
Sore yang damai, angin bertiup sepoi-sepoi.
"Zura!"
Aku tersentak.
Segera aku menoleh ke arah suara yang memanggil namaku. Tatkala aku menoleh, aku bertatapan dengan sepasang mata yang menatapku dengan tajam.
"Nah! Surat putus antara kita."
Berderau darahku mendengar lafaz dari mulut Airi. Lidahku kelu untuk berkata-kata. Air mata yang sengaja ku tahan daripada luruh, bergenang di kelopak mata.
Aku mengambil surat tersebut dan terus berlalu. Langkah demi langkah, pasir pantai itu ku pijak. Sewaktu aku ingin melintasi jalan, sebuah mobil berhenti betul-betul di hadapanku, seorang perempuan berambut panjang, berpakaian ala barat dan becermin mata hitam menjengah dari cermin mobil yang memang sudah terbuka.
"Hai!"
Aku tersentak buat sekian kalinya.
Amiza kelihatan tersenyum sinis.
"Selamat tinggal cinta!" ucap Amiza bernada menyindir.
Hatiku semakin terasa panas membara. Mengapa mesti aku bertemu dengannya? Aku tergaman. Mulutku bagaikan terkunci untuk membalas kata-kata yang penuh berduri itu. Aku hanya mampu menunduk dan langkah kuteruskan tanpa menoleh lagi.
"Nanti dulu, Zura!" Panggil Amiza lantang.
Aku tidak menghiraukan panggilannya tersebut malah langkah sengaja ku percepatkan. Lantas mobil yang dibawa oleh Amiza meluncur laju mengejar langkahku. Tiba di satu persimpangan...
BANGGGGG!!!!!!!
__ADS_1
Aku terguling dan seluruh badanku terasa tidak terdaya lagi. Pandanganku terasa kabur dan gelap.
Ketenangan masih gagal kutemui saat ini.
"Doktok, megapa saya disini?" tanya ku sewaktu aku terbangun dari lena dan melihat alam sekeliling yang berbeza daripada hari-hariku yang lalu. Seketika pula kepalaku terasa berat untuk di angkat. Tanganku berbalut dan kakiku tergantung di hujung ranjang.
"Kamu kecelakaan, Zura," jelas dokter muda yang tertera perkataan Rashdan pada tanda nama di uniform doktoknya.
Aku kaget dan coba mengingat kembali ke mana aku pergi sebelum kejadian ini terjadi. Ah! Di mana... aku masih menguras ingatan untuk kepastian. Oh ya! Kemarin malam aku ke pantai untuk menenangkan fikiran. Kemudian aku ketemu Airi. Setelahnya itu dengan Amira pula.
"Bersabarlah, Zura. Orang yang melanggar kamu berhasil melarikan diri," jelas Doktor Rashdan sambil mengecek buku rekod di tangannya.
Aku terdiam seketika mendengar penjelasan Doktor Rashdan.
Setelah mengecek buku rekod tersebut, Doktor Rashdan tidak terus berlalu. Seketika wajah Zura ditatap seperti orang dalam kebingungan.
Aku hanya mampu mengangguk. Entah apa lagi yang akan ditanya oleh doktor muda itu.
"Kamu ni...tidak ada keluargakah di sini?" soal Doktor Rashdan ingin kepastian.
Aku tergamam mendengar soalan yang tidak pernah kuduga itu. Aku termenung lagi. Haruskah aku menjawab soalan itu dengan jujur atau di rahsiakan saja?
"Maafkan saya, Zura. Saya tidak bermaksud untuk mengeruhkan keadaan. Saya cuma inginkan kepastian saja karna sejak kamu dimasukkan di rumah sakit semalam, saya tidak melihat ada yang datang melawat. Apa kamu bukan orang yang berasal dari sini?"
Hampir teresak aku mendengar penjelasan Doktor Rashdan. Aku sedih mengingat nasib diriku. Apatah lagi di saat aku terlantar begini.
"Doktor, memang saya tidak mempunyai keluarga di sini. Di sini saya hanya tinggal bersama ibu tiriku. Ibu tiriku selalu sibuk. Mungkin dia tidak berkesempatan untuk datang menjengukku." terangku dalam nada perlahan.
Aku tertunduk setelah memberi penjelasan. Sesungguhnya aku malu untuk membongkarkan perit jerih yang aku lalui selama ini. Setelah muka kuangkat、 aku melihat Doktor Rashdan menatap simpati ke arahku. Biar seberat mana pun simpatinya tertumpah pada diriku namun berat lagi penderitaan yang terpaksa aku pikul dalam perjalan hidup yang aku lalui sehari-hari.
__ADS_1
"Saya simpati dengan kamu Zura. Ayah kamu bagaimana?" tanya Doktor Rashdan lagi.
"Ayah juga sibuk. Pulang rumah hanya sebulan sekali. Maklumlah kerja di pulau," jawabku sambil melepaskan satu keluhan yang berat.
Setelah melepaskan satu pertiga daripada apa yang terbuku di hati, persaanku mulai merasa bersalah. Mengapa mesti aku ceritakan perihal kejerihan yang sering bertandang ini? Aku menjadi sebak tiba-tiba . Aku berusaha tidak mau berkongsi duka ini dengan orang lain. Biarlah aku bersama sekeping hati dan persaan ini saja yang menanggungnya. Dari dulu lagi aku sudah berjanji pada diri sendiri bahwa aku akan coba merawat sendiri parah jiwa yang berdarah ini.
"Saya mengerti perasaan kamu. Tabahkan hati mu menghadapi cabaran dan rintangan hidup ini. Tinggal bersama ibu tiri tidak semanis tinggal bersama ibu kandung sendiri," pujuk Doktor Rashdan sebelum meninggalkan ruangan.
Aku sudah bosan dengan nasihat begitu. Apa yang pasti, hatiku ini tidak mungkin dapat di alami oleh insan-insan yang tidak mengecapi situasi seperti yang aku alami ini.
Dalam sepi yang datang mengunjungi aku mulai merasa bosan. Hendak berjalan-jalan di luar sana, kakiku tidak bisa di gerakkan. Ingin berbual-bual untuk menghilangkan keresahan, tiada siapa pula yang ada di sisi. Segera aku teringat surat yang aku terima semalam sebelum aku kecelakaan. Beg tangan berwarna hitam yang berada di sisi segera kuambil.
Aku masih menanti cahaya menjelma menyinari hari-hariku.
Surat bersampul pink kubuka lagi dan kutatap untuk kedua kalinya.
....*Zura, lupakanlah semua kenangan yang pernah tercipta antara kita. Selama lima tahun kita berpacaran, aku rupa-rupanya membohongi persaanku sendiri. Sememangnya kita tidak layak untuk bersama*...
Aku tidak dapat untuk meneruskan pembacaan. Hatiku yang terhiris semakin dirobek-robek. Air mata yang mula turun dengan kesedihan segera kusapu.
Esakan yang hebat mengoncang perasaan, tidak mampu kuredahkan.
Surat yang terisi duri itu segera kujadikan gumpalan kertas. Bersama sebuah kepiluan, ingatan terhadap perkenalan lima tahun yang lalu cuba kubuang biarpun aku tahu bukan mudah untuk aku melakukannya. Andai dapat kubuat saraf ingatan untuk menghapuskan kelukaan ini, aku sanggup tetapi segala-galanya adalah mustahil untuk dilaksanakan.
bersambung
__ADS_1