Dia Istriku, Bukan Babu

Dia Istriku, Bukan Babu
Bab 8


__ADS_3

Abra dan Naya kini sudah berada di penginapan yang Pak Budi carikan, Mereka pun mengawali kegiatan mereka dengan shalat berjamaah. Abrah berharap keputusan mengajak istrinya ke Jakarta adalah jalan yang terbaik, karena ia tahu jika keluarga istrinya adalah orang yang kurang berada, Apalagi dengan tradisi mereka yang mana jika anak perempuan sudah ikut suaminya maka dia akan menjadi tanggung jawab keluarga suaminya dan mereka menganggap bahwa mereka sudah tidak punya hak atas anak itu lagi, tapi Abrar akan tetap membawa sang istri menemui orang tuanya sebelum mereka berangkat ke Jakarta.


''Sayang, Abang bawakan nasi goren, makan dulu sebelum dingin, "ucap Abra setelah meletakkan 2 bungkus nasi goreng di piring.


Mendengar suara sang suami Naya pun keluar dari kamarnya dengan menggunakan daster yang ia beli tadi.


" Masya Allah cantiknya istri Abang,'' Puji Abra pada Naya, Naya hanya tersenyum mendengar pujian itu.


''Yuk makan, Sayang, '' ajak Abra seraya mengulurkan tagannya pada Naya, Naya pun duduk di samping Abra.


''Abang beli di mana? tanya Naya


'' Di Gang depan, Makanlah, "ucap Abra.


Naya merasa benar-benar bahagia, mengingat selama ini ia tidak pernah merasakan makan malam. Keluarga suaminya akan menghabiskan semua lauk dan nasinya. Namun saat ini ia merasa tidurnya akan nyenyak tanpa merasakan sakit di perutnya. Setelah makan malam selesai Abra membawa Naya duduk bersama, Abra menyandarkan kepala sang istri di dadanya dengan begitu lembut dan sesekali mengecup pucuk kepalanya.


''Ceritakan pada Abang, Apakah benar kalau kau pernah keguguran?'' tanya Abra Seraya menatap mata Naya, Naya membalas tatapan itu, ia merasa takut jika Abra marah padanya.


''Naya yang ceroboh, Bang, jadi Abang jangan salahkan siapapun, Naya yang tidak bisa menjaga kandungan Naya, "ucap Naya Seraya menundukkan kepalanya.

__ADS_1


''Abang tidak menyalahkan siapapun dalam hal ini ,Sayang, Ini takdir. Tapi abang hanya ingin tahu kejadiannya, Katakanlah pada Abang, ''ucap Abra Seraya menggenggam tangan Naya.


''Saat itu kehamilan Naya sudah memasuki usia 3 bulan 2 minggu Naya mengangkat ember yang berisi air, tapi tiba-tiba Naya merasa seperti ada yang mendorong Naya dari belakang, tapi Ibu dan Fitri bilang jika Naya hanya terpeleset, Naya masih ingat jelas dengan kejadian itu, setelah itu Ibu juga melarang Naya untuk mengabari Abang tentang masalah kehamilan Naya, karena ibu takut Abang tidak fokus bekerja setelah keguguran itu ibu juga melarang Naya untuk bicara dengan Abang karena Ibu bilang Abang kecewa pada Naya, Naya benar-benar minta maaf, Naya benar-benar tidak ingin kejadian seperti itu Bang, Naya juga sangat menginginkan anak itu hadir, "ucap Naya dengan Isak tangisnya, Abra menarik kembali tubuh yang saat ini bergetar karena menangis.


''Jangan menangis, Allah memiliki rencana yang jauh lebih indah untuk kita di masa depan, Nak... maafkan kami, hadirlah kembali diantara Abi dan Umi nanti,'' ucap Abra seraya menyentuh perut Naya yang sangat rata bahkan terbilang sangat kempis, sejenak mereka terdiam l, Abra benar-benar tidak kuasa mendengar semua kejadian yang menimpa istrinya, berulang kali Abra mencium kening sang istri sebuah bentuk maaf yang tak bisa berkesudahan.


''Abang merindukanmu sayang, Abang sangat merindukanmu, " ucap Abra seraya mendaratkan cium*an di bibir Naya, sejenak Naya terkejut dengan apa yang Abra lakukan, tubuhnya tiba-tiba menjadi kaku, Abra faham ini adalah reaksi nanya ketika malam pertama mereka dan kini Abraham merasakan ketegangan itu kembali.


