Diakah Jodohku 1

Diakah Jodohku 1
BAB 6


__ADS_3

Tora keluar menghampiri wanita itu setelah ia memakai celananya. Beruntung ia bisa memakainya karena tak perlu mengangkat tangannya yang terluka. Tora kembali terpesona saat ia melihat Sherly tertidur di sofanya. Bagaimana bisa wanita itu tertidur di rumah orang lain. Untung saja ini rumah Tora, jika ia melakukan itu di rumah pria lain, ingin rasanya ia membunuhnya karena takut dan cemburu.


Tora mendekatinya dan memandangnya sebelum ia membangunkannya. Seperti apapun posisi Sherly, wajahnya tetap cantik. Tora menghela nafasnya lagi.


"Nona...bangunlah..." bisik Tora.


Sherly terkesiap. "Ya Tuhan...maaf...aku tiba tiba mengantuk." ujarnya.


"Tidak apa apa, hanya saja jangan lakukan ini jika kau bertamu ditempat lain." ujar Tora mulai posesif. "Aku hanya takut orang lain bisa berbuat jahat Sherly. Bantulah aku memakai bajuku." perintahnya. Ia lupa jika ia bukan komandan di depan Sherly.


"Aku tidak akan melakukannya ditempat lain. Karena ini pertama kali aku mendatangi rumah orang lain." jawab Sherly, sambil membantu Tora memakai pakaiannya. "Dan kau meminta bantuanku, seperti memberi perintah pada anak buahmu." Sherly terkekeh. "Apa seorang Inspektur selalu seperti itu?" ejek Sherly.


"Aku minta maaf Sherly, aku berlebihan. Terima kasih, seharusnya itu yang aku lakukan." jawab Tora, entah mengapa ia berubah menjadi keras tadi. Kemungkinan karena rasa takutnya jika Sherly tertidur di rumah pria lain, padahal ia tinggal bersama pria pun sudah.


Sherly memperhatikan raut wajah Tora yang tiba tiba keras. "Apa kau memikirkan sesuatu yang membuatmu marah?" tanya Sherly.


"Tidak, mengapa kau bertanya seperti itu?" ujar Tora.


"Karena wajahmu mengatakannya." jawab Sherly.


"Apa kau tidak ingin mandi? Mandilah disini." pinta Tora.


Sherly menggeleng. "Rumahku di depan untuk apa aku mandi di rumah pria lain. Jika kau perlu bantuan kau bisa menghubungiku." Sherly memberi Tora kartu namanya. "Aku pulang dulu ya, hari semakin gelap." ujarnya.


"Tunggu Sher. Apa kau bisa memberiku makan malam ini? Aku tak bisa memasak malam ini, tanganku masih perlu beristirahat." pinta Tora.


Sherly tiba tiba tertawa melihat tingkah seorang Inspektur ini. "Tentu saja, aku akan kembali setelah membersihkan diri dan memasak." Sherly meninggalkan rumah Tora.

__ADS_1


Tapi Tora masih membeku. Ia mencoba menyadarkan dirinya, Ya Tuhan tawa wanita itu membuat jantungku berhenti berdetak. gumamnya. Tora menghempaskan tubuhnya di sofa.


 *****


Sherly membersihkan dirinya dan memasak seadanya di rumah. Ia kembali tersenyum mengingat tingkah Tora Sin. Pria itu terlihat dewasa tapi masih merengek seperti anak anak. Entah mengapa Sherly sangat senang berteman dengannya. Mega benar, pria itu masih lajang. Tapi ia sedang mendekati seoarang wanita. Beruntung sekali wanita itu jika bisa mendapatkan pria tampan seperti Tora Sin.


Sherly kembali mengingat saat ia membuka dan memakaikan pakaiannya tadi. Jantungnya berpacu dengan cepat. Persis pertama kali bertemu dengan Ferdinan. Tapi hasratnya kali ini lebih menggebu gebu. Sherly tidak memahami apa yang terjadi pada dirinya. Ia juga melihat beberapa bekas luka tembak di tubuh pria tersebut. Sangat mengerikan. Sherly tiba tiba bergidik ngeri.


Sherly membawa nasi dan lauk pauk menuju rumah Tora, ini kedua kalinya pria mencicipi masakannya. Jika Ferdinan tidak menyukai masakannya karena pedas, ia tidak tahu bagaimana dengan Tora. Sherly kembali mengetuk pintu tetangganya.


