
Rumah tangga Tora dan Sherly sangat bahagia, 4 bulan sudah mereka menikah. Tora selalu menghadapi penjahat di sekitaran Tulang Bawang. Setiap hari Sherly akan mengeluarkan omelan omelannya pada Tora. Wanita itu semakin cerewet dari biasanya. Dan terkadang Sherly tiba tiba marah tanpa sebab membuat Tora semakin bingung menghadapinya.
"Aku ingin kau pulang lebih awal." teriak Sherly.
"Tidak bisa sayang, kau tahu tugasku sampai jam 4 pagi kan. Lalu aku harus kembali ke kantorku sampai jam 8 pagi. Baru aku bisa kembali ke rumah." ujar Tora.
"Kalau begitu tak usah pulang sekalian. Aku akan kembali ke rumah orang tuaku saja. Apa bedanya menikah dengan tidak." bentak Sherly.
"Ya Tuhan kau kenapa sayang, tak biasanya kau begini. Kau sedang datang bulan kah?" tanya Tora, karena ia tahu wanita sangat sensitif saat datang bulan.
"Aku sudah tidak datang bulan selama 4 bulan, jadi tidak ada hubungannya dengan aku sensitif atau tidak. Yang aku inginkan kau ada disampingku sebelum jam tengah malam. Aku ingin tidur memelukmu." ujar Sherly, ia tidak sadar bahwa jika tidak datang bulan selama itu bisa jadi ia sedang mengandung.
Tora mendekati istrinya dan memeluknya. "Kita ke dokter ya sayang, kau sudah 4 bulan tidak datang bulan dan kau akhir akhir ini suka sekali marah marah dan meminta sesuatu yang aneh." ujar Tora.
"Kau pikir aku gila, aku tidak mau." ujar Sherly kesal.
Tora menariknya dan terkekeh. "Apa kau tak mengerti jika suami istri berhubungan intim akan menghasilkan apa?" tanya Tora.
"Tentu saja keturunan." jawab Sherly. Lalu ia baru tersadar dan menutup mulutnya dengan tangan.
Tora kembali terkekeh melihat kepolosan istrinya. Tora mengelus perut Sherly yang mulai membesar tanpa disadarinya. "Kemungkinan ada Tora dan Sherly junior disini." ujarnya. "Sekarang aku baru mengerti mengapa mood mu berubah ubah. Aku pikir kau mulai gemuk karena banyak makan." sambung Tora.
Tiba tiba kepala Sherly berdenyut dan mual saat mencium parfum Tora. Ia segera ke wastafel dan memuntahkan isi perutnya. Tora kebingungan. "Sayang kau tidak apa apa kan?" tanyanya.
"Jangan dekati aku kak, bau parfum mu membuatku mual." teriak Sherly.
Tora mundur lalu ia mencium tubuhnya. "Ya Tuhan aku akan memanggil dokter Jack kemari." Tora meninggalkan Sherly lalu menghubungi Jack.
*****
Dua jam kemudian, Jack sudah selesai memeriksa keadaan Sherly.
"Selamat pak Inspektur anda akan menjadi seorang ayah, dan kabar yang lebih baik adalah aku mendengar 2 detak jantung di perut istrimu. Artinya kemungkinan kau akan menjadi ayah dari 2 anak sekaligus." ujar Jack.
"Maksudmu Sherly mengandung anak kembar?" tanya Tora tak percaya.
__ADS_1
Jack mengangguk. Tora menghambur kedalam lalu memeluk istrinya. "Terima kasih sayang." ujar Tora.
Sherly kembali mual saat mencium tubuh Tora lagi. Dengan sigap Tora membawanya ke kamar mandi. "Kau menjauhlah dariku kak." ujar Sherly.
Jack tertawa terbahak bahak saat melihat ekspresi Tora. "Dasar Inspektur bodoh, kau mandilah dan berganti pakaian. Jangan gunakan parfum. Istrimu sangat sensitif pada bau parfum mu." ujarnya.
Tora menendang kaki Jack. "Mengapa kau tak katakan daritadi." kata Tora kesal.
"Sialan, bukannya kau berterima kasih." ujar Jack. "Aku pamit, jangan lupa minum obat yang teratur dan jaga kandunganmu nyonya." sambungnya.
"Terima kasih Jack." ujar Tora, ia mengantarkan Jack sampai depan pintu lalu segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.