"Apakah boleh?'' tanya Abra, tanpa berpikir Naya mengganggukan kepalanya, karena ia tahu jiwa dan raganya ini adalah milik sang suami.


Kerinduan akan tubuh sang istri kini Abra salurkan dengan penuh kelembutan, tangannya mengelus benda kenyal yang berada di d*da sang istri, benda itu adalah menjadi bagian sensitif Naya, Naya dan Abra sama- sama membuka matanya l, keduanya saling menatap satu sama lain.


"Aku juga mencintaimu Bang Abraham Malik Umar "ucap Naya.


Abra membawa tubuh Naya masuk ke dalam kamar dan menumpahkan segala rindu yang sangat dirasa selama ini, penyatuan tubuh setelah lama terpisah itu kini menjadi momen yang terindah bagi keduanya, suara Irama dari keduanya kini terdengar begitu indah menguasai kamar pasangan yang bagaikan pengantin baru.


...----------------...


'' Kenapa, Papa perhatikan anak Papa mulai datang dari kantor udah cemberut,"ucap Papanya Sinta.

__ADS_1


''Papa kenapa nggak bilang, kalau ternyata Abra sudah punya istri, "ucap Sinta dengan bibir yang memayun.


''Dalam biodatanya memang Abra sudah berstatus kawin, tapi Papa tidak pernah melihat Abra bersama wanita manapun, kenapa? Jangan bilang kalau anak Papa jatuh cinta pada Abra,? "tanya sang papa.


'' Ya nggak juga sih Pa, hanya saja... Ah, ya sudahlah kalau begitu, Sinta ke kamar dulu, Good night papa,"ucap Sinta Seraya mencium pipi Papanya.


'' Good night juga Sayang, "balas sang papa.


Sinta dibesarkan tanpa kasih sayang dari seorang ibu, Ia juga begitu dimanja oleh sang Papa, apapun yang diinginkan oleh Sinta akan Papanya berikan, karena bagi Sang Papa kebahagiaan sang putri adalah nomor satu dalam hidupnya, Pagi datang menyambut dengan begitu ceria bagi Naya dan Abra, Ini pertama kalinya Naya diperlakukan bagaikan Ratu Setelah 1 tahun menjadi babu di keluarga suaminya. Mulai setelah salat subuh keduanya melakukan pekerjaan rumah bersama, karena rumah tempat mereka menginap saat ini tidak bisa dikatakan bersih hingga pagi menjelang mereka belum selesai beres-beres, kini Abra menyapu halaman depan sedangkan Naya memasak.


''Ho... Ho.... Ho... Wah, bang. Hebat sekali istri Abang, baru sehari Abang jadikan Ratu sekarang Abang benar-benar menjadi pelayannya, " ucap tiba-tiba seseorang yang kini berdiri di hadapan Abra, Abra tentu tahu akan pemilik suara itu.''


"Abraham, Ibu tidak pernah membiarkan anak Ibu melakukan pekerjaan rumah dan saat ini kau sedang memegang sapu yang seharusnya itu menjadi tugas istrimu, dasar istri tidak tahu diri! Kau harus menceraikan istri macam itu, Abra! Istri yang tidak bisa menghormati suaminya tidak pantas untuk dipertahankan, Ayo nak, Pulanglah sama ibu, pintu rumah Ibu masih terbuka lebar untukmu, Ibu tahu kalau kamu khilaf kemarin l, Karena itulah ibu datang dan akan membawamu, "ucap Bu Sani Seraya mengulurkan tangannya pada Abra.


"Hebat Bu, penjahat teriak penjahat, jika ibu datang hanya ingin membuat keributan dan menjelek-jelekkan Naya, Abra berharap Ibu membawa kedua dayang Ibu pergi, "ucap Abra.'


"Abra kau jangan termakan dengan ucapan istrimu, kau tidak tahu apa yang ia lakukan selama kau pergi, dia bahkan membawa pria lain ke rumah dan...


''Cukup ibu, Cukup! Jangan menambah fitnah ibu dengan mengatakan istriku berkhianat, karena aku jauh lebih percaya dia daripada siapapun di dunia ini, '' ucap Abra dengan suara lantang.

__ADS_1


__ADS_2