama Naya terus, dia baru saja tinggal dengan suaminya, jika kita selalu minta uang ada Naya, nanti Abra malah mengira kalau Naya sama seperti yang ibunya katakan,'' ucap ayahnya Naya.


''Kalau kita tidak minta uang sama Naya, lalu kita mau makan apa pak? Pikir ... Kamu sudah tdak bisa bekerja, dia anakmu, jadi wajar kalau dia ngirim uang ke kamu, kalau selama ini uang Abra selalu masuk ke rekening ibunya, sudah saatya uangnya masuk ke kita,'' ucap ibu tirinya Naya.


''Tai kalau terlalu sering, itu gak bagus juga, Bu. Bagaiaman kalau Abra turun tangan, dia pasti gak ngijinin Naya untuk pegang uangt, kita tidak tahu bagaiaman kondisi mereka disana, Kalau mereka tidak punya pekerjaan bagaimana, Bu?'' tanya ayahnya Naya.


''Ayah, pekerjaan Abra itu disana bagus, kalau tidak ... Tidak mungkin Abra akan mengirimkan uang banyak pada keluarganya, Ayah jangan teerlalu bodoh deh yah.  coba bayangkan .... Apa yang kita dapatkan jika kita tidak memintanya, maka kita yang akan rugi, kita sama-sama orang tuanya,'' cerocos ibu tirinya Maya.


''Kalau gak mau minta sama anak dan mantu, yo mbok kerjo yah, emangnya kita hidup ini tak pakai duit!'' ucap kesal ibu tirinya Naya seraya berlalu meninggalkan suaminya.


[Nak, maafkan ibumu kalau dia selalu minta uang padamu, ini juga salah ayah, karena ayah yang tidak bisa memberinya uag, ayah sakit sekarang, tai ayah akan segera sembuh, kau sehat-sehatlah disana, maafakan ayah] pesan itu ayahnya kirimkan ke Naya.


Betapa terkejutnya Naya ketika membaca pesan itu, air matanya tak terasa terjatuh.


[Ayah sakit apa? pasti lambung ayah kumat ya? Tdak apa-apa ayah, Naya sudah bicara sama Bang Abra, tanpa ibu mintapun Bang Abra akan tetap memberikan ibu dan ayah uang] balas Naya.


Merasa tiidak ada balasan dari ayahnya, Naya menjadi gelisah. Berulang kali Naya melihat onselnya namun tidak ada balasan dari ayahnya. Naya-pun menghubungi ayahnya. Satu panggilan tidak terhubung, panggialan kedua belum terhubung,panggilan ketiga barulah terhubung namun yang mengangkat adaah ibunya.


''Assalamualaikum, Ayah,'' ucap Naya


''Waalaikum salah, Naya. Ayah baru saja minum obat, ibu menyuruh dia untuk istirahat, tidak apa-apa kan jika kamu bicara sama ayahnya besok,?'' tanya ibu tirinya Naya.


''Tidak apa-apa, Bu. Terimakasih karena ibu merawat ayah,'' ucap Naya.


''Walau bagaimanapun ayahmu adalah suami ibu, kalau dia sakit seperti ibu juga sedih dan susah,'' ucap ibu tirinya Naya.

__ADS_1


''Ibu jangan cemas, insya allah setiap minggu Naya akan kirimkan ibu uang,'' ucap Naya


''Nah, begitu Naya ... Kalau begini, ibu semangat juga kan rawat ayahmu, biar kepala ibu gak kenyt-kenyutan mikir duit buat makan dan beli obat,'' ucap ibu tirinya Naya.


