Diakah Jodohku 1

Diakah Jodohku 1
BAB 14


__ADS_3

Tora akhirnya sampai di pintu gerbang rumah Sherly. Ia menekan tombolnya berkali kali tapi tak ada jawaban. Ia baru sadar saat melihat garasinya tak ada mobil Sherly.


Kemana wanita keras kepala ini? tanya Tora sendiri.


Kepalanya semakin berdenyut. Ia terperosot di depan pintu gerbang itu. Tora menundukkan kepalanya.


Aku pria bodoh, aku melakukan hal yang melanggar undang undang. Untung saja aku sedang cuti bertugas, aku mabuk cuma karena menyesali perbuatanku. Aku tak pernah melakukan ini selama bertahun tahun. Mengapa aku justru menunjukkan sisi burukku pada wanita yang 10 tahun aku cintai. gumam Tora sendiri.


Kedua lengannya diangkat dua orang, ternyata mereka Ario dan Darko. Tora dibawa pulang kembali kerumah. Ario dan Darko membawa Tora langsung masuk ke kamar mandi. Ario menyiram wajahnya dengan air dingin.


"Sadarlah pak Inspektur. Jika kau sedang bertugas, kau akan langsung di pecat. Tak biasanya kau lemah menghadapi masalah." bentak Ario.


Tora sedikit tersadar dan mulai menyiram tubuhnya dengan pakaian yang masih melekat pada tubuhnya. Ario benar tidak seharusnya ia seperti ini. Ia akan menemui Sherly setelah wanita itu pulang ke rumah.


Setelah ia selesai mandi. Kesadaran Tora berangsur angsur pulih. Ia menatap kedua sahabatnya yang masih menunggunya. "Maafkan aku." itu hal pertama yang diucapkan Tora.


"Minumlah sup pengar itu, lalu makan siang. Kami akan pulang. Setelah selesai bertugas, kami belum pulang ke rumah. Dan nanti sore kami harus bertugas kembali. Selesaikan masalahmu dengan kepala dingin Tora. Dan katakanlah perasaanmu yang sebenarnya. Kau sudah terlalu lama menundanya." ujar Ario sambil pamit pulang.


"Aku juga pamit pulang pak." sambung Darko.


"Terima kasih, kalian sangat membantuku." jawab Tora.


Tora mengantar keduanya pulang sampai depan rumah. "Besok aku akan kembali, aku akan memangkas cutiku. Tanganku juga sudah baik baik saja." ujar Tora.


"Siap ndan." jawab keduanya bersamaan.


Tora kembali kedalam rumahnya. Ia minum sup pengar yang dibuat Darko dan menyantap makan siangnya.


***** 


Sherly menyantap makan siang bersama Mega, tapi ia kembali memikirkan Tora Sin. Pria itu apakah sudah makan? pikir Sherly.


"Kau makan sambil melamun Sher, apa yang kau pikirkan?" tanya Mega.


"Tidak ada Meg, aku sedang menikmati makanku." jawab Sherly.


"Kau pikir aku anak kecil yang bisa kau bodohi?" ujar Mega.


"Baiklah nona Mega, aku memikirkan pak polisi itu, ia masih terluka, apa ia bisa makan sekarang. Dan tadi pagi kondisinya sangat berantakan karena mabuk." ujar Sherly.


"Akhirnya kau jujur juga, kau benar benar memikirkannya. Apa kau mulai jatuh hati?" tanya Mega.


"Omong kosong, aku hanya kasihan padanya. Itu sangat mengganggu pikiranku." jawab Sherly.

__ADS_1


"Apa seorang polisi juga boleh mabuk?" tanya Mega lagi.


"Aku pikir tidak, tapi ia sedang di luar tugas. Lagian ia juga mabuk di rumah sendiri, tak mengganggu ketenangan orang lain." jawab Sherly.


Mega terkekeh. "Kau sedang membelanya Sher. Akuilah dari hatimu, kalau kau sudah mulai jatuh hati." goda Mega lagi.


"Kau terus menggodaku Meg. Entahlah mengapa aku seperti ini. Saat bersama Ferdinan, aku tak merasakan kekhawatiran Meg. Aku hanya menganggap Ferdinan pria yang bisa melindungiku." ujar Sherly.


"Aku berharap pria baik bersamamu Sher." kata Mega.


"Amien." jawab Sherly.


Keduanya menyelesaikan makan siangnya dan setelah itu melanjutkan pekerjaannya.


 *****


Tora sangat gelisah menanti kepulangan Sherly, ia ingin meminta maaf dan meminta Sherly agar kembali ke rumahnya. Ia tidak ingin anak buah Ferdinan melakukan perbuatan yang tidak diinginkan Tora terhadap Sherly. Alasan lain adalah agar Tora bisa mendekati wanita itu. Tora tak ingin menunggu lebih lama lagi.


