
"rey" panggil frans sambil menepuk pundak rey
"ke... kenapa" ucap rey akhirnya
"udah makanya kalau emang lo suka mah seharusnya lo jangan cuek" ucap frans sambil masih memegang pundak rey
"apaan sih lo" balas rey sambil melepaskan tangan frans
"lo tau kan nadya itu bukan cewek yang enggak populer, tapi dia enggak peduli sama cowok manapun kecuali lo" ucap frans
"udah ngomong nya" balas rey dan meninggalkan frans sendiri
"eh tunggu gue kan mau cari makan" ucap frans sambil mengejar rey
sepanjang jalan aku hanya diam saja tak mengucapkan apapun, dan dimas pun juga diam hanya terkadang dimas melirikku, aku yang mulai kesal dengan lirikan dimas akhirnya memutuskan untuk bertanya
"kenapa sih dim" tanyaku
"enggak gue seneng aja lo mau ikut gue" balas dimas
"ih bukan mau ikut tau tapi lo paksa ikut" balasku
__ADS_1
"iya iya gue salah jadi udah dong jangan ngambek lagi" ucap dimas
"yaudah mau kemana sekarang "tanyaku
"kan mau anter lo pulang" ucap dimas cepat
"enggak usah turunin nadya di halte bus depan aja" balas ku
"jangan dong cewek cantik kok pergi sendiri nanti kalau ada orang jahat gimana" ucap dimas menggoda
"nadya bingung deh kenapa lo kayak coba deketin nadya" ucapku
dimas tak menjawab pertanyaan ku dan hanya tersenyum kepada ku
"iya gue tau kok" jawab dimas tetap tersenyum
"tapi enggak salah kan kalau kita deket toh lo juga enggak punya pacar" terus dimas
"tapi kan tadi udah nadya jelasin" ucapku
"iya iya gue ngerti kok, tapi kan lo enggak bisa berhentiin perasaan orang, seharusnya lo tau kan" balas dimas
__ADS_1
aku terdiam setelah dimas mengucapkan itu, karena aku tau jelas bagaimana rasanya di tolak, dan jika aku melarang dimas apa bedanya aku dengan kak rey, aku seperti melihat sosok ku pada diri dimas mencintai tapi tak bisa menggapainya
"yaudah rumah nadya di depan belok kiri enggak jauh dari situ rumah nadya udah keliatan kok" jelasku
"oke" balas dimas
dimas tetap tenang dan santai menghadapi ku, aku bingung kenapa orang sebaik dimas tak mencari wanita yang juga tertarik padanya, sedangkan jika di lihat dimas bukan orang yang jelek bahkan dia juga pintar dan juga mudah bergaul, kenapa aku enggak bisa suka sama dimas.
fikiran ku mulai kacau, aku bingung dan aku teringat bahwa tadi aku berpapasan dengan kak rey, apa yang akan dia fikirkan melihatku naik mobil laki-laki lain, apa penilaian buruknya tentang ku akan semakin bertambah, ataukan bagaimana
"nad yang mana rumah lo" ucap dimas
"hah....iya dim" ucapku kaget
"rumah lo yang mana" ulang dimas
"oh yang itu" balasku sambil menunjuk rumah dengan pagar hitam
dimas menghentikan mobilnya tepat di depan rumah ku
"thanks ya dim" ucapku kemudian turun
__ADS_1
dimas hanya tersenyum ke arah ku dan menjalankan mobilnya kembali meninggalkan tempat dimana aku berdiri