Dia Istriku, Bukan Babu

Dia Istriku, Bukan Babu
Bab 26


__ADS_3

Untuk menjaga rumah tangga tidak ckup dengan cinta dan materi saja, tapi dengan kepercayaan dan keterbukaan. Begitulah Abra saat ini, ia selalu menceritakan setiap kejadian yang terjadi ditempat bekerja, bahkan Abra juga menyebutkan satu persatu nama mereka, sehingga Naya hafal dengan semua pelayan restoran itu meski belum tahu wajah mereka satu persatu.


''Nanti ibu dan ayah akan berkunjung ke restoran, Abang ingin kau juga ikut,'' ucap Abra saat mereka sarapan.


''Apakah tidak apa-apa jika aku ikut, bang? Maksudnya .... Penampilanku tidak akan membuat abang malu?'' tanya Naya


''Sayang, apa yang kau kaakan, abang yang ingin kamu menutup auratmu, abang malah senang karena kau bisa menjaga hak abang agar tidak di nikmati pria lain, abang suka adek yang sekarang, semua yang ada di tubuh hanya boleh abang yang melihatnya,'' ucap Abra seraya menggenggam tangan Naya , Naya tersenyum manis, dengan cepat ia menghabiskan sarapannya.


''Baiklah, abang akan tunggu di ruang tamu, kau bersiaplah,'' ucap Abra.

__ADS_1


''Baik, bang,'' ucap Naya seraya melangkah menuju ke kamarnya.


Abra pun menggantikan tugas istrinya untuk mencuci piring, namun ketika baru saja Abra selesai, dering ponelnya membuat Abra langung mengeringkan tangannya dan melihat pada layar ponsel, tertera nama Ibu yang memanggil.


''Assalamualaikum, Bu,'' ucap Abra


''Ibu, Apakah ibu tidak bosan membicarakan hal yang sama, Naya tidak pernah membiacarakan ibu sama sekali, bahkan dia yang mengingatkan aku untuk mengrimkan ibu uang, kenaa bu sangat tidak menykai Naya, Bu? Apa salah istriku pada ibu, Apa salah dia sehingga ibu selalu menfitnah dia seperti ini, Ibu sdah lama tinggal dengan Naya, aku rasa ibu sangat mengenal bagaiaman Naya, tapi ibu masih saja menilai salah istriku, Bu ... Aku kira dengan kita tidak sering bicara ibu bisa berubah dan merenungkan kesalahan bu, tapi ibu tidak berubah sama sekali, Bu ... Naya tidak pernah membicarakan ibu sama sekali, amlah ibu yang membuka aib ibu sendiri,'' ucap Abra.


''Baiklah bu, Abra tutup dulu, Asslamaualaiakum,'' ucap Abra seelum menutup panggilannya.

__ADS_1


''Waalaikum salam,'' jawab sang ibu yang mungkin saja sudah tidak di dengar oleh Abra, Selalu begitu jka Abra yang menghubungi ibunya, karena itulah Abra sangat jarang menghubungi ibu dan keluaragnya di kampung. bu Sani tercengang dengan apa yang Abra katakan, ia merasa malu karena sdah selalu menfitnah menantunya itu, padahal ... Rara da Firi sudah mengra jika Naya mengadukan semunya pada Abra atau mungkin Naya mengadukan yang tidak-tidak, tapi nyataya malah tidak sama sekali.


''Bagaimana bu, Apa kata kak Abra? Apakah Naya menceritakan tentang kita?'' tanya Fitri.


''Tidak, seharusnya kita tahu bagaimana Naya, dengan kita bicara seperti itu, sudah pasti Abra semakin jauh dari kita, dan apakah kau tahu.... Naya yang menyuruh Abra mengirimkan uang untuk kita semua, '' ucap Bu Sani.


''Gak asyik ah kak Naya, kenapa dia tidak menggunakan kesempatan untuk semakin membuat kak Abra jauh dengan kita?'' gerutu Rara.


''Rara benar, kita tidak memiliki kesempatan untuk itu, jadi kita gunakan kesmpatan yang lainnya '' ucap Fitri

__ADS_1


__ADS_2