Dia Istriku, Bukan Babu

Dia Istriku, Bukan Babu
Bab 27


__ADS_3

Aku tidak mengerti dengan apa yang ada dalam pikiran ibu dan keluargaku yang lainnya. Naya sudah jauh dari mereka namjn mereka masih enggan berhenti membicarakan tentangnya.


''Bang, aku sudah siap, '' ucap Naya yang sudah berdiri di belakang Abra, seketika Abra menoleh kearah istrinya, Abra benar-benar terkejut dengan penampilan istrinya. Sejak kapan istrinya pintar berdandan?


''Kenapa bang?'' tanya Naya yang merasakan heran dengan suaminya, melihat pada dirinya sendiri.


''Apakah ada yang salah bang? Maksudku.... Apakah abang tidak suka?'' tanya Naya.


''Bukan sayang, Abang malah sangat suka kau cantik sekali sayang, oh bidadari abang, '' ucap Abra seraya menarik tubuh Naya dalam pelukannya.


''Terimakasih bang, Naya belajar dj youtube bang, heheh, tidak apa-apa kan?'' tanya Naya seraya menatap wajah Abra.


''Terimakasih atas usahamu, abang tahu jika kau. melakukan semua ini demi abang, Iya kan?'' tanya Abra.


''Tentu untuk Abang, klau untuk siapa lagi?'' tanya Naya seraay menampilkan deretan gigi putihnya.


'Pantas saja aku selalu metasa ada yang beda dengan Naya, ternyatabdari make up-nya. Masya Allah, cantiknya istriku, ' bathin Abra.


Abra-pun berlalu dengan menggandeng tangan istrinya. Abra masih menggunakan taksi untuk pergi bekerja, Ia tidak mau dengan fasilitas yang ayahnya Jesy berikan. Abra juga sudah mulai menabung meskipun hanya sekedar beli sepeda motor.


''Abang minta maaf belum bisa memberikan yang terbaik, kendaraan saja kita masih pakai taksi, '' ucap Abra.


''Apa yang abang katakan, Naya ikhlas dan akan selalu bahagia dalam keadaan apapun, asalkan bersama abang, '' Ucap Naya, membalas genggaman tangan Abra.


Merupakan rezeki juga mendapatkan istri sholehah seperti Naya, namun apakah hidup merekka akan terus meulus dengan salingnya mereka setia?


******


''Kenapa kau menerima pengunduran diri Abra tanpa memberi tahuku terlebih dahulu, tidakkah kau tahu jika Abra adalah salah satu karyawan yang cerdas disini, dia juga sangat rajin da jujur tapi kau melepaskan orang seperti itu dengan mudah,'' ucap mafrah Sinta pada seseorang yang sudah menyetujui pengundaran Abra.


''Maafkan saya nona, saya mengira jika tuan Abra sudah membicarakan ini dengan nona, kafrena yang saya tahu nona dan tuan Abra sangatlah dekat, tidak mungki jika nona tidak tahu akan hal ini, apalagi ini adalah keputusan besar,'' ucap oorang itu dengan licik.

__ADS_1


''Dan juga saya di beri kepercayaan oleh aya anda untuk mengambilkeputusan, jika Abra sudah tidak mau bekerja disini, untuk apa kita mempertahankannya, pasti dia akan menyesal setelah ini,'' ucap orang itu.


''Abra tidak akan pernah menyesal dengan semua keputusan yang sudah ia ambil selama ini, ah ... Sialan, Apakah kau tahu dimana tempatnya bekerja?'' tanya Sinta


''Mungkin Dito dan Parman tahu, nona, '' ucapnya.


''Baiklah, sekarang kau boleh keluar, ' ucap Sinta hamba mencoba berusaha tenang, kjngkin gelagat dia baru saja sudah diketahui bawahannya itu, bahwa dirinya begitu menyukai Abra. Tapi masa vldoh bagi Sinta, Ia akan menemui Parman dan Dito setelah waktu istirahat tiba.


...----------------...


''Eh, itu pak Abra, hah... Dia bareng wanita?'' tanya pelayanan restoran yang melihat kedatangan Abra dan Naya.


''waw, cantik sekali, berhijab lagi, pantas saja jika pak Abra tidak pernh melirik wanita lain, istrinya dah seperti bidadari gitu, '' cibir pelayan yang lainnya sambil. melirik pelayan yang selalu caper pada Abra.


''Salam pak Abra, pacarnya ya pak?'' tanya pelayan yang memang terkenal bar-bar.


''Sayang, kenalkan dia Icha, Icha.... kenalkan dia istriku, Naya, '' ucap Abra seraya memperkenalkan istrinya pada pelayan tempat ia bekerja.


''Wah, Pak. baik banget istri bapak, istri boss malah mah salaman sama. kita hanb bawahan, '' ucap Icha


''Kita hanya di bedakan dengan pangkat pekerjaan kita, tapi sejatinya kita sama, sama-sama hamba Allah , kelak yang akan membedakan kita hanyalah amal kebaikan kita, baiklah... kalau begitu, kau lanjutkan pekerjaanmu, aku dan istriku akan ke ruangan, '' ucap Abra yang kembali menggenggam tangan Naya dan membawanya mengikuti langkahnya.


''Hei, kalain susah dengar sendiri kan, itu istrinya, jadi berhenti cari perhatian sama pak Abra, mana istrinya cantik banget lagi, '' ucap Icha seraya sedikit mengeraskan suaranya, kebetulan belum ada tamu karena masih sangat pagi, Abra memang jalan kepagian hari ini Karena dia ingin membawa Naya berkeliling restoran dan menikmati pemandangan yang ada di sekitar restoran.


''Mereka baik-baik ya, bang?'' Ucap Naya.


''Semoga saja selalu baik,'' jawab Abra seraya tersenyum pada istrinya.


''Dia Icha yang selalu abang ceritakan?'' tanya Naya.


''Ya, dia anak pertama dari tiga saudara, ibunya sakit sekarang, tapin anaknya tetap smart padahal dia tulang punggung, aku salut dengannya, '' ucap Abra.

__ADS_1


''di tambah lagu dia harus. membiaya sekolah adik-adiknya, dia hanya soft siang disini, akh dengar kalau malam dia kerja lagi, masih muda tapi di haruskan untuk hidup keras, jika mengingat anak jaman sekarang, mungkin dia masih seumuran dengan Rara,'' ucap Abra yang mengingat akan adiknya.


''Aku yakin, suatu saat Rarra juga bisa berubah, Bang, asal abang selalu kasih nasehat dengannya, aku tahu dia paling dekat dengan abang, maksudku bisa menghormati abang, meskipun sikapnya tidak jauh dengan Fitri, tapi setidaknya Rara masih bisa kita arahkan ke jalan yang lebih baik, '' ucap Naya


Abra tersenyum lalu mengecup kening Naya.


''Terimakasih, sekarang kau ingin menikmati kopi ala restoran gak?'' tanya Abra seraya tersenyum pada istrinya.


''Sekalian kita bisa pacaran lagi, mumpung masih sepi, '' goda Abra.


''Abang, udah kadaluarsa untuk kita pacaran, bang'' ucap Naya disertai tawanya.


''Makanya sebelum kadaluarsa, ayo kita perbarui momen pacaran kita, '' ajak Abra lalu membawa Naya keluar dari ruangannya.


''Misti, bawakan kopi macchiato dua, bawakan cemilan juga, '' ucap Abra


''Baik, Pak'' ucap Misti, wanita yang selalu tenaga pesona pada Abra, namun sekarang terlihat bjelas kekecewaan diwajahnya, sudah ada senyuman di bibir wanita itu. Meksipun dalam keadaan kesla dan kecewa Misti masih dengan cekatan membawakan pesanan Abra dan istrinya.


Sekarang Abra berada di balkon resti itu, ia duduk berhadapan dengan sang istri seraya menatap pemandangan dari atas.


Udara sejuk. menerpa wajah mereka, mereka sama-sama terdiam, menatap indahnya pemandangan pagi.


''Pak, ini pesanan pak Abra dan Ibu Naya, selamat menikmati, '' ucap Misti seraya sedikit membungkukkan sedikit tubuhnya.


''Terimakasih,'' jawab Naya seraya tersenyum pada Misti. Misti pun berlalu dari dekat mereka, tatapannya selalu tertuju pada tangan Abra yang selalu menggenggam tangan Naya yang ada di atas meja.


'Ah, sweet banget sih mereka, mau cemburu tapi aku suka lihat mereka berdua, serasi banget dah, ' bathin Misti seraya berjalan dengan lemas.


...----------------...


''

__ADS_1


Jadi ini restoran tempat Abra bekerja, baiklah!" gumam Sinta dari dalam mobil


__ADS_2