
''Bagaimana bang? Apakah semua berjalan dengan lancar?'' tanya Naya ketika ia menghidangkan makan malam.
''Restorannya lumayan ramai, dek. Abang juga di perakukan dengan sangat baik, Abang sampai gak enak sendiri pada Pak Bramantyo,'' ucap Abra
''Alhamdulillah bang, itu rezeki abang, semoga berkah untuk kedeannya ya bang, Abang juga jangan lupa bersyukur sama Allah dan berterimakasih pada pak Bramantyo,'' ucap Naya.
''Iya dek, nanti kita kunjungi panti asuhan dekat sini ya?'' ajak Abra
''Iya bang, makanlah dulu, masaknya cuma sedikit bang,'' ucap Naya
''Bahan-bahannya sudah habis ya? nanti kita beanja seperti orang-orang kota ya, Dek. Belanja bulanan di toko besar,'' ucap Abra
__ADS_1
''Gak ah, bang. Mending abang bawa Naya ke pasar tradisional saja, disana sudah jelas penjualnya dari kalangan seperti kita bang, selain kia bisa belanja bahan yang segar kita juga bisa membantu mereka juga,'' ucap Naya, Sejenak Abra terdiam, ia meatap istrinya yang sedang mengambil nasi.
'Ya Allah, terimakasih karena sudah memberikan aku istri sebaik dia, aku tak mengharap kemewahan dan bergelimang hata, yang aku inginkan hidup bahagia dan membahagiakan dia yang aku cinta,' bathin Abra seraya terus menatap wajah istrinya.
Abra adalah laki-laki yang bisa terbilang tampan bahkan sangat tampan, Meskipun ia terlahir dari kampung tapi perawakan wajah dan tubuhnya tidak akan ada yang percaya jika dia lahir dan di besarkan di kampung.
Ia memiliki alis yang tebal, mata yang tajam dengan bola mata yang hitam pekat, hidung mancung dan bibir yang indah. Pantas saja jika Sinta tergila-gila padanya, padahal banyak laki-laki dari kalangan atas yang mengejar cinta seorang Sinta, namun Sinta malah terpaut pada seorang Abra.
''Bu, besok ibu atau ayah suruh ke sekoah sama guru, uang bulanan udah nunggak tiga bulan, ibu bilang akan bayar setelah hajatannya kak Fitri, tapi sampai saat ini ibu belum melunasinya juga,'' gerutu Rara seraya duduk di dekat ibunya yang saat ini merasa sangat pusing.
''Rara, kau bisa kan sisihkan uang jajanmu setiap harinya, tapi kau sangat broos, saat ini Abra mash marah sama kita, ibu malu minta uang padanya, apalagi sampai istriya tahu, mau taruh dimana muka ibu, I bu pernah bilang kalau ibu sudah tidak membutuhkan mereka, karena ibu fikir Adi bisa menjadi sumber mata uang kita, gak tahuya malah seperti ini,'' ucap kesal Ibu Sani.
__ADS_1
''Itu kan salah ibu, bukan urusan Rara juga, lagia ibu sih ... Uang yang kak Abra kirm selalau ibu pakai untuk perawatan, di tambah uang untuk kak Naya, yang boros disini itu ibu, dan ibu yang harus di salahkan,'' ucap Rara yang masih mengerucutkan bibirya.
''Kalian semua sama, sama-sama tidak bisa mengelola keuangan dengan baik, dan yang lebih parahya ibu juga sangat keterlaluan memperlakukan Naya, dan sekarang Fitri yang mendapatkan karmanya, seharusnya dengan kejadian ini, ibu dan Rara sadar dan minta maaf pada Abra dan Naya, bukan malah mencela mereka,'' ucap Ayahnya Abra.
''Ayah juga salah, karena gak tegas menjadi kepala rumah tangga, semuanya harus ibu yang atur, semuanya harus ibu yang urus,'' ucap ibunya Abra
''Kenapa pada saling menyalahkan, pokoknya besok ibu datang dan bawa uang, karena Rara gak mau semua anak sekolah tahu jika Rara belum bayar uang bulanan sekolah, titik!'' ucap Rara, setelah itu iapun berlalu.
Di sisi lan, Sinta marah, kesal dan gelisah, Apakah Abra ingin menghindar darinya? begitulah yang Sinta pikirkan.
[Hai, Abra lagi apa?] pesan itu masuk namun ternyata centang satu, membuat Sinta makin kesal.
__ADS_1
''Aaaa, Abra! Rasanya aku ingin sekali datang dan mengatakan semua isi hatiku, apakah dengan cara itu kau akan memandangku?'' tanya Sinta pada diri sendiri.