*****
Beberapa menit kemudian Tora kembali tanpa memakai parfum apapun. Ia mendekati Sherly kembali.
"Sayang, apa aku boleh mendekat sekarang?" tanya Tora.
"Kau tak pakai parfum itu lagi kan?" tanya Sherly.
Sherly memeluk tubuh suaminya. "Maafkan aku berkali kali mengusirmu. Tapi tiba tiba bau parfummu sangat tidak aku sukai. Aneh, padahal tadinya aku biasa saja dengan itu." ujarnya.
Tora menggeleng. "Akulah yang bodoh tidak peka padamu. Terima kasih kau telah mengandung anak anakku. Aku akan menjagamu sayang, dan aku akan mengganti jam kerjaku selama kau hamil. Aku tak akan ada di shift malam lagi. Aku akan menyerahkan tugas patroli pada sersan Ario." ujar Tora.
Wajah Sherly berseri seri. "Bisakah itu?" tanyanya.
"Tentu saja, aku seorang Inspektur sayang." jawab Tora.
Sherly memeluknya kembali. "Terima kasih kak, aku akan menjaga anak anak kita sampai mereka lahir nanti." jawabnya.
"Aku mencintaimu istriku sayang, terima kasih kau selalu memberiku kejutan yang sangat indah mulai dari pernikahan kita sampai sekarang." ujar Tora.
"Aku juga mencintaimu suamiku sayang." jawab Sherly.
"Beristirahatlah, jangan membuat tubuhmu lelah dan membahayakan anak anak kita. Aku harus berangkat sekarang. Aku janji akan cepat pulang malam ini." ujar Tora.
__ADS_1
Sherly mengangguk. "Aku ingin memelukmu malam ini, bisakah kau pulang nanti." tanyanya.
"Akan aku usahakan sayang." jawab Tora sambil mencium kening istrinya.
Sebelum berangkat Tora menyiapkan makanan dan obat buat istrinya. "Jika kau sudah baikan, jangan lupa makan dan minum obat ini ya sayang, aku taruh di meja. Nanti aku akan membelikan susu ibu hamil juga untukmu, aku ingin kau dan anak anak kita sehat terus." pesan Tora.
Sherly mengangguk dan membiarkan Tora meninggalkannya untuk bertugas.
*****
Kabar bahagia ini cepat menyebar di markas besar tempat Tora bertugas. Hampir semua anak buahnya mengucapkan selamat atas keberhasilan Tora memiliki keturunan.
"Aku ikut bahagia pak komandan." ujar Ario.
"Terima kasih sersan." jawab Tora. "Aku terkejut saat istriku tidak menyadari kehamilannya. Aku benar benar menikahi wanita baik baik yang sangat polos." sambungnya.
"Aku sudah tahu jika nyonya Sherly wanita baik baik pak, wanita itu selalu saja merona jika sedang digoda. Wanita yang berpengalaman tak akan melakukannya." ujar Ario.
"Aku mendapatkan berlian diantara pasir sersan, penantian dan kesabaranku dijawab dengan sangat indah oleh Tuhan." ujar Tora lagi. "Aku akan menyerahkan tugas lapangan padamu sampai Sherly melahirkan. Jika tidak ia akan marah dan kesal setiap hari. Aku sangat bingung dengan perubahan sikapnya." sambungnya.
"Itulah wanita hamil, bawaan bayi sangat berbeda beda. Dan aku ikut senang kau akan mendapatkan baby twins pak komandan." kata Ario.
"Terima kasih sersan, aku akan menemui pak komisaris sekarang untuk memberiku izin atas pengalihan tugasku." ujar Tora.
"Semoga berhasil pak." jawab Ario.
Tora meninggalkan Ario dan menemui pak komisaris polisi. Ia berharap bisa menjadi suami yang siaga untuk istrinya yang sedang hamil sekarang. Ia tak ingin selalu membuat Sherly khawatir dan stress, itu akan membahayakan janin yang sedang di kandung istrinya. Tora benar benar ingin menjaga istri dan anaknya sekarang.
*****
Menjelang eps terakhir. Terima kasih atas dukungan kalian selama ini...
Author akan membuat cerita cerita lain yang lebih menarik.
Mohon terus dukung, like n komen ya...😘😘😘
__ADS_1