''Iya Bu, doakan Naya dan bang Abra disini ya, Bu'' ucap Naya


''Pasti, ibu akan selalu doakan kamu agar kamu sehat dan segera d kasih anak, dan tentu murah rezeki serta bisa lancar kirim uang buat ibu dan ayah,'' ucap ibu tiri Naya


''Amin ya Allah, Ibu. Semoga doa ibu terkabul, ibu juga jaga kesehatan disana,'' ucap Naya


''Pasti, Ibu kan juga mau gendong cucu,'' ucap ibu tiri Naya yang membuat Naya tersentuh. Naya tahu jika Ibu tirinya adalah wanita yang baik, mereka selama ini tidak ernah dekat aalagi dengan isu tentang perselingkuhan Abra dan ucapan besannya yang mengatakan jika bayi yang Naya kandung bukanlah anak Abra, semakin membua jarak keduanya terpentang jauh, bahkan ayahnya termakan hasutan itu. Namun kedatangan Abra ke kampung itu telah melenyapkan segalanya, segala penilaian buruk orang tua Naya


*******


Abrapun masuk kedalam kamarya dan melihat sang istri sedang berdirir didekat jendela seraya menatap bintang yang begiu banyak menghiasi langit malam ini.


Abra memeluknya bdari belakang, Naya menikmati kehangatan pelukan sang suami.


''Kenapa, Apa yang kau fikirkan?'' tanya Abra


''Tidak ada bang, hanya saja pemandangan malam ini sangatlah indah,'' ucap Naya menikmati hembusan angin dan pelukan sang suami.


''Aku ada pekerjaan, bukan pekerjaan sih ... Gimana ya? Sayang .... '' ucap Abra seraya membalikkan tubuh Naya agar menghadap kearahnya.


''Bang Juna tetap mengira kaau kau adalah Zaneeta, demi membuktikan kalau kau bukan Zaneeta, aku ingin ikut dia untuk mencari wanita itu, tapi kalau kau tidak mengizinka maka aku tidak akan ikut dengannya,'' ucap Abra, awalnya ia ingin merahasiakan dari Naya, ia ingin mengatkan kalau nia ada pekerjaan keluar kota, namun ... Abra sudah berjanji tidak akan menyembunyikan apapun dari Naya.

__ADS_1


''Apakah Naya mengijinkan?'' tanya Abra


''Pergilah bang, mungkin dengan beginin kak Juna tidak akan menganggapa kau sebagai Zaneeta lagi, Naya juga penasaran apakah sebegitu miripnya aku dan Zaneeta itu ya bang?'' tanya Naya


''Abang sudah melihat gambarnya kalian benar-benar mirip, bagaikan pinang di belah dua, hanya saja penampilannya yang beda, cara tatapan kalian juga beda, Kamu lembut dan meneduhkan tai wanita itu tajam dan penuh ambisi,'' ucap Abra.


''Naya, abang tau ada sesuatu juga yang kau fikirkan apa ini masalah ayah dan ibu?'' tanya Abra


Naya terdiam, ia malu jika harus mengatakan permasalahan ayahnya.


''Katakan ada apa? Mereka orang tuamu tentu orang tuaku juga, aku tidak membedakan antara orang tuaku dan orang tuamu,'' ucap Abra


''Ayah sakit bang,'' ucap Naya seraya menundukkan kepalanya.


''Apakah kau ingin pulang?'' tanya Abra seraya mengangkat wajah Naya agar menatap dirinya. Naya menggelengkan kepalanya, bukan berarti Naya tidak ingin bertemu dengan ayahnya namun ongkos untuk ulang dan pergi sangatlah banyak dan lebih baik itu ia kirimkan ada oarang tuanya agar bisa di buat berobat.


''Kau katakan pada bu untuk merawat ayah dengan abik, belikan obat yang terbaik untuk ayah, nanti abang akan kirimkan uangnya ke ibu,'' ucap Abra seraya mengelus pipi Naya.


''Tapi, kau tidak apa-apa kan jika abang tinggal sendiri?'' tanya Abra


''Tidak apa-apa bang, lagian Naya juga sudah punya kegiatan untuk berkebun,'' ucap Naya seraya tersenyum dan menampilkan deretan giginya.


''Bang, terimakasih banyak ya bang, dan maafkan Naya karena selalu merepotkan abang,'' ucap Naya


''Hei, apa yang kau katakan, jangan katakan apapun lagi,'' ucap Abra seraya menyandarkan kepala Naya ke dadanya, Naya melingkarkan tangannya di perut Abra.

__ADS_1


__ADS_2