
Dalam berteman kita tida tahu mana yang baik dan mana yang pura-pura baik, kita hanya bisa melakukan yang terbaik dan menjadi orang baik. Kesabaran memang ada batasannya, tapi kita bisa menahan amarah da emosi kita, jika kita tahu akan akibat dari amarah kita.
Pagi sudah tiba, dengan biasa Naya suda menyiapkan sarapan pagi untuk Abra. Sedangkan Abra membantu dengan membersihkan halaman depan dan menyiram tanaman sebelum berangkat ke kantor, aalagi hari ini Abra akan mengundurkan diri dari perusahaan Sinta.
''Bang, letakkan saja, biar Naya yang melanjutkannya nanti, ayo sarapan dulu,'' ucap Naay yang kini sudah berdiri di dekat Abra.
''Baik sayangku,'' ucap Abra seraya mencuci tangannya di kran lalu mematikannya kembali.
Naya tersenyum ia berharap kehiduoannya akan seperti selamanya, Naya tida ingin akan kemewahan, ia hanya ingin kehngatan dalam rumaha tangga, bahagia bersama keluarga kecil mereka.
Ketika mereka sarapan, dering pinsel Abra berbunyi.
''Bang, Ibu yang nelfon,'' ucap Naya seraya mneyerahkan ponselnya pada Abra.
''Letakkan saja, biar abang nanti yang menghubunginya, kau sarapan juga,'' ucap Abra
''Kenapa tidak abang angkat saja dulu, siapa tahu penting, bang'' ucap Naya
''Ibu pasti akan membicarakan uang, Sayang. Biarlah aku akan menghubunginya setelah naku sarapan, karena aku yakin nanti selera makanku akan hilang jika sudah bicara samma ibu,'' ucap Ara yang mana sarapannya suda mau habis. Ia melihat Naya yang juga masih menghabsikan sarapannya, Bukan maksud Abra ingin mengabaikan ibunya, tapi ia tahu aka ibunya jika masih marah, apapun akan ia katakan, bahkan daftar binatang saja kadang bisa ia absen satu persatu.
Setelah Abra memasrikan Naya menghabiskan makanannya, Abra pun menghubungi Ibunya.
''Abra, kemana saj kamu, apakah istrimu yang melarangmu mengangkat panggilan dari ibu, apakah istrimu yang ....''
''Assalamualaiakum, Bu'' uca Abra berusah meredam, untungnya Abra tidak melodspiker panggilan itu. Sejenak Abra melihat nkearah Naya yang sedang mencuci piring,
''Waalaikumsalam, Abra,'' jawab bunya dengan rasa malu.
''Kenapa ibu selalu begini, baiklah ada apa, Bu?'' tanya Abra yang tida ingin tersulut emosi.
''Adikmu, kau tahu Fitri mendapatkan perlakuan yang tida baik dari suaminya dan kakaknya, kau harus bantu dia untuk keluar dari masalah ini,'' ucap sang ibu
''Ibu. Fitri baru saja menikah dan kalian ingin aku membantnya dengan bagaimana? Mungkin saja ini karma Fitri karena telah memperlakukan istriku dengan buruk,'' ucap Abra yang balak-blakan.
''Abra, kau membela orang asing dari pada adik dan ibumu?'' tanya Bu Sani dengan nada kesal.
__ADS_1
''Naya bukan asing, Bu. Dia istriku,'' ucap Abra penuh denga penekanan, tangannya terkepal.
''Jika ibu menghubungiku haya ingin menghina atau marah-marah tentang istriku, sebaiknya ibu jangan hubungi Abra lagi, dan masalah Fitri, Fitri sudah berpengalaman dalam mengkasari orang lan, tentunya dia sangat tahu cara mengatsinya, tentu nibu juga tahu akan hal itu,'' ucap Abra setelah itu Abra langsung mematikan panggilan itu. Sedih itu yag Abra rasakan ketika mendenar aiknya mengaalami masalah, namun ... Fitri bukan lagi anak kecil yang selalu membutuhkan bantuannya, apalagi mengingat sikap lasar Fitri pada istrinya, bukankah itu sudah enunjukkan jika Fitri sudah tahu cara mengatasinya.
''Ibu bicara apa, Bang?'' tanya Naya seaya mengusp tangannya dengan sapu tangan yang bersih.
''Ah tidak ada, bu hanya mengatakka jika dia kesusahan jika tidak ada kamu,'' ucap Abra, namun Naya tahu jika itu hanyalah keohngan Abra, Naya sangat tahu bagaimana dengan mertuanya itu.
''Baiklah, kalau begitu abang jaan dulu, doakan semoga semuanya berjalan dengan lancar, oh iya nanti setlah mengajukan pemundiran diri, aku akan langsung ke restoran Jessy, aku juga akan menghubungimu nanti, efang selalu ponselnya,'' ucap Abra yang di balas anggukan kepala oleh Naya. Naya mencium punggung tangan Abra, lalu Abra mencium keining Naya, sungguh pasangan yang saling mencintai, Abra juga menitipkan sang istri pada tetangga sebelah, jika terjadi sesuatu, Abra harap Naya segera menghubunginya.
******
Sedangkan Sinta kiji sudah berada di Bandara, Ia berniat untuk pergi liburan dan itu di temani oleh sang Papa. Papanya Sinta sudah menyerahkan semua keputusannya pada asistennya, dan Ia juga sudah berpesan agar tidak menghubunginya dalam hal apapun, karena sudah tak ingin fokus dengan putrinya.
'' Papa yakin ingin menemani Sinta? "tanya Sinta caranya yang menoleh ke arah Papanya.
'' tentu sangat yakin dong Sayang, kapan lagi Papa bisa liburan bersama anak kesayangan papa,'' ucap apanya Sinta Seraya membalas senyuman sang putri.
Sinta dan papanya kini menyeret koper kecil yang mereka bawa, dengan kaca mata hitam sebagai pelengkap kecantikan Sinta, membuat sang papa bangga akan kecantikan sang putri.
'' Ayolah Pa, jangan mulai lagi, oke! Sudah berapa kali papa membicarakan hal itu padaku, Ini masalah hati pa, dan hatiku hanya menginginkan Abra, "ucap Sinta seraya terus melangkah berdampingan dengan sang papa.
" Tapi kau akan terluka jika kau terus mencintainya, sayang. Masih banyak laki-laki yang jauh lebih berhak mendapatkan cinta darimu. Kau sangat berharga, jangan sia-siakan cintamu pada orang yang salah,'' ucapa Papanya Sinta
''Papa akan selalu membantumu untuk mendapatkannya, tapi jika bisa kau carilah laki-laki yang lain, '' imbuh Papanya Sinta.
''Singa akan memikirkan itu lagi, Pa. Sekarang kita fokus untuk bersenang-senang, '' ucap Sinta seraya tersenyum. menoleh kearah Papanya.
Papanya Sinta bukanlah orang yang suci, Dia sudah lama ditinggal mati oleh sang istri, memang benar dia tidak menikah lagi namun setiap Ia menginginkan nafsunya tersalurkan, ia pasti membawa seorang wanita ke rumahnya, tentu Sinta mengetahui hal itu, dan dia tidak keberatan sama sekali namun dengan satu syarat , Papahnya tidak boleh menikah lagi, Sinta selalu mengatakan jika istri Papanya hanyalah mamanya dan itu berlaku untuk selamanya.
...----------------...
''Ngapain kau keruangan direktur?'' tanya Dito dan Parman secara bersamaan.
"Aku ingin menyerahkan surat pemunduran diriku dari perusahaan ini, " ucap Abra yang mana membuat kedua sahabatnya sangatalh terkejut.
__ADS_1
"Kau sedang bercanda kan, Abra?" tanya Parman.
"Tidak, ini benar, Jadi jika aku punya salah sama kalian, aku minta maaf, " ucap Abra dengan nada serius.
"Kalian mainlah ke rumah, nanti biar istriku masakkan makanan yang enak untuk kalian, "ucap Abra seraya berusaha tersenyum pada kedua sahabatnya yang terlihat begitu sedih.
"Apa alasanmu berhenti dari sini? "tanya Dito
sejenak Abrar terdiam Ia juga tidak tahu mengapa ia ingin sekali mundur dari pekerjaan ini namun tawaran dari ayahnya Jessie termasuk tawaran yang menggiurkan apalagi Ayah Jessie memperbolehkan Abra untuk membawa sang istri ke restoran tentu itu sangat membuat Abra bahagia dan menjadikan itu alasan ia mundur dari pekerjaan ini.
'' tidak ada arisan yang tepat untukku katakan pada kalian tapi percayalah ini demi kebaikanku dan juga kebaikan yang lainnya, Kalian pasti sudah paham dengan maksudku, aku sudah beristri dan aku tidak ingin membuat Ibu Sinta kecewa padaku dan aku juga tidak ingin hanya karena itu akan terjadi masalah yang mungkin sulit aku atasi,'' ucap Abra.
'' Baiklah aku akan keruangan direktur dulu nanti kita bisa bicara lebih lama lagi, "ucap Abra Seraya menepuk pundak Parman dan juga Dito. Parman dan Dito tidak menjawab, mereka hanya menyentuh tangan Abra. Mereka berdua menatap kepergian Abra, tentu mereka merasa kehilangan jika Abra tidak ada di perusahaan ini.
*******
''Alhamdulillah, Bi. Bisa masak meski hanya sedikit, " ucap Abra ketika tetangga yang Abra minta tolong menemani sang istri datang.
''Disini Abra terkenal dengan laki-laki yang sangat baik dan sopan, pantas saja meskipun banyak wanita di komplek ini yang merayu Abra, dia tidak melirik mereka sama sekali ternyata dia sudah beristri dan tentunya istrinya sangat cantik seperti ini, "ucap Ibu Mila
''Bibi terlalu memuji saya, Silakan dinikmati Bi, "ucap Naya Seraya tersenyum pada Ibu Mila.
Naya sangat bersyukur karena berada di kalangan orang-orang yang sangat baik, Naya mengira bahwa orang kota itu semuanya jahat , tapi ternyata masih banyak orang yang baik dan ingin berbicara dengannya. Iya juga merasakan perhatian dari ibunya Jessie. Benar dengan apa yang dikatakan oleh Ibu Mila, Naya benar-benar merasa beruntung karena memiliki Abra di sisinya, di saat yang lain tidak menginginkannya tapi Abra begitu memperlakukannya dengan sangat baik.
Waktu berlalu dengan begitu cepat, Setelah Abra menyerahkan surat pengunduran diri, ia berbincang sebentar dengan para sahabatnya, Setelah itu ia langsung menuju ke restoran. Sang direktur sangat senang jika Abra keluar dari kantor ini, karena itulah sang Direktur langsung menyetujui permohonan Abra.
...----------------...
''Apa! Abra sudah keluar dari perusahaan, kapan?" tanya Sinta dengan terkejut dan gelisah.
.
.
.
__ADS_1
"Sial!" rutuk Sinta, ia begitu kesal dengan kabar pemunduran diri Abra.