"Masuklah Sher, pintu tidak aku kunci." Teriak Tora dari dalam.


"Bagaimana kau bisa tahu jika itu aku?" tanya Sherly setelah ia masuk kedalam.


"Siapa lagi yang akan bertamu kerumahku pada jam makan malam. Kau kan sudah berjanji akan menghampiriku." jawab Tora. Ia berbohong, karena Tora dari tadi mengintip lewat jendela dan menanti wanita itu.


"Ini masakanku sendiri, jika tidak enak dan kau tidak suka, jangan kau makan. Aku takut kau sakit perut." ujar Sherly sambil membongkar kotak makannya di meja.


Tak terasa air mata Sherly mengalir di pipinya. Ia sangat senang melihat masakannya dihargai orang lain. Tora mendongak dan terkejut melihat Sherly menangis.


"Ada apa Sher? Apa aku berbuat salah dan menyakitimu?" tanya Tora sambil mendekati Sherly.


Sherly menggeleng. "Apa masakanku enak, kau menghabiskannya tanpa menyisakan apapun." tanya Sherly.


"Ini sangat lezat Sher. Aku ingin sering sering memakannya, jika kau bersedia memasaknya buatku." ujar Tora.


Sherly tak bisa menahan tangisnya lagi. Tora bingung dan memberanikan diri mendekap wanita itu. Sherly tidak menolak pelukan Tora. "Kau kenapa Sher, ceritakan padaku. Kau malah membuatku takut." kata Tora Sambil mengelus punggungnya dengan satu tangan.

__ADS_1


"Aku hanya teringat pada seseorang yang tidak pernah mau memakan masakanku dengan alasan pedas. Aku sering membuatkan makanan untuknya, bahkan hanya satu cabai yang aku beri pada masakanku. Tapi tetap saja alasannya sama, dan ia selalu membuangnya." Sherly tertawa miris di sela tangisnya.


Tora membelalakkan matanya. "Dasar orang bodoh, ini masakan yang sangat lezat yang pernah aku makan Sher. Siapa orang itu, aku akan menembak kepalanya." ujar Tora kesal.


Sherly tertawa. "Ia sudah mati dengan sendirinya, aku beruntung bisa lepas dari pria itu kak. Terima kasih kau telah menghargai masakanku." jawabnya.


"Aku yang berterima kasih Sher. Bila tidak keberatan, sering seringlah kau memasak untukku tapi disini. Aku akan melengkapi bahan bahannya di dapur. Dan aku akan memberikan kunci rumah ini padamu." pinta Tora.


Sherly membelalakkan matanya. "Lalu bagaimana jika kekasihmu tahu?" tanya Sherly terkejut.


Tora terkekeh. "Ia akan senang pasti." goda Tora.


Sherly justru cemberut. "Aku bukan pembantu kalian." jawabnya.


"Ya Tuhan, maafkan aku Sher. Aku tak berniat menjadikanmu pembantuku. Tapi aku benar benar menyukai masakanmu. Satu hal lagi, aku tidak memiliki kekasih. Aku hanya sedang mendekatinya." ujar Tora. "Sekali lagi terima kasih buat makanannya." sambungnya.


"Baiklah pak Inspektur yang terhormat, aku akan mempertimbangkannya. Hari semakin larut, waktunya aku pulang ke rumah." ujar Sherly.


"Tak bisakah kau tetap disini?" goda Tora.


Hanya senyuman dari Sherly sebagai jawaban. "Selamat malam kak." kata Sherly sambil melangkah keluar.


Tora merasakan kehilangan sesuatu saat Sherly meninggalkannya. Ingin sekali ia bisa tinggal bersama wanita itu seperti pria yang pernah bersamanya.


Ya Tuhan, jadi selama ini pria itu menyiksa Sherly. Sialan, jika aku bertemu dengannya akan aku rontokkan giginya. gumamnya lalu ia beranjak tidur ke kamarnya.


Tora perlahan lahan memejamkan matanya, walaupun ia masih memikirkan Sherly saat wanita itu menangis. Ia ikut merasakan kesedihan yang ada di hati Sherly.

__ADS_1


 *****


Happy Reading All.. 😘😘😘


__ADS_2