Sudah jam 5 sore, wanita itu belum juga kembali. Tora semakin gelisah. Ia baru mengingat kartu nama Sherly. Disana ada nomor ponselnya. Tora segera mengambil ponselnya dan mencari kartu nama itu di laci kamar kerjanya. Suara ponsel berdering disana menunggu jawaban.


"Halo siapa ini?" tanya Sherly.


"Ya Tuhan syukurlah kau mengangkatnya." ujar Tora.


"Mengapa kau belum kembali ke rumah? Aku mengkhawatirkanmu." jawab Tora.


Jantung Sherly berdetak kencang. "Aku terkena macet, mungkin setengah jam lagi sampai. Apa kakak mau makan sesuatu? Biar aku belikan." tanya Sherly.


"Tidak, aku hanya menunggumu." ujar Tora.


"Aku sebentar lagi sampai kak, tapi maaf aku tak bisa di rumahmu." ujar Sherly.


"Omong kosong Sher, kau harus tetap di bawah perlindunganku. Aku akan menjemputmu jika kau tidak ke rumahku." ancam Tora sambil mematikan ponselnya.


Tora melemparkan ponselnya dengan kesal. Sherly sangat keras kepala dan semua itu salahnya sendiri.


 *****


Sherly menghela nafasnya. Pria itu seenaknya saja memberi perintah. Sherly kembali fokus pada jalan menuju rumahnya.


Setengah jam kemudian, Sherly sampai di rumahnya. Ia segera naik keatas dan mengambil pakaian secukupnya. Kali ini ia harus mengikuti perintah Tora. Mega juga menyarankan sampai keadaannya aman, ia harus tetap berada bersama Tora.


Suara langkah kaki membuatnya takut. Langkah itu semakin mendekatinya.

__ADS_1


"Kau memang ceroboh Sher, kau tak menutup pintu gerbang dan rumahmu." bentak Tora.


"Ya Tuhan kak, kau menakutiku." jawab Sherly.


"Jika bukan aku bagaimana?" tanya Tora dengan marah. "Aku sudah minta padamu, kalau sampai langsung ke rumahku." bentaknya.


"Aku akan mengikuti perintahmu pak Inspektur. Aku hanya mengambil beberapa pakaian yang aku butuhkan selama di rumahmu." jawab Sherly.


"Itu bisa dilakukan nanti setelah kau bersamaku." bentak Tora lagi.


Sherly kehabisan kesabarannya. Ia berkacak pinggang. "Sebenarnya kakak kenapa? Mengapa mulai mengatur hidupku. Kita baru kenal kak. Aku memang butuh perlindungan, tapi tidak harus diperlakukan seperti anak kecil." teriak Sherly.


"Bagimu mungkin kita baru kenal. Tapi bagiku sudah lebih dari 10 tahun." ujar Tora.


Sherly terkejut dengan kata kata Tora. "Apa maksudmu kak?" tanyanya.


"Sudahlah ada saatnya aku menjelaskannya. Kau sudah selesai kan? Sekarang ikut denganku kembali ke rumah." perintah Tora.


Sherly dengan kesal membawa tasnya dan mendahului Tora. Saat keluar dari gerbang, ia terkejut dengan teriakan Tora.


"Sher, awas..." teriak Tora sambil menarik Sherly dan terjatuh di pinggir jalan. Tora mengerang saat tangannya tertimpa tubuh Sherly.


"Ya Tuhan kak." Sherly segera bangun dan mengangkat tubuh Tora. Darah kembali menetes dari tangannya. Sherly bergetar dan segera menghubungi Ario. Ario diam diam memberikan nomor ponselnya agar mudah dihubungi jika sesuatu terjadi.


"Halo pak, aku harus bagaimana? tangan kak Tora berdarah lagi." ujar Sherly histeris.


Ario tidak menjawabnya, ponselnya justru mati.


"Kau jangan menangis Sher, aku tidak apa apa." ujar Tora.


Sherly membawa Tora masuk ke rumah. Sherly mencari kain perban dan mulai membersihkan luka Tora sambil menangis.


"Jangan menangis. Itu perintahku Sher." bentak Tora.


Alih alih diam, Sherly justru semakin menangis. Tora memeluknya. "Maafkan aku kak." ujar Sherly.


"Itu bukan salahmu Sher, tenanglah." Tora mengelus punggung Sherly.


Sherly mengangguk dan mulai tenang di pelukan Tora.


 *****


Happy Reading All